
"Jangan ambil apapun dari dia atau kamu berurusan dengan saya?!"
Suara gertakan tanpa candaan itu terdengar. Tatapannya begitu mengintimidasi. Kini kalung itu telah berpindah tangan. Sedangkan Ida telah terimindasi oleh tatapan mengerikan itu. Beberapa kerutan di sudut–sudut wajah tidak mengurangi keganasan tatapan itu.
Edi merangkul tubuh Dela dari samping. Ia membelai lembut rambut Dela. Sedangkan Dela masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
"Tenang Ida, jangan terpengaruh!" ujarnya dalam benak Ida yang tidak mau terintimidasi.
"Ehem ..." Ida berdeham untuk mengurangi nyalinya yang menciut.
"Siapa Anda?! Apa urusannya dengan Anda? Anda tidak perlu ikut campur dalam hal ini!"
Ida menatap mata itu balik dengan tatapan yang ia buat segarang mungkin. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya. Padahal dilihat dari gerak geriknya saja usaha Ida sudah gagal. Sebelah tangan Ida yang menenteng tas terlihat gemetar. Bukan keciutan hati yang Ida lihat namun malah senyuman miring yang Ida dapatkan.
"Saya? Ini jelas urusan saya. Saya Papinya dan dia anak saya. Urusan Dela urusan saya. Dan Anda, berani–beraninya Anda merundung anak saya!" ucap Edi marah.
Setelah kesehatannya mulai pulih, Edi memutuskan untuk pergi menemui anaknya. Ia tidak ingin hidupnya semakin tidak tenang lantaran mengkhawatirkan anaknya itu. Tidak bisa dipungkiri, ia memang menyayangi anaknya itu meski perbuatan Dela terbilang kurang ajar padanya.
"A–Anda Papinya? Bagaimana mungkin?"
Ida tertawa sinis. Bagaimana mungkin seorang ayah membiarkan anaknya sendiri hidup susah seperti itu. Ida tidak percaya dengan ucapan Edi. Yang terjadi adalah pikiran picik mulai melintas di pikirannya. Ida bersidekap di depan dadanya. Lirikan matanya merendahkan derajat Dela.
"Saya lebih percaya kalau Anda ini Sugar Daddy Dela."
"Kurang ajar?! Anda tidak patut menjadi istri ketua RW. Jika istri RW bisa saya pecat, Anda sudah saya pecat dan saya masukan ke dalam daftar hitam!" ujar Edi dengan gurat marah yang terlihat di kerutan wajahnya. Ternyata selama ini Dela menderita karena omongan tetangga julid.
"Lakukan saja jika Anda mampu!!" ujar Ida dengan nada mengejek.
"Ibuu!!!
Ida menoleh ke sumber suara. Ia melihat Gati, suaminya sudah berkacak pinggang. Gatu menghampirinya dengan mata yang melotot ke arahnya. Sungguh Gati sangat malu dengan sikap Ida yang seperti itu.
Sedangkan Ida yang melihat suaminya datang dengan aura yang sangat mengerikan, nyalinya benar benar menciut. Bahkan ia menatap Gati dengan tatapan penuh tanya. Ia bingung kenapa suaminya semarah itu.
🍂
Kini mereka sudah berada di rumah Gati. Mereka berkumpul di sana tak terkecuali Edi dan Dela.
"Duduk!" titah Gati dengan nada yang rendah.
Satu kata itu mampu membuat Ida patuh. Ida duduk walau dengan keraguan. Ida menundukkan kepalanya dalam–dalam. Jari jemari tangan Dela saling meremas. Ia sadar jika nasibnya kini diambang jurang. Ia menjerit dalam hati mengkhawatirkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Gati menghela napas kasar.
"Buk, bapak kecewa dengan Ibu."
Gati menggelengkan kepalanya, menatap istrinya kecewa. Sebelumnya Edi memang menemuinya untuk menjelaskan siapa dia sebenarnya. Dan untuk mencari Dela, Gati menunjukkan keberadaan Dela lantaran Gati melihat Dela di jalan itu sepulangnya dari kantor kepala desa setempat. Tidak ia sangka ia malah mendapatkan istrinya melakukan perbuatan tercela.
"Bisa–bisanya Ibu menuduh Dela seenaknya saja. Bahkan memperlakukan Dela seperti itu. Bapak sebagai ketua RW sangat malu dengan kelakuan Ibu. Mau ditaruh di mana muka Bapak?! Ketua rukun warga namun ternyata istrinya sendiri yang membuat kericuhan. Tindakan Ibu sudah mencoreng besar muka bapak!"
Gati menunjuk tepat di depan wajah istrinya itu. Kemarahannya sudah sampai di ubun–ubun. Ia tidak tahu bagaimana lagi caranya agar istrinya itu berubah. Sedangkan Ida masih menunduk tanpa memberikan reaksi apapun.
"Minta maaf dengan Dela!" putus Gati kemudian.
"Pak ...!" Ida mendongak, memprotes perintah Gati. Ia tidak sudi meminta maaf pada Dela yang sudah masuk dalam daftar orang yang paling ia musuhi.
"Apa?! Ibu masih belum sadar kesalahan Ibu? Minta maaf, atau lihat saja nanti."
Titah Gati sudah paten. Gati mengancam Ida. Hanya itu cara untuk membuat istrinya itu menurut dan melakukan apa yang ia mau.
Ida bersungut–sungut. Ingin Ida memberontak, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ancaman Gati sudah ia ketahui tanpa Gati berbicara. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, uang bulanan pasti tidak akan mengalir sedikitpun. Tamatlah riwayatnya jika ia tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan hedonnya.
"Tidak ... tidak boleh begini. aihhhh tapi masak aku harus minta maaf. Kan Dela yang salah, bukan aku!" rengek Ida dalam hati. Ia masih tidak mau mengakui kesalahannya.
Ida menggerutu kesal. "Iya! Maaf Jeng Dela. Aku hanya bercanda tadi," ujarnya terpaksa.
Kata bercanda terdengar seperti lawakan basi di telinga Dela. Dela berdecih sembari tersenyum sinis.
"Buk!!" bentak Gati.
"Apa Pak? Aku sudah minta maaf kan?!" ujar Ida ketus.
Gati membuang napas kasar.
"Maafkan istri saya Pak, Del. Saya sebagai istri dan ketua RW di sini minta maaf yang sebesar–besarnya pada Bapak dan Dela," ujar Gati tidak enak hati. Kelakuan istrinya memang membuatnya malu.
"Tidak apa," sahut Edi datar. Ia cukup kehilangan respek pada mereka berdua. Namun ia masih menghargai Gati yang mempunyai etika bagus.
"Berapa hutang anak saya. Saya akan melunasinya."
"Dua ratus ribu dikali 5 kali lipat. Satu juta." Ida menengadahkan tangannya.
"Cih ... Dasar emak emak matre! Perihal uang saja mata ijo semua!" gumam Dela dalam batinnya. Ia jijik dengan sikap Ida.
__ADS_1
"Oke" jawab Edi singkat. Ia merogoh sakunya mengambil beberapa lembar uang.
"Ibu!" Gati memukul ringan tangan Ida kata tangan Ida ingin mengambil uang itu. Gati mendorong tangan Edi yang memegang 10 lembar uang itu.
"Sakit Pak. Apa sih, Pak? Itu kan hutang Dela. Aku hanya menagihnya," ujar Ida tidak mau kalah.
Gati menatap tajam namun kini Ida mengabaikannya.
"Tidak usah Pak Edi. Itu sebagai permintaan maaf kami. Dela tidak berhutang apapun."
"Bapak ihh!!" Ida mencebikan bibir nya kesal.
"Tidak usah protes! Turuti bapak!"
Edi menghela napas kasar. "Tidak apa. Hutang tetaplah hutang. Ini hutang anak saya. Saya anggap hutang anak saya lunas," ujar Edi agar urusannya di sana cepat usai.
Gati menghela napas. Ia tidak enak hati dengan Edi atas sikap istrinya yang sangat memalukan itu.
"Huftt ... Baik, Pak. Terima kasih."
"Nah gini dong," ujar Ida dengan wajah sumringah.
Seusai itu Edi pergi dari sana bersama dengan Dela. Edi sudah muak dengan drama yang hanya menghabiskan waktunya sia–sia.
🍂
Hai semua
Kakak kakak bisa juga mampir ke novel kakak online Asa di bawah ini
Ketika Takdir Memilih by Shanty Fadillah 🤗
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1