Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Dela Ngidam?


__ADS_3

"Heh!!"


Gaza mengagetkan Dela hingga Dela berjengit kaget lantas memegang dadanya. Ia menatap Gaza dengan garang.


"Ck apaan sih?" ucap Dela sewot. Pasalnya sering kali Gaza mengganggu dirinya yang sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun bahkan Gaza sekalipun.


"Kedip Del, kedip!" titah Gaza. Sedari tadi ia melihat Dela melamun sendirian, entah apa yang dipikirkan, hanya Dela yang tahu.


Dela memutar bola matanya malas. "Gak!" jawabnya singkat. Dela enggan untuk menjawab.


Cukup lama Gaza menatapnya hingga membuat Dela semakin risih.


"Apaan sih?" tanya Dela sekali lagi dengan nada yang lebih ketus.


"Kau yang apaan. Kau kerasukan apa? Perasaan tadi kau tidak kenapa–napa."


Gaza masih saja menatap Dela dengan tatapan heran.


"Tidak usah kepo. Kepo saja kau tuh." Mood Dela semakin hancur. Ingin ia merasakan ketenangan namun Gaza malah menghancurkannya.


"Hih gitu saja ngomel. Ya ya ya ya, bye kalau begitu. Silahkan menikmati tidur malam di luar rumah," putus Gaza sekaligus ancaman. Malam yang semakin larut membuat udara dingin semakin tajam menusuk tulangnya. Lagi pula angin malam mampu mengganggu kesehatan, terutama untuk ibu hamil. Namun Dela tidak menanggapinya.


Gaza berlalu meninggalkan Dela. Sedetik sebelum Gaza mengunci pintu, Dela menahan pintu itu agar tidak tertutup.


"Tunggu dulu! Main nutup pintu saja. Masih ada orang di luar ini."


"Kenapa? Bukankah kau mau tidur di luar?" sindir Gaza. Ia menyimpulkan bahwa keterdiaman Dela itu adalah suatu pernyataan kebenaran.


"Ck siapa yang bilang? Sok tahu sekali Anda," ucap Dela. Dia memang tidak berniat tidur di luar rumah seperti itu, namun Gaza sendiri yang menilainya demikian.


"Aku memang tahu," ujar Gaza.


Dela mencebikkan bibirnya lantas menghela napas kasar hingga ia sendiri lupa jika harus segera masuk.


Gaza mendengkus sebal. "Mau di sana apa mau masuk?" Cukup lama Dela berdiri di depan pintu dengan lamunannya yang menyebalkan untuk dipandang.

__ADS_1


Dela berdecak. Nyatanya pikiran Dela akan kenapa Gea menghampirinya tiba–tiba membuat pikirannya melayang–layang hingga membuatnya seperti orang bodoh di hadapan Gaza.


"Iya–iya, sabarin dikit kenapa."


Dela beranjak masuk, berjalan begitu saja tanpa berniat menutup pintu. Gaza masih ada di sana. Ia yakin jika Gaza tidak akan meninggalkan pintu itu dibiarkan terbuka lebar. Ia masih sayang dengan televisi LED nya meski hanya sebesar 21 inch. Barang itu adalah barang terkecil dan berharga yang ada di sana. Jika ada maling masuk, hilanglah sudah ia tidak memiliki apapun.


Tidak memiliki apapun? Salah. Bukan tidak memiliki apapun. Pada nyatanya untuk membeli apapun ia memiliki cukup banyak uang, bahkan sangat cukup hingga pasti sisa. Namun dia sendiri berniat untuk memiliki apapun di rumah itu dengan uang banyaknya itu. Karena ia memilih, apapun yang ada di rumah itu adalah barang dari hasil jerih payahnya sendiri.


🍂


"Aduh, gimana ini? Aku ingin makan seblak, tapi gimana caranya? Untuk memesan aku tidak punya medianya. Untuk membuat, aku tidak bisa memasaknya."


Tiba–tiba saja di malam itu, hasrat untuk memakan seblak muncul begitu saja. Rasanya ingin, bahkan sangat ingin. Baru kali ini ia seingin itu terhadap sesuatu hal yang sederhana namun berhasil membuatnya tergiur hanya dengan membayangkannya saja.


Dela menghela napas kasar. Ia kebingungan bagaimana caranya ia bisa memakan seblak itu. Untuk beranjak dari tempat tidur saja ia enggan, apa lagi membangunkan Gaza yang kini waktu telah lewat dari tengah malam. Lagi pula dia gengsi jika harus minta Gaza untuk membuatkannya.


Berbicara tentang Gaza, tba–tiba saja terlintas bayangan seblak buatan Gaza. Dan menu makanan yang itu dalam benaknya ia rasa lebih lezat dan menggiurkan dibandingkan dengan masakan lain. Seketika ia menepuk kepalanya sendiri agar tersadar dari keinginan yang entah datangnya dari mana itu. Dela merutuki kebodohannya.


"Aaaa ... Tapi aku ingin seblak buatannya. Nasi goreng kemarin aja seenak itu. Mungkin seblak bisa lebih enak," ungkap Dela mulai menyangkal pikirannya lagi.


"Tapi berarti aku harus memohon padanya dong? Emmmmm...!"


Ingat rumus hidup Dela. Jika tidak ada gengsi, bukan Dela sekali.


Dela menghela napas kasar beberapa kali. Ia mencoba membuang ego yang membentang tinggi.


"Hufft hufft hufftt... Ini demi kamu perut, demi kamu."


Dela meneguhkan hatinya lagi untuk melancarkan niatnya meski harus menjatuhkan egonya sendiri. Urusan muka, itu ia pikirkan nanti setelah ia kenyang. Yang penting KENYANG dan TERPUASKAN.


Tok tok tok


Pada akhirnya Dela mengetuk meski sempat ragu. Ia mengetuk dengan harap harap cemas. Sikap Gaza yang sering kali meledeknya sebenarnya membuatnya enggan untuk melakukan ini.


"Hmmm ... Ada apa?" ungkap Gaza dengan suara paraunya. Ia berjalan membuka pintu dengan setengah kesadarannya. Bahkan matanya pun masih setengah terpejam.

__ADS_1


"Apa?" tanyanya sekali lagi. Tangan Gaza bertumpu pada pinggir pintu untuk menyangga tubuhnya. Kakinya malas menopang tubuhnya dengan tenaga penuh.


"Hmm lapar," ungkap Dela jujur.


"Ya makanlah. Kenapa pula repot. Hoaamm..."


"Ck gak ada makanan," ucap Dela yang kini kesabarannya mulai terkikis.


"Ada. Itu ada nasi. Tinggal buat nasi goreng, selesai."


Gaza mengacak rambut bagian belakangnya. Sesekali ia menguap seiring rasa kantuk yang kembali menyergapnya.


Dela menghela napas panjang. "Sabar," gumamnya lirih.


"Aku tdak ingin nasi. Maunya seblak. Buatin ya," ucap Dela semanis mungkin. Ia berharap dengan begitu, Gaza luluh lantas segera memasakannya. Namun ternyata TIDAK.


"Dela ... Ini sudah dini hari. Tidak usah mengada–ada," ucapnya dengan sedikit menyeret kata perkata. Gaza benar–benar malas jika ia harus masak selarut itu. Lagi pula lebih enak kembali rebahan di tempat tidur, bergelung dengan selimut dan memeluk kasur.


Penolakan Gaza membuat hati Dela mellow seketika. Hanya penolakan, namun efeknya sedahsyat itu. Kedua sudut bibir Dela tertarik ke bawah. Isakan tangis pun mulai samar samar terdengar.


"Huaa–mmm"


Dela yang semula ingin memekik menangis, kini suaranya tertahan dengan telapak tangan Gaza yang menutup rapat bibir Dela. Menangis kencang di larut malam bisa membuatnya tertuduh oleh tetangga. Dan ia tidak mau hal itu terjadi.


Diam sesaat namun kemudian kala telapak tangannya ia lepas, Dela kembali bersuara. Hal itu membuat Gaza panik dan kembali menutup bibir Dela dengan telapak tangannya kembali.


"Diamlah! Iya iya aku buatkan." Gaza menyerah. Seketika itu juga tangis Dela mereda, bahkan kini matanya berbinar cerah.


Gaza tidak peduli akan hal itu. Yang harus ia lakukan saat ini adalah segera menyelesaikan agenda tak terduganya agar ia bisa kembali memeluk kasur dengan tenang.


"Merepotkan!" gumamnya sebal.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗🌻


__ADS_2