
Di dalam mobil, hanya suara musik yang terdengar di antara mereka. Gea sibuk memperhatikan jalan dan Briel sibuk mengemudikan mobil, menembus jalanan yang cukup lenggang.
"Aduh mana perutku lapar, belum sarapan," batin Gea. Ia memegang perutnya yang terasa lapar. Kebiasaannya yang selalu mengisi perutnya di pagi hari, membuatnya cepat lapar tatkala ia lupa tidak mengisinya.
"Mau makan apa Gey?" tanya Briel sembari mengemudikan mobilnya. Ia melihat Gea memegang perutnya sendiri walaupun ia hanya melirik. Ia baru ingat bahwa sarapan telah mereka lewatkan dan sekarang malah sudah siang. Kebiasaannya yang jarang sarapan membuatnya lupa jika sekarang ia tidak hanya mengurus dirinya sendiri.
"Ha ...?" jawab Gea. Ia terlalu fokus dengan perutnya yang lapar, hingga ia tak mendengar apa yang Briel katakan.
"Mau makan apa?"
"Terserah deh, Bang. Yang penting makan."
Gea bukanlah pemilih makanan. Yang terpenting sekarang adalah perutnya kenyang. Briel mengangguk.
"Bang berhenti, Bang!" pinta Gea tiba–tiba.
Briel membulatkan matanya. Ia tercengang dengan ucapan Gea yang tak asing namun aneh di telinganya.
"Astaga, aku merasa seperti tukang ojek yang jasanya tengah dipakai."
(Othornya juga merasa ucapan Gea seperti meminta Kang Ojek untuk berhenti 😂 yang sabar ya Bang Bri 🤭)
Walaupun demikian, Briel tetap menuruti kemauan istrinya itu. Ia segera meminggirkan mobilnya
"Kenapa dia minta turun di sini?" tanyanya dalam hati. Ia cukup heran dengan tingkah istrinya ini.
Setelah mobil berhenti, Gea segera turun dan berjalan menghampiri gerobak soto pedagang kaki lima.
"Kang, sotonya dua ya!"
Gea memesan dua porsi soto untuknya dan Briel. Gea langsung duduk lesehan di tikar yang telah dibentangkan. Gea melambaikan tangan pada Briel yang masih menatapnya tak percaya.
"Bang, sini! Mau ikut makan tidak?"
Briel tersadar dari keterkejutannya. Ia tak habis pikir kenapa Gea memilih makan di tempat yang seperti ini.
"Apakah tidak ada tempat makan lain selain di sini?"
Gea mengerutkan keningnya. Ia menatap Briel penuh selidik "Apakah ada yang salah jika kita makan di sini? "
"Tidak. Bukan maksudku merendahkan, namun apa iya kita harus makan di trotoar seperti ini?" jelas Briel.
__ADS_1
"Iya. Memang kenapa, Bang? Di sini higenis juga kok, Bang. Jangan khawatir! Rasanya juga enak, gak kalah sama restoran bintang lima."
"Bukan itu maksudku, tapi di sini terlalu ramai Gey. Bukankah lebih nyaman makan di restoran?"
Briel menatap sekitar. Banyak kendaraan yang hilir mudik, banyak juga pejalan kaki yang melintas. Kebiasaannya yang makan sendiri di restoran mewah membuatnya merasa sangat asing dengan suasana seperti ini. Ia kurang nyaman dengan suasana ramai.
Gea menarik Briel untuk duduk di sampingnya. Ia menatap Briel dengan sabar. Ia tahu kalau kehidupan Briel pasti tidak sesederhana ini. Ia bisa melihat kalau hidup Briel pasti serba mewah. Ia mengulas senyum.
"Justru dengan inilah kita bisa merasakan indahnya di tengah keramaian, Bang. Kita bisa menyadari bahwa kita tidak sendiri. Yeahh ... cukup menghibur hati."
Tatapan Gea berubah sendu walaupun bibirnya tetap mengulas senyum. Keramaian dan kebersamaan seakan menghiburnya tatkala hati tidak bisa diajak kompromi. Briel tertegun. Ia merasa bersalah karena tanpa ia sengaja ia mengingatkan Gea akan luka yang diterimanya.
"Lagian, dengan kita membeli di pedagang kaki lima seperti ini, secara tidak langsung kita juga memberikan rejeki untuk orang lain yang berjuang untuk menghidupi keluarganya."
Seulas senyum indah terbit di wajah Briel. Entah bagaimana, Briel kagum dengan pemikiran Gea yang sangat dewasa di usia mudanya.
"Neng, ini pesanannya."
"Makasih, Kang," jawab Gea ketika soto yang ia pesan telah dihidangkan.
"Iya sama–sama Neng. Itu Neng Gelis sama kakaknya, ya? Kenapa baru diajak ke sini?" tanya Kang Abdi, tukang soto itu tatkala melihat pria asing datang bersama dengan Gea.
Gea tersenyum. "Dia baru pulang dari luar negeri, Kang," jawab Gea tanpa membenarkan atau menyalahkan ucapan Kang Abdi.
"Ya sudah. Saya mau melayani pembeli yang lain. Silahkan dinikmati." ucap Kang Abdi lalu meninggalkan mereka berdua.
Briel menatap kesal pada Gea. "Kenapa kamu tidak memberitahukan status kita?"
"Memang kenapa, Bang? Aku bahkan tidak membenarkan maupun menyalahkan Kang Abdi loh. Aku hanya menjawab kenapa kamu aku ajak ke sini," ucap Gea lalu menyendokkan soto itu ke dalam mulutnya.
Berdecak kesal. "Ya tapi kamu kan bisa jelaskan. Adik saja, saya tidak punya!" geruntu Briel.
"Sudah terlanjur," jawab Gea santai. Ia masih menikmati sotonya sambil mengamati lingkungan sekitar.
"Makanlah, Bang! Mumpung masih hangat. Nanti kalau sudah dingin, kenikmatannya berkurang."
Briel segera menyuapkan sesendok soto itu ke dalam mulutnya. Perutnya memang sudah lapar. Rasanya benar–benar nikmat tatkala sesendok soto itu masuk ke dalam mulutnya.
"Kamu sering makan di sini?" tanya Briel tiba–tiba.
"Lumayan, Bang. Mungkin seminggu sekali."
__ADS_1
Briel mengangguk. Ia menatap Gea yang asik memakan sotonya dengan lahap. "Sepertinya ia benar–benar lapar."
Setelah selesai, Gea merogoh tas slempang yang ia pakai untuk membayar soto itu. Dengan sigap, Briel menahan tangan Gea agar berhenti mencari uangnya.
"Biar aku saja!"
"Tapi..."
Tanpa menunggu ucapan Gea selanjutnya, Briel menghampiri Kang Abdi.
"Berapa, Kang?"
"Tiga puluh ribu, Kang."
Briel memberikan selembar uang seratus ribuan. Tanpa menunggu uang kembalian, Briel sudah berlalu menghampiri Gea.
"Kang kembaliannya!" ucap Kang Abdi sambil mengangkat tangannya yang memegang dua lembar uang, lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan.
"Untuk Akang saja kembaliannya."
"Wah terimakasih ya, Kang."
Briel hanya mengangguk. Mereka berdua pergi kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Sesampainya di apartemen Briel, Gea menata pakaiannya di walk in closet yang ada di sana. Briel juga membantu Gea menata pakaian itu.
"Selesai," ucao Gea lega, karena pekerjaannya telah usai.
"Gey, saya mau pergi sebentar. Ada urusan yang harus saya selesaikan."
"Oke, Bang." .
" Jika aku belum datang, pesanlah makanan terlebih dahulu untuk makan malam."
Gea hanya mengangguk. Briel meninggalkan Gea sendiri di sana.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
jangan lupa bahagia 💕💕