
Seketika Ayu mematung. Matanya tak lepas dari foto itu. Dia diam tak bersuara. Kenyataan itu telah membungkam paksa dirinya.
"What? Aku harus bagaimana?" gumam Ayu dalam hati.
Kebingungan melanda hati dan pikirannya. Yeahh dilema. Satu sisi dia ingin merebut kembali Briel yang telah lepas, namun satu sisi ia tak tega. Ia bisa menemukan orang yang selama ini ia cari, namun di waktu yang bersamaan orang itulah yang saat ini merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, merebut kebahagiaan hidupnya. Fakta itu teramat menyakitkan dan sulit untuk ia terima.
"Kenapa bisa begini?"
"Di–dia wanita yang menyelamatkanku waktu itu, namun dia juga wanita yang merebut dia dariku."
Cukup lama Ayu terdiam mematung. Davin mengerutkan dahinya. Ia menatap Ayu dengan heran.
"Hei …. Kenapa kau bengong?" tanya Davin. Ayu masih sibuk dengan pikiran dan hatinya sendiri. Davin berdecak kesal.
"Hei!" ucap Davin lebih keras. Dia menepuk ringan pundak Ayu.
"Eh?!" Ayu terkaget.
"Ihhh kenapa sih Bang ngagetin?!" sungut Ayu.
"Kenapa kau bengong?" tanya Davin lagi.
"Eng–enggak…. Ah udahlah, aku mau pulang. Dah malam. Bye Bang. Salam buat Kakak Ipar," ucapnya tergagap.
Tanpa menjawab pertanyaan Davin, Ayu berpamitan pulang. Ia berjalan ke parkiran sembari memikirkan ulang apa kenyataan yang ia lihat tadi.
__ADS_1
🍂
"Haihh …." Ayu melemparkan badannya sendiri ke ranjang empuknya. "Aku harus bagaimana?" Ayu tidur terlentang sembari merangkul guling di atas tubuhnya.
Ia menatap langit–langit kamarnya hingga terdengar bunyi gawainya.
Ayu meraih gawai itu dan melihat nama yang tertera pada layar.
"Bang Davin? Kenapa dia telpon malam–malam? Aku kan sudah dari rumahnya," gumamnya sendirian.
"Apa?" jawab Ayu tanpa mengucapkan basa–basi di awal percakapannya.
"Jangan lupa pikirkan baik–baik. Kabari Abang kalau sudah kamu pikirkan. Abang harap, kamu tidak membuat keputusan yang salah," ucap Davin.
Ayu menghela napas. "Iya iya" jawabnya malas.
Yeahh …. Bayang–bayang Davin yang mengejarnya sampai ke parkiran terlintas kembali dalam benaknya.
"Berhenti!" ucap Davin setengah berlari. Ia berlari menghampiri Ayu yang sudah membuka pintu mobil.
Ayu menoleh ke arah kakaknya. "Ada apa?" tanya Ayu heran. Ia menutup kembali pintu mobil yang telah dia buka.
"Abang tahu kamu benci wanita itu dan ingin mengambil Briel kembali jadi milikmu kan?" tohok Davin tepat.
Ayu berdecak. Ia sadar bahwa apa yang diucapkan Davin benar adanya. "Iya …. Kenapa?!" ucap Ayu ketus. "Tapi aku gak bisa lakukan apapun," ucapnya lesu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Davin heran. Ia menautkan kedua alisnya.
"Dia … wanita itu … adalah wanita yang menyelamatkanku dari preman bhejad."
Davin tertawa mendengar jawaban Ayu. Bahkan bisa dikategorikan terpingkal–pingkal. Ayu menatap Davin heran sekaligus kesal.
"Kamu bodoh atau gimana sih? Bedakan masalahnya! Dia telah merebut pasanganmu dan kamu mau diam saja? Bo–doh!" ucap Davin. Ia sengaja mengatakan kata bodoh dengan ia eja untuk menekankannya pada Ayu.
"Apa–apaan ini?!" geramnya dalam hati. Ayu tak terima. Ia menatap Davin dengan nyalang.
"Apa?" tanya Davin ngegas.
"Hemss jadi orang jangan terlalu polos. Kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan kalau kau seperti itu. Dunia ini keras Yu," ucap Davin.
Davin mulai meracuni pikiran Ayu dengan segala hasutan manis yang ia gunakan untuk melancarkan rencananya. Bergabungnya Ayu lebih memperlancar rencananya untuk Briel. Batin Davin tersenyum licik.
Ayu berguling ke kanan dan ke kiri dan kadang pun ia terlentang. Ayu memang terlahir dari keluarga yang licik, namun ia tak sepicik yang lainnya. Ia masih punya hati untuk mempertimbangkan semuanya, yang membuatnya bimbang saat ini. Cukup lama Ayu berpikir, sampai tak terasa ia terlelap dalam dunia mimpinya.
Sementara itu, di kamar apartemen, Davin berdiri di ambang pintu, menatap Dela yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum licik sembari memainkan gawainya dengan memutar–mutar gawainya. Banyak rencana yang telah terpikirkan di otaknya.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕