Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
28. Bahagianya Parasit


__ADS_3

"Baiklah, saat ini kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Berbahagialah sampai maut memisahkan kalian berdua…." Davin dan Dela tersenyum lebar mendengar perkataan itu. Bahagia menyeruak di dalam hati.


"Akhirnya kau merasakan apa yang aku inginkan Gey! Menolak seorang Davin adalah petaka bagimu! " batin Davin tertawa bahagia karena rencananya telah berhasil untuk memberi luka yang dalam untuk Gea.


"Akhirnya aku bisa memiliki Davin seutuhnya. Mami... keinginan Dela terwujud."


Ya begitulah, mereka berdua memang bahagia namun dengan definisi yang berbeda. Bukan bahagia karena saling mencintai. Ambisi dan ego telah mengambil alih hati mereka.


"Sekarang Anda bisa mencium istri Anda, Tuan."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Davin mencium bibir menggoda Dela yang sedari tadi sudah ia tahan. Pria berjubah putih itu dengan sadar diri meninggalkan mereka berdua, memberikan ruang waktu untuk pengantin baru itu.


πŸ‚


Kaki Gea terus melangkah, tak tentu arah. Hingga ia berhenti di depan sebuah hotel. Ia duduk di sebuah kursi yang ada di bawah pohon yang cukup rindang di sana. Gea menangis tergugu. Ia tak peduli banyaknya orang yang lalu lalang di sekitarnya juga memperhatikannya.


"Kasihan yah! Cantik-cantik, pakai gaun pengantin, eh... malah nangis sendirian di sini," ucap seorang wanita paruh baya yang lewat di depan Gea bersama wanita yang merupakan menantu darinya.


"Iya, Buk, kasihan ya. Apa jangan-jangan dia gagal nikah ya?" ucap sang menantu tanpa disaring terlebih dahulu.


"Husst... masak wanita cantik begitu gagal nikah? Ada-ada saja kamu." Sang ibu tidak percaya dengan ucapan menantunya.

__ADS_1


"Aduh Bu... jangan salah. Jaman sekarang bisa begitu, Bu. Temanku aja kemarin gak jadi nikah gara-gara ditinggal nikah sama calon suaminya. Dia cantik loh, Bu. Jadi sekarang jatuhnya dari calon, tinggal mantan calon, Bu," ucap sang menantu dengan menggebu-gebu.


"Tapi Bu, untungnya sih temanku ditinggal nikah sama mantan calon suaminya, waktu masih beberapa hari sebelum pernikahan, Bu." jelasnya lagi.


"Wah... Kasihan ya, wanita muda itu? Dia ditinggal nikah di hari pernikahannya."


Yeah, begitulah sebagian manusia. Sudah bergosip sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Yeah walaupun terkadang terkaan mereka adalah fakta yang sebenarnya. Namun apakah pantas ia melakukan hal itu kepada manusia yang lainnya?


Obrolan kedua wanita beda generasi itu membuat hati Gea semakin hancur Karina itulah fakta yang sebenarnya. Air mata Gea mengalir semakin deras. Kenapa nasibnya seperti ini? Apa yang harus dia lakukan?


"Husst… sudah-sudah. Ibu sama istriku ini, kok malah ngomongin orang yang lagi bersedih. Bahkan di depannya lagi."


Seorang pria yang diduga anak dan suami dari kedua wanita itu datang menghampiri mereka. Ia menghentikan kegiatan kedua wanita itu. Ia merasa tidak enak hati ketika ibu dan istrinya bergosib, bahkan dengan objek yang ada di depannya. Sang ibu dan istri hanya menampilkan muka polos tak bersalah mereka dengan senyum canggung.


"Ayok kita masuk ke dalam lagi!" Pria itu sedikit memaksa agar ibu dan istrinya segera mengikutinya.


"Mari, Mbak," ucap pria itu.


Dengan terpaksa, Gea melebarkan bibirnya. Ia mengangguk pelan kemudian tak peduli lagi dengan mereka.


Sepeninggalan mereka, Gea masih duduk di sana. Entah mengapa air matanya masih mengalir, padahal ingin sekali ia berhenti menangis.

__ADS_1


"Ihh. Kenapa sih kau gak berhenti menangis juga Gey? Berhentilah menangis Gey, berhentilah!" ucapnya sendiri disela-sela isakan tangisnya. Ia mengusap-usap matanya agar air mata itu berhenti mengalir. Namun apa, air matanya masih tidak mau berhenti. Ia sampai kesal dengan dirinya sendiri.


"Tuhan, kenapa mereka tega Tuhan? Hiks... hiks... Ingin ku berkata, apa salahku, tapi pasti aku banyak salah."


Setelah cukup lama, Gea pun berhenti menangis. Namun wajahnya menjadi datar, tatapannya dingin dan menusuk. Bahkan orang yang tak sengaja ditatap Gea merasakan hal itu. Ada juga yang menatap Gea dengan iba.


Gea beranjak meninggalkan tempat itu. Ia berjalan ke arah jalan raya yang cukup padat. Ia menyebrang di tengah padatnya lalu lintas. Gea tak peduli dengan kendaraan yang melaju. Kosong... itu yang ia rasakan.


Tin.....


Suara klakson mobil yang melaju kencang itu pun tak ia hiraukan. Ia tetap berjalan. Banyak sorakan orang yang ada di sana memperingati Gea agar berbalik, namun Gea sudah tidak mendengarkan sorakan mereka. Kosongan dan kehampaan hati telah berkuasa di dalam dirinya.


"Awas Mbak!" teriak mereka ketika mobil itu semakin mendekat.


Decitan rem dan klakson mobil itu terdengar nyaring, memekakan telinga semua orang yang ada di sana. Suasana begitu tegang, hingga banyak orang berkerumun di tempat kejadian itu.


πŸ‚


//


Happy reading semua,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia πŸ’•


__ADS_2