
Hari ini, Gea tengah duduk di depan meja riasnya. Setelah sekian lama ia tak besolek, kali ini ia menata rias wajahnya natural. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik dengan busana kerja yang sudah lama tidak ia kenakan pula. Ia tersenyum di depan cermin. Kegiatan memoles wajah telah selesai ia lakukan.
"Silahkan, Bos."
Hendri membukakan pintu mobil untuk Gea. Gea hanya tersenyum.
Hendri menjemput Gea dengan mobil baru yang belum lama ia beli. Ia telah mengantisipasi semua kemungkinan yang terjadi agar tidak kecolongan.
Mereka telah sepakat untuk memesan private room VIP di sebuah restoran mahal sebagai tempat meeting mereka.
Gea memasuki ruangan itu bersama dengan Hendri. Di sana sudah ada seorang pria kepercayaan FTA Entertainment, Deni Mahendra, untuk mengelola agensi itu.
"Wah … selamat pagi, Nyonya, Tuan, silahkan duduk terlebih dahulu."
Deni menyapa hangat kedatangan Gea dan Hendri. Ia yang semula duduk berdiri untuk menyambut datangnya Gea dan Hendri.
"Selamat pagi, Tuan Deni," balas Hendri dengan senyum yang mengembang. Sedangkan Gea hanya menyunggingkan senyumnya saja.
"Silahkan duduk, Nyonya, Tuan."
Gea dan Hendri mengambil tempat duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Mohon maaf Nyonya, Tuan, Bos kami tengah berada di perjalanan menuju ke sini. Sebentar lagi beliau sampai di sini."
"Tidak apa. Kami juga tidak terburu–buru," jawab Gea santai. Jawaban Gea membuat hati Deni yang mendengarnya pun tersenyum lega.
Untuk mengisi waktunya, Gea mengambil gawainya. Ia mulai mendesain baju yang akan ia keluarkan sebagai trend terbaru dari produk butiknya.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Pintu itu pun terbuka. Orang yang masuk itu menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Selamat pa–"
Suara bariton itu terdengar, namun suaranya terjeda ketika pria itu melihat siapa wanita yang ada di depannya. Seketika pandangannya hanya tertuju padanya.
Gea yang tengah sibuk itu pun memutuskan untuk menoleh ke sumber suara itu. Ia terkesiap. Bahkan ia hanya mematung dengan tangan yang mulai gemetaran. Ia menaruh gawainya di meja, perlahan. Matanya mulai berkaca–kaca. Tenggorokkannya seperti tercekik karena menahan tangis.
"Bagaimana bisa?" tanya Gea dalam hatinya. Ia tak percaya dengan kenyataan yang ia lihat saat ini.
Sementara itu, sang pemilik suara diam mematung. Ia masih belum paham dengan apa yang terjadi. Bidadari hidupnya tengah duduk di jangkauan matanya, setelah berhari–hari ia mencari tak kunjung menemukannya.
"Gey …"
"Bang …"
__ADS_1
Panggil mereka bersamaan dengan gumaman lirih. Suara mereka terdengar bergetar. Hendri dan juga Adam tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ternyata masing–masing bos mereka sepasang suami istri yang memang sudah mereka ketahui, tapi bukan sebagai pemilik misterius. Sementara Deni yang tidak tahu apa–apa, ia bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Silahkan duduk, Bos. Kita bisa memulai meeting kita."
Deni mencoba untuk mencairkan suasana canggung yang melanda itu. Namun keadaannya masih saja membuatnya kebingungan. Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Mengapa Bos seperti itu?" gumam Denj dalam hati.
Pria itu berjalan mendekat tanpa mengalihkan tatapannya. Ia menatap Gea lekat. Ia berdiri di hadapan Gea.
Pria itu menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menormalkan hatinya yang tengah bergemuruh, campur aduk.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya Gabriel Abraham Yohandrian, owner sekaligus pimpinan FTA Entertaiment."
Briel mengulurkan tangannya. Matanya tak jenuh memandang Gea lekat. Ia bahagia, orang yang ia cari telah muncul dengan sendirinya di hadapannya hari ini.
Gea memandang ragu tangan yang terulur itu. Cukup lama ia memandang. Dengan ragu ia menjabat uluran tangan itu.
"Saya Gea Agatha, owner sekaligur pemimpin GA Fashion & Style."
Mereka saling melempar senyum canggung. Bahkan terkesan dipaksakan.
Setelah itu mereka melanjutkan kegiatan mereka untuk melakukan meeting kerjasama itu mengenai peluncuran produk baru yang menggunakan model terkenal dari perusahaan Briel. Kegugupan dan kecanggungan sangat terasa begitu pekat.
"Terimaksih atas kehadian Anda," ucap Deni. Sedangkan Gea hanya tersenyum simpul.
Adam, Hendri, dan Deni pun mengerti. Mereka memberi ruang waktu untuk Briel dan Gea.
Briel mendekap erat tubuh Gea. Dekap erat. Ia menumpahkan semua rasa rindu yang ia pendam berhari–hari.
"Akhirnya kamu ketemu juga, Gey."
"Ku kira aku tak akan pernah bisa menemukanmu."
Mata Briel memerah. Ia terlalu bahagia bisa menemukan pujaan hatinya. Berulang kali Briel mencium pucuk kepala Gea. Gea hanya diam di dalam dekapan Briel. Ia tak membalas dekapan itu. Air matanya mulai luruh membasahi paras cantiknya.
Briel merasa janggal dengan sikap Gea. Ia menjauhkan tubuh Gea. Ia memegang pundak Gea dan menatap Gea lekat. Ia mengusap air mata yang berjatuhan itu dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa Gey?" Ia menatap Gea bingung. Mencari suatu fakta dari balik sorot mata Gea.
Gea memejamkan mata sejenak. "Kenapa? Kenapa Abang mencariku?"
"Karena aku mencintaimu, Gey. Aku tak mau kehilangan dirimu, Sayang." Briel berusaha meyakinkan Gea dengab rasa yang ia miliki.
Gea mengalihkan pandangannya. Air matanya menetes semakin deras. Ia mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Pergi, Bang. Pergi dari hidupku. Dan aku akan pergi daei hidupmu!" ucap Gea dengan suara yang bergetar karena menangis dan menahan rasa sakit di hatinya. Ia pun tak rela harus mengatakan itu. Namun ia bisa apa?
"Tidak, Gey. Kita harus tetap bersama. Selamanya!"
Briel menekankan kata selamanya pada akhir kalimat yang ia ucapkan. Ia menggeleng kuat.
"Tapi Bun–"
Dengan cepat Briel memotong ucapan Gea. "Mereka merestui asalkan aku membawamu ke hadapan mereka sekarang, Gey!"
Seketika Gea terdiam. Otaknya tidak bisa bekerja dengan cepat. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ayo pulang, Gey," pinta Briel.
Gea mengangguk lemah. Briel langsung mendekap erat lagi Gea. Gea menumpahkan rasanya dalam dekapan Briel. Ia terisak di sana.
🍂
Sehari sebelumnya Briel pergi ke perusahaan Bima untuk meminta Bima agar memberitahunya di mana Gea berada. Namun Bima tak memberitahu Briel. Peristiwa kemarin muncul kembali bagaikan kaset yang di putar.
"Bim, tolong beritahu dimana Gea berada. Aku tahu kamu pasti mengetahuinya. Tolong Bim. Gea adalah hidupku. Aku tak bisa hidup tanpanya." Briel benar–benar memohon. Raut wajahnya tidak bisa berbohong.
Bima menatap Briel sejenak. Ia menghembuskan napas kasar.
"Aku tak akan memberitahukan di mana Gea. Namun jalanilah hari–harimu seperti biasa. Maka kamu akan mengerti!"
Bima tetap tak mau memberitahu dimana keberadaan Gea.
"Bim!" ucap Briel. Kesabarannya mulai habis.
"Keluar! Atau semua bodyguard yang ada di depan akan menyeretmu!"
"Maaf Bim. Bim, beritahu di mana Gea," ucap Briel lagi dengan mengabaikan ancaman Bima.
"KELUAR!!!"
Mau tak mau Briel keluar dari sana dengan langkah lunglai.
Namun saat ini ia mengerti. Rupanya Bima membiarkan semuanya berjalan sebagaimana semestinya. Kini Briel tersenyum karena Gea telah berhasil ia dapatkan kembali. Berulang kali ia mengucap syukur dalam hati mereka.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕