Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
159. Kehangatan di Pagi Hari


__ADS_3

Seusai acara pesta barbeque malam itu, paginya mereka telah berkumpul kembali. Para kaum pria tengah mengobrol di teras samping sembari minum kopi panas yang telah di sediakan oleh Runi. Sedangkan kaum perempuan sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Jika tak capek, Tere memang terbiasa menyiapkan makanan sendiri dengan bantuan ataupun tidak dari asisten rumah tangganya. Sebisa mungkin ia menyiapkan semua kebutuhan suaminya sendiri.


"Jangan lupa balik ikannya Ge," titah Tere pada Gea. Pasalnya Gea saat ini tengah mencuci tangannya di wastafle lantaran tak sengaja tangannya tertumpah minyak yang belum panas.


"Siap Bunda," sahut Gea. Sementara Runi berada mencuci sayuran yang akan mereka masak di pagi itu. Biasanya Tere hanya akan menyiapkan makanan yang ringan. Namun berhubung banyak orang yang ada di sana, Tere membuat menu makanan yang lebih berat dan cukup bayak.


🍂


"Ayah, Kak, Bang, makanan sudah siap," ucap Gea pada mereka semua.


"Oke Ge," ucap Frans menyahuti. Mereka semua segera menuju ke meja makan.


Meja makan yang cukup besar itu mampu menampung mereka semua. Banyak hidangan di atas meja. Bahkan roti dan selai juga ada, disiapkan untuk yang tak ingin makan berat di pagi hari.


Gea dan Tere sibuk mengambilkan makanan untuk pasangannya, sedangkan yang lain terpana dengan pemandangan di depan mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Gea heran. Sedangkan Tere menahan tawa lantaran melihat wajah mereka semua yang masih asing dengan pemandangan di depan mereka.


"Makanya kalian cepatlah menikah. Cari pasangan dan ajak nikah. Gini kan enak. Makan diambilkan sama istri sendiri. Ya gak Bri?" ucap Frans. Ia mencari pembelaan pada Briel.


"Yaps betul," ucap Briel dengan songongnya. Ia seakan meledek ketiga pria single yang ada di sana. Sedangkan Runi tersenyum melihat pemandangan di depan mereka itu.


"Gimana mau nikah? Calon aja belum kelihatan batang hidungnya Bri Bri," ucap Bima.


"Makanya cari sana. Habis itu ajak dia nikah."


"Sialan. Ajak nikah segampang ajak makan doang," ucap Bima. Obrolan ringan itu benar–benar hangat, mampu mencairkan suasana yang terasa agak dingin.


"Sudah–sudah. Kalian makanlah. Makanannya keburu dingin, kenikmatannya bisa berkurang," ucap Tere mengingatkan.

__ADS_1


"Iya Bun," jawab mereka serentak. Tere tersenyum hangat. Ada rasa bahagia yabg menyelinap di dalam hatinya.


"Ambil sendiri apa yang kalian mau. Anggap saja seperti di rumah kalian sendiri," ungkap Tere.


Mereka semua mengangguk mengiyakan. Mereka mengangguk dan mengambil sarapan yang mereka mau. Hanya Bima sendiri yang memilih roti selai sebagai menu sarapannya.


"Bun kami pamit dulu ya..." pamit Runi. Bima, Hendri, Adam, dan Runi berpamitan saat hari menjelang siang. Mereka harus kembali ke rumah mereka masing–masing karena ada suatu hal yang mereka urus.


"Iya. Sering–seringlah kalian main ke rumah ini, biar Bunda sama Ayah gak kesepian," ujar Tere. Kehadiran mereka mampu mengubah suasana rumah menjadi ramai seketika.


"Iya Bun. Makasih ya atas tumpangan dan sarapannya," ujar Adam.


"Is kau ni. Kayak sama siapa aja kamu Dam." Tere tersenyum sembari menabok ringan lengan Adam. Senyum Tere menular pada mereka semua. Mereka semua tersenyum hangat nan cerah.


"Run jangan lupa ya sering main ke sini. Nanti biar Adam yang antarkan," goda Tere. Tere melihat ada sesuatu di antara mereka berdua. Namun Tere juga sadar jika keduanya layaknya Tom and Jerry saat ini.


"Bunda apaan sih," protes Adam.


Tere menatap ke arah Hendri dan Bima secara bergantian. "Hendri, Bima, kalian juga ya," pinta Tere.


"Iya Bunda," jawab Hendri mewakili.


Mereka pun segera pergi meninggalkan kediaman Yohandrian.


"Loh kemana mereka Bun?" tanya Briel kala hanya melihat Tere dan Frans.


"Baru saja mereka pergi," sahut Frans.


"Astaga ... Suruh menunggu sebentar saja mereka main pergi saja," gerutu Briel.


"Loh kalian mau pulang juga?" taya Tere kaget.

__ADS_1


"Iya Bun. Nanti kita kesini lagi Bun. Tapi kami harus pulang dulu." Briel mencoba memberikan pengertian untuk Tere dan Frans.


"Yahh ..." gumam Tere kecewa.


"Bunda ... Jangan begitulah," ucap Gea sedih.


Tere menghela napas berat. "Iya... Kalian hati–hati di jalan." Tere tersenyum lantas memeluk menantu kesayangannya itu.


"Ya sudah sana kalau mau pulang. Hati–hati di jalan. Dan kamu! Briel, jaga menantu dan cucu Ayah. Jangan sampai lecet sedikitpun," ucap Frans. Ia tahu jika bahaya mengancam keselamatan mereka saat ini.


"Astaga ... Anak kalian siapa sih," rengek Briel. Candaan ith keluar begitu saja dari mulut Briel.


"Gea dong," gurau Tere. Gelak tawa terdengar renyah di antara mereka semua.


Seusai itu Briel dan Gea juga pamit pulang.


🍂


//


Hai hai kakak semuaa 🤗 asa balik lagi hehehe


Maaf ya lama. Makasih yang masih mau menunggu ya


Sehat–sehat untuk kalian semua


🌱🌟


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2