
Selepas semalam Runi kesal dengan Adam, kali ini berganti Adam yang merasakan rasa itu.
Saat ini, Adam tengah berada di dalam mobil yang terparkir di depan rumah kontrakan Runi. Berkali–kali ia menekan tombol telepon di layar gawainya. Namun sayang, berkali–kali pula panggilan itu tak kunjung Runi angkat. Bagaikan bom atom yang siap meledak, Adam terlihat begitu kesal dengan keadaan saat ini.
"Arrgh dasar karyawan lemot. Dimana sih dia? Sampai–sampai panggilan dari atasan saja diabaikan!" gerutunya kesal. Ia melihat ke arah jam tangan yang bertengger di tanggannya. Sudah cukup siang.
Ia memutuskan untuk turun dari mobil. Kali ini ia menggunakan out fit yang lebih kasual. Ia berjalan dengan langkah yang tegas dan terlihat begitu menawan.
Ia berdiri di depan pintu rumah. Ia berdeham kecil karena ada nyamuk yang tidak sengaja mau masuk ke dalam mulutnya ketika ia menarik napas kesal.
"Haihh ada–ada saja nyamuk sialan!" Adam mengibaskan tangan di depan wajahnya agar nyamuk itu pergi.
Selepas nyamuk itu pergi, Adam melanjutkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia mengetuk pintu dengan tenaga yang cukup untuk membuat suara ketukan yang cukup keras. Tak lupa ia juga memanggil nama Runi agar Runi lekas keluar rumah.
Tok
Tok
Tok
"Runiii ….! Cewek Lemot! Keluar!" ucap Adam. Ia memanggil Runi berulang kali dengan sebutan seperti itu. Ia terlampau kesal karena dengan cara ini pun Runi tak kunjung keluar.
Sedangkan di dalam kamar, Runi masih bergelung dengan selimutnya. Ia lupa dengan janji perginya dengan sang atasan. Yang ia ingat, hari ini adalah weekend, hari di mana ia bisa bermalas–malasan. Di hari ini, ia bisa menikmati hari, tanpa perlu melakukan aktivitas padatnya. Di hari ini pula, ia bisa memanjakan dirinya.
Tanpa sedikitpun ia terganggu dengan suara ketukan pintu. Hingga pada waktu ketukan ke sekian kali, Runi merasa terganggu. Suara itu lama kelamaan semakin kencang. Keras dan mengganggu ketenangannya.
"Haihhh …. Siapa sih dia? Pagi–pagi sudah mengganggu waktu bersantaiku!" gerutu Runi. Ia sedikit mengangkat kepalanya dengan mata yang masih terpejam. Runi memutuskan untuk mengabaikan suara itu. Ia kembali menarik selimutnya.
Hingga suara ketukan dan panggilan itu kembali terdengar. Kemudian ia bangun dan terduduk. Ia berdecak kesal.
"Iya–iya … sabar kali!" gumamnya malas.
Runi mulai beranjak dari tempat tidur. Dengan langkah malas ia berjalan menuju depan, untuk melihat siapa yang datang. Bahkan Runi lupa untuk membenarkan ikatan rambutnya yang berantakan. Matanya pun masih setengah terpejam karena masih mengantuk.
Suara itu semakin jelas terdengar tatkala Runi semakin menghampiri sumber suara. Dari sana ia tersadar. Suara yang ia dengar tidaklah asing di telinganya. Ia mengingat sesuatu. Dalam sekejab, mata Runi langsung terbuka lebar.
"Astaga ....! Jangan–jangan ia …."
Runi berlari dengan hati–hati agar derap kakinya tak terdengar oleh orang yang ada di depan rumah. Tujuan utamanya adalah jendela rumahnya. Runi menyingkap gorden itu dengan hati–hati. Ia memejamkan matanya gelisah tatkala melihat seorang pria membelakangi dirinya di balik kaca transparan itu. Tangan pria itu berkacak pinggang, seperti orang yang tengah menahan rasa kesal.
__ADS_1
"Hiks …. Aduh mati aku!" ucapnya mengasihani dirinya sendiri. Kemudian dengan cepat Runi berlari ke dalam kamar. Ia mencoba melihat gawainya. Ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dari "bos gelo" yang tertera di layar gawainya.
"Aihhh … kenapa bisa seperti ini?"
Runi teringat, bahwa semalam ia mematikan dering di gawainya. Ia tidak ingin ada orang yang mengganggu dirinya di hari bersantainya. Ia menginginkan ketenangan. Namun ternyata di hari ini, keputusan yang ia ambil membawa malapetaka bagi dirinya.
Dengan langkah terburu, ia kembali lagi ke ruang depan untuk membukakan pintu. Jantungnya berdebar keras. Bukan karena debaran cinta, namun debaran ketakutan yang mendalam dan juga kegelisahan.
"Runi mengambil napas dalam. "Hahhhh .… tenang, Run. Nanti kamu jawab saja seadanya. Jangan takut, jangan gugup, jangan gelisah!"
Runi berusaha untuk mensugesti dirinya sendiri agar tetap tenang.
Runi memegang handle pintu itu. Lagi–lagi ia menghela napas dalam lalu menghembuskannya kasar untuk menghalau rasa gelisahnya. Suara ketukan pintu masih terdengar.
Runi membuka pintu itu. Seketika ia memejamkan matanya, karena sebuah tangan besar hampir saja mengetuk dahinya. Untung saja sang empunya mampu menahan agar tangan itu tak melayang lebih jauh. Sang empunya menghempaskan tangannya sendiri dengan kasar.
"Terlambat 20 menit! Kamu membuang sia–sia waktu saya selama itu. Kemana saja dirimu? Bukankah sudah saya perintahkan untuk bersiap dari pagi?!"
Suara itu terdengar sangat kesal di telinga Runi. Runi hanya mendengarkan sembari menundukkan kepalanya. Sesekali matanya terpejam dengan bibir yang menyengir mendengar kekesalan Adam.
"Maaf Tuan!" ucapnya lirih dan hati–hati.
"Maaf–maaf! Saya sudah membuat janji dengan seseorang. Dan aku terlambat karena kamu!"
"Maaf, Tuan. Kan kemarin Tuan tak memberitahuku jam berapa Tuan akan datang ke sini," kilah Runi. Ia mencoba membela dirinya.
"Bukan salah saya, tapi salah kamu. Saya kemarin sudah memberitahumu. Kamu saja yang tidak mendengarkan!"
Adam tak mau disalahkan, karena ia sudah menganggap perintahnya sudah benar.
"Kan hanya dari pagi Tuan, tak tepat waktunya," kilah Runi lagi.
"Sekarang saya tanya. Jam setengah enam di waktu matahari terbit itu pagi bukan?"
"Pagi," jawab Runi ragu.
"Nah kan tahu!"
Pertanyaan jebakan dari Adam telah membuat Runi terjerat. Runi tak bisa berkilah apapun lagi.
__ADS_1
"Iya Tuan, maaf."
Mau tak mau Runi harus mengakui kesalahan yang bukan sepernuhnya salah dia.
"Dahlah, ayo kita pergi!"
"Tapi Tuan .... Saya belum mandi dan bersiap diri."
Runi menolak ajakan itu. Ia melihat dirinya sendiri. Wajah masih muka bantal, belum cuci muka, dengan rambut yang masih acak–acakan. Tak lupa bajunya masih dengan baju tidur dengan motif doraemon. Terlihat lucu namun akan sangat aneh jika dikenakan saat ke luar rumah.
"Saya tidak peduli. Siapa suruh tidak mempersiapkan dengan baik. Waktu saya akan semakin terbuang jika masih harus menunggumu bersiap lagi!"
Runi melongo. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Adam.
"What?! Dasar Bos Gelo! Gak lihat apa sini seperti apa?" umpatnya salam hati.
Tiba–tiba saja tangan Runi ditarik Adam. Runi yang cukup kaget itu menghentikan langkahnya.
"Jangan main tarik, Tuan! Rumah saya belum saya kunci!"
Adam menghela napas kasar. Ia mencoba menetralkan kekesalannya. Ia melepaskan cengkeramannya pada tangan Runi.
"Cepat sana!"
Runi segera mengunci pintu rumahnya.
"Cepat!" ucap Adam tidak sabaran.
"Iya, Tuan!"
Runi berlari mengikuti Adam dengan gawai di tangannya. Ia masih mengenakan baju tidur, bahkan cuci muka pun belum karena niatnya telah diurungkan Adam.
"Astaga …. Nasib–nasib! Malunya aku .…"
Runi merutuki nasibnya yang ke luar rumah dengan out fit yang seperti itu. Ini pertama kalinya Runi pergi seperti itu dan akan ia usahakan agar hal itu menjadi hal yang terakhir kalinya.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕