Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Pemula


__ADS_3

"Gimana ini cara gendong mereka, Gey?" tanya Runi. Melihat kelucuan mereka, Runi semakin ingin menimang mereka. Tingkah mereka semakin menggemaskan. Terakhir dia datang ke rumah Gea, duo kembar itu belum seaktif sekarang, masih selalu ditimang oleh Gea.


"Ya tinggal gendong aja, Run."


"Ya terus gimana caranya, Gea? Tubuh mereka terlalu rentan. Aku khawatir mereka bisa lecet karena ulahku," tutur Runi.


Runi menatap Rio yang kini ada di depannya. Ia berada di atas Rio, mengungkung tubuh Rio. Matanya sibuk menelisik tubuh mungil itu. Ia menyentuh ringan kulit tangan Rio yang teramat halus dan terlihat mudah sekali tergores.


"Lihat ini!" Runi memperlihatkan kala ia menyentuh kulit Rio yang sangat lembut. "Dan lihat kuku tanganku." Runi memperlihatkan kesepuluh jari tangannya dengan kuku yang tergolong panjang. "Aku takut melukainya," ucap Runi khawatir.


"Astaga Runi... Kalau kamu mau menggendongnya, tidak usah takut. Kalau kamu tidak berniat melukainya juga tidak akan terluka Run. Asalkan hati–hati saja," ucap Gea menenangkan.


"Nah kan ... Nanti kalau aku tidak sengaja melukainya gimana?" Runi malah semakin takut untuk meggendong bayi itu. Ia memang mempunyai adik, namun ia tidak pernah menggendong adiknya di usia yang masih kecil.


"Tinggal potong aja kenapa sih? Ribet sekali!" celetuk Adam.


Entah gabut atau gimana, tiba–tiba saja Adam datang dengan gaya reseknya. Ia selalu datang dan mengacau Runi tiba–tiba. Lalu di belakangnya, ketiga pria lainnya mengekor. Kehadiran Adam membuat moodnya anjlog seketika.


"Astaga ni orang ya..." gumam Runi dalam hati. Tatapannya sudah berbicara tanpa perlu bicara.


"Nah itu Run ... dikasih tau ayang suruh motong kuku," goda Gea dengan tawa yang melekat di wajahnya.


"Iiihhh Geaa!!" rengek Runi kesal. "Amit–amit 7 turunan!" Runi memanyunkan bibirnya. Ia tidak suka dijodoh–jodohkan dengan orang yang telah ia masukkan dalam daftar hitam yang paling dalam.


"Awas, amit amit sekarang, nanti jadi imut–imut!" Gea semakin gencar menggoda sahabatnya itu.


"Apaan sih?!" Runi benar–benar ngambek saat ini.


"Hahaha" Gea masih tergelak. Ia berusaha meredam tawanya. "Ikuti aku kalau kamu ingin mencoba gendong Rio. Aku gendong Nino, kamu gendong Rio," sarannya kemudian.


Gea memperagakan bagaimana ia menggendong Nino. Runi mengamati dengan saksama. Ia mengerti, namun saat ingin mencoba ia ketakutan lagi. Runi mengurungkan niatnya.


"Tetap takut," ungkap Runi.


Gea tertawa kecil. "Hmm ... itu wajar Run. Nanti kalau kamu sudah punya anak sendiri pasti akan bisa dengan sendirinya. Ketidakbisaanmu akan terkalahkan oleh rasa sayangmu untuk anakmu," ucap Gea. Awalnya ia juga ketakutan untuk menggendong anaknya, karena tidak ingin menyakiti anaknya. Namun lama kelamaan ia pun juga terbiasa.


"Ayo sini aku bantu kalau kamu mau." Gea membawa Rio ke dalam dekapannya. Lantas ia menyerahkan Rio ke dalam dekapan Runi.


"Slow saja Run, tidak usah tegang," ucap Gea kala ia melihat bagaimana kakunya tangan Runi kala menerima Rio ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Ini juga usaha Gey ..."


"Ututututu ..." gumam Gea menenangkan Rio.


Pada akhirnya, Gea berhasil memindahkan Rio ke dalam dekapan Runi. Runi tersenyum senang namun ada gurat kekhawatiran yang terlihat di wajahnya itu. Ia mulai menimang tubuh mungil Rio.


"Udah Gey, udah Gey. Cukup." Tidak tahan lagi. Semakin lama Runi menggendong, semakin khawatir pula. Ia masih belum bisa rileks.


Gea mengambil alih kembali. Lantas ia membaringkan Rio di dekat Nino yang sedari tadi bergerak aktif.


"Waahh ... Aktif–aktif ya keponakan paman," celetuk Hendri yang kini sudah berada di dekat si kembar.


"Aku masih anak kecil paman," ucap Bima menyerupai anak kecil. Ia menirukan gaya bicara Shafi yang sering di tayangkan di layar televisi anak.


"Kalau begitu cepatlah besar kalian." Hendri menyahuti ucapan Bima.


Mereka berdua masing–masing menggendong Nino dan juga Rio. Tidak perlu banyak drama, mereka bisa menggendong tanpa bantuan baik dari Gea maupun Briel.


"Nanti kalau kamu gedhe, om mau ajarin kamu nge–hack dan lacak lokasi crush kamu," bisik Bima di dekat telinga Nino.


"Gey, anakmu masih kecil sudah diajak jahil sama pacaran," adu Hendri pada Gea. Bisikan lirih itu masih terdengar di telinga Hendri.


"Kak Bima ... Jangan ajari anakku yang neko–neko," ujar Gea sewot. "Jangan No, jangan mau diajari sama Om," lanjutnya kemudian.


Bima dan Gea saling beradu bisikan untuk Nino. Entah siapa yang pintar, berdebat hebatpun bocah mungil itu juga belum bisa mengerti perkataan mereka.


"Astaga ... Masalah gitu aja bisa–bisanya berdebat," gumam Briel yang heran dengan kejadian di depannya. Tidak ada yang mau mengalah.


"Rio, ikut Paman saja ya. Kita jadi wasit aja untuk mereka sambil ngadem di pojokan," celetuk Hendri. Ia kembali membaringkan Rio. "Bentar. Paman harus menutup kuping kamu agar tidak mendengar perdebatan yang absurd."


Hendri menempelkan kedua telapak tangannya di telinga Rio. Sedangkan Rio tertawa sembari menggerak–gerakan tubuhnya. Apa yang ia lihat dari Hendri adalah sebuah lelucon baginya.


"Astaga aku heran. Siapa yang gila sih ini?" celetuk Adam tiba–tiba tanpa filter. Briel terbakar oleh ucapan Adam. Ia menendang ringan kaki Adam.


"Sialan!" umpat Adam menahan sakit.


"Siapa yang kau maksud gila ha?! Enak saja melabeli istriku dan kedua anakku gila!" Mendadak suhu ruangan itu menjadi panas. Ia memang akan menjadi orang pertama jika istrinya dicemooh walau hanya gurauan.


"Ya kan aku tidak menyebut kalau istrimu gila. Kau sendiri yang berasumsi! Telaah lagi, telaah lagu! Isslah!" Adam membela diri.

__ADS_1


"Tidak perlu! Tetap saja kau menggilakan istriku!"


Briel tidak mau kalah dengan Adam. Sedangkan Adam memilih untuk diam. Berdebat dengan Briel hanya akan membuatnya semakin lapar.


"Arrghh sial aku lapar," gumamnya lirih.


"Mandi sana!" seru Briel judes.


"Ini ni, the real of sengklek. Orang lapar disuruh mandi."


"Udah tau lapar ya makan. Gitu aja repot!" Sekali panas, hati Briel tetap panas.


Keheningan menyergap mereka berdua yang hanya melihat mereka berempat bermain bersama dengan si kembar.


"Kau tidak ingin menggendong duo kembar?"


"Ck. Malas, nanti saja," ucap Adam singkat.


"Eh tapi penasaran juga."


Adam berubah pikiran. Ia meninggalkan Briel sendirian yang masih duduk di kursi. Briel menggeleng tersenyum. Adam memang menyebalkan, namun perselisihan kecil tidak akan pernah bisa memisahkan mereka.


"Aku mau gendong Nino dong..." Adam mulai bergabung.


"Rio, kamu jangan iri ya, Boy. Nino yang ingin ku gendong terlebih dahulu," ucap Adam sedikit angkuh.


"Terima kasih, uncle. Sayangnya aku tidak ingin uncle gendong," ucap Runi menirukan anak kecil. Ia tersenyum miring, membuat Adam gerah.


Adam menulikan telinganya. Ia tidak menggubrisnya lagi. Ia mulai menimang Nino. Di waktu–waktu pertama, Adam masih bisa tertawa. Namun di waktu berikutnya, Adam mulai terkejut. Ada rasa hangat merembes di pangkuannya.


"Aaaa Nino pipis ... Astaga masih kecil saja sudah resek seperti bapaknya. Titisan Briel astaga ..." Adam meratap nasib sedangkan Nino tertawa senang.


Melihat kejadian itu, gelak tawa semua orang memenuhi ruangan itu. Mereka menertawakan nasib Adam yang kurang beruntung.


"Bagus, Son," ucap Briel di tengah gelak tawanya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2