
Dua wanita berbeda generasi telah sampai di pusat perbelanjaan. Masing–masing dari mereka telah membawa kartu ajaib kebanggaan mereka. Mereka memilah dan memilih produk branded keluaran terbaru. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka.
"Mi …. Lihat, Mi! Aku menemukan tas cantik ini!" teriak wanita yang tak lain adalah Dela. Ia mengangkat tas cantik itu. Benar–benar terlihat mewah dan berkelas.
Clara yang tengah berada di ujung lan pun menghampiri Dela yang berteriak di sana.
"Apa sih, Del?"
Clara penasaran dengan apa yang membuat Dela heboh sendiri. Ia berjalan menghampiri Dela dengan langkah yang cukup malas karena aktivitasnya diganggu oleh putrinya itu.
Dela memperlihatkan tas cantik itu. "Ini Mi! Bagus banget, Mi!"
Seketika mata Clara berbinar cerah. Ia mengambil alih tas itu, membolak–balikkannya, meneliti setiap inci tas itu. Memang benar apa yang dikatakan Dela. Tas itu terlihat begitu cantik. Tas itu berharga ratusan juta.
"Ah Mami juga ingin. Tapi nanti Papimu marah kalau Mami beli tas ini. Kemarin aja mami menghabiskan uang tak sedikit untuk membeli berlian keluaran terbaru," keluh Clara. Tatapan matanya yang berseri–seri telah berubah sendu. Wajahnya pun tertekuk sempurna. Akan sangat bahaya jika Edi kembali menyita fasilitasnya seperti beberapa tahun lalu, Clara terlalu boros menggunakan uang.
"Ah gak asik Mami ah. Yaudah Dela aja yang beli sendiri." Dela tersenyum cerah karena sebentar lagi tas itu akan menjadi miliknya.
Dela membawa tas itu ke kasir. Ia membayar tas mahal itu.
"Ini, mbak!"
Petugas kasir itu menghitung semuanya dan menyelesaikan transaksi itu. Kemudian ia memberikan tas itu pada Dela. Dela menerimanya dengan senang hati.
"Akhirnya tas ini jadi milikku."
Clara menatap Dela dengan iri, karena ia tak bisa menggunakan kartu ajaibnya dengan seenaknya. Dela tertawa melihat wajah Clara yang terlihat begitu lucu di matanya.
"Udahlah, Mi. Nanti kalau ada keluaran terbaru lagi Mami beli pada saat itu juga." Dela berusaha menenangkan hati Clara. Ia tak mau juga tas cantik itu direbut oleh Clara. Clara hanya berdecak kesal.
"Ayo pergi cari yang lain!" ajak Clara ketus. Ia masih iri dengan Dela yang bisa membeli tas itu sedangkan dirinya tidak. Dela menanggapi kekesalan Clara hanya dengan kekehan. Ia menggandeng tangan maminya itu.
🍂
"Eh Run, kita ke pusat perbelanjaan yuk?"
Runi menatap heran. "Tumben ni anak mengajakku pergi. Biasanya dia sulit sekali diajak pergi," gumam Runi dalam hati.
"Kesurupan apa kamu, Gey?"
Runi menempelkan telapak tangannya ke dahi Gea. Ia mengecek apakah Gea sehat apa tidak. Gea hati ini seperti bukanlah Gea yang biasanya.
"Astaga Runi …. Kamu pikir aku apa Run? Aku sehat dan yang penting waras."
Runi menyengir, menarik kedua ujung bibirnya ke samping.
"Kukira. Kan biasanya kamu sulit sekali jika diajak pergi."
__ADS_1
"Maaf. Tapi kali ini aku ingin mentraktirmu. Ada rejeki yang kudapat. Sekali–sekali aku mentraktirmu."
"Wihh tumbenan ini …. Okelah kapan lagi aku ditraktir sama orang yang sudah di nafkahi," gurau Runi. Mungkin jika Gea masih menghidupi dirinya sendiri Runi tidak akan pernah mau ditraktir oleh Gea. Namun kali ini ia yakin kalau suami Gea hidupnya berkecukupan.
Gea dan Runi tergelak.
"Bisa aja kamu, Run. Ayo!"
Mereka berdua mencari taxi untuk pergi ke tujuan mereka.
Namun di tengah perjalanan ia melihat seorang wanita tengah digoda beberapa gerombolan pria. Gea dan Runi, mengira bahwa mobil yang dibawa wanita itu tengah mengalami permasalahan.
"Pak, berhenti sebentar, Pak," ucap Gea tiba–tiba. Ia ingin membantu wanita malang itu. Ia tak tega melihat sesamanya mengalami kesusahan.
"Kamu yakin, Gey?" tanya Runi. Ia tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan. Ia melihat beberapa pria itu berbadan besar sedangkan dirinya dan Gea wanita berbadan kecil pula.
Gea menatap Runi. Ia mencoba untuk meyakinkan Runi. "Percayalah padaku Run."
"Tapi–"
"Kita akan baik–baik saja."
Gea masih berusaha meyakinkan Runi agar Runi mengijinkannya turun. Karena berulang kali Runi menghalanginya untuk turun.
Akhirnya setelah berkali–kali meyakinkan Runi, Runi mengijinkan Gea turun.
Sopir itu pun mengangguk. Kemudian Gea mengalihkan pandangannya pada Runi.
"Kamu tunggu di sini. Jangan keluar tanpa ijinku Run."
Runi mengangguk. Gea mengulas senyumnya. Runi semakin tegang. Hatinya ketar–ketir ketika Gea mulai turun dari mobil. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa–apa, karena dirinya jika ikut turun ia hanya akan merepotkan Gea. Runi tak bisa bela diri apapun.
Gea melihat wanita itu tengah di seret para pria itu. Wanita itu meronta–ronta minta dilepaskan. Namun semua pria itu tuli. Ia tak mendengarkan jeritan wanita itu. Gea semakin geram. Ia berlari kencang lalu menggerakkan kakinya untuk menendang semua pria itu. Mereka semua berjatuhan. Mereka tidak siap dengan serangan dadakan itu.
Mereka menatap Gea tajam. Amarah mereka menggebu. Selain karena mereka jatuh bersamaan, yang menjatuhkan harga diri mereka adalah pelaku itu adalah seorang wanita. Gea masih mengambil posisi waspadanya. Ia berdiri di depan wanita yang ketakutan itu. Tatapan matanya menatap ke semua orang itu, agar ia tak lengah dengan serangan–serangan mereka.
Salah seorang dari mereka bangkit berdiri. Ia menyeringai.
"Wah–wah …. Rupanya ada mangsa yang lebih hot nih. Kita akan semakin puas Bro!" ucapnya pada yang lain. Melihat tubuh Gea yang lebih padat membuat pria–pria itu menatapnya lebih bergairah.
Seorang pria yang lain datang menghampiri Gea. Ia ingin mencekal tangan Gea. Dengan cepat ia mencekal tangan pria itu lalu memelintirnya hingga pria itu mengaduh kesakitan. Erangan kesakitan itu terdengar nyaring di telinga semua yang mendengar.
Dengan kasar Gea menghempaskan tangan pria itu. Pria itu mundur beberapa langkah, dengan memegangi tangannya yang kesakitan. Rahangnya mengeras, matanya menajam. Ia menahan marah atas perlakuan Gea padanya. Sedangkan wanita yang berlindung di belakang Gea sesekali memejamkan mata dan menjerit ketakutan.
Pria–pria itu menyerang Gea, membabi buta. Gea berusaha keras menangkis serangan–serangan itu. Semua pria itu terkalahkan semua. Gea menyeringai karena usaha dia berhasil.
"Cih cuma gitu aja. Pantesan beraninya sama cewek yang tidak bisa melawan!" ejek Gea.
__ADS_1
Pria–pria itu akhirnya ketakutan. Mereka pergi meninggalkan Gea dan wanita itu. Runi yang menunggu di dalam taxi pun turun. Kekhawatirannya sudah berkurang karena Gea selamat.
"Gey, kamu tidak apa kan?"
Runi membolak–balikkan badan Gea, meneliti badan Gea ada yang terluka atau tidak.
"Aku tidak apa, Run," jawab Gea santai. Ia masih terengah, mencoba untuk menstabilkan napas dia.
Runi berucap syukur dalam hatinya.
"Mbak, apakah Anda baik–baik saja?" tanya Gea pada wanita itu. Wanita itu hanya menggeleng. Keringat dingin masih membasahi tubuhnya. Rasa takut masih menjalar di tubuhnya.
Ternyata di jalan yang cukup sepi itu, wanita itu dihadang oleh orang tak dikenal meminta bantuan. Ternyata mereka adalah orang jahat yang ingin melecehkannya.
"Sa–saya baik–baik saja mbak. Terimakasih udah membantu. Mari Mbak, saya duluan."
Ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya. Gea hanya melihat tubuh wanita itu sudah berada di dalam mobil. Wanita itu melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan.
Runi dan Gea bernapas lega. Akhirnya wanita itu selamat dan mereka pun juga selamat.
"Wahh ternyata kamu hebat juga ya, Gey, bisa bela diri seperti itu?"
Tanpa sadar Runi menatap Gea kagum. Ia bahkan bertepuk tangan. Ia tak menyangka, Gea yang terlihat lemah ternyata bisa bela diri seperti itu.
Gea tersenyum. "Ah kamu Run. Biasa aja kali Run." Gea tak nyaman dengan pujian yang berlebihan.
"Dahlah ayo kita lanjutkan perjalanan kita," lanjut Gea lagi.
"Ayo!"
Runi dan Gea berjalan beriringan menuju di mana taxi itu terparkir.
"Tapi, bagaimana kamu bisa sehebat itu bela dirinya?"
"Ya bisalah. Namanya juga belajar."
"Udahlah, nanti aja aku cerita. Ayo pergi dulu. Kasihan sopirnya menunggu kita," ajak Gea kemudian. Runi pun mengangguk setuju.
Akhirnya mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka.
🍂
//
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1