
"Benar begitu bukan?" ucap Edi to the point.
Edi menatap Briel dengan tatapan sinis. Ia sangatlah yakin dengan apa yang ia ucapkan. Terbukti dengan bagaimana Briel menolak sarannya untuk membawa Gea ke rumah sakit besar agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Briel masih terdiam dengan tatapan yang masih sama. Giginya berhenti mengunyah makanan yang sempat ia suapkan ke dalam mulutnya. Briel menatap datar sang papa mertua. Tangannya semakin erat memegang sendok yang sedari tadi ada dalam genggaman tangannya.
"Hei ..." ucap Frans tertahan dengan berbisik halus di samping telinga Tere.
Frans menahan Tere yang saat ini tengah bersiap untuk meledak lantaran tidak terima dengan semuanya itu. Tere tidak terima anaknya diserang dengan berbagai kalimat yang Edi lontarkan begitu saja tanpa memikirkan bagaimana pula perasaan anaknya.
"Yahh... tolong lepaskan!" ucap Tere lirih namun penuh dengan penekanan. Tere menajamkan matanya, meminta Frans untuk tidak menahannya.
Frans menggeleng lembut dengan mata yang juga terpejam kala ia menggeleng. Namun gelengan Frans terkesan begitu tegas agar apa yang ia inginkan juga dituruti oleh Tere. Pada akhirnya Tere menuruti apa kata Frans. Ia memalingkan wajahnya. Frans masih terus menepuk lembut pundak istrinya untuk menahan bara api yang membara di dalam benak Tere.
"Suami macam apa kamu ha?! Bagaimana bisa seorang suami membiarkan istrinya dengan kondisi seperti itu? Kamu sendiri bahkan tau bagaimana kualitas rumah sakit di sini. Kamu ingin dia segera mati?!"
Ucapan Edi mulai meninggi. Dalam lubuk hatinya ia begitu menyayangi Gea. Ia tidak ingin anaknya seperti itu lebih lama. Tertidur tanpa tahu kapan akan terbangun. Keadaan Gea mengingatkannya pada mendiang istrinya yang kehilangan nyawa setelah melahirkan buah hati mereka.
Prank!!!
Briel meletakkan sendoknya keras pada piring di depannya itu. Suara itu terdengar begitu nyaring hingga semua pasang mata menghentikan aktivitas mereka hanya untuk melihat apa yang terjadi.
Briel menundukkan kepalanya. Matanya terpejam. Tiba–tiba saja suara tawa terdengar di antara mereka.
"Haihhh"
"Apa apa? Saya kurang mendengarnya. Boleh Anda ulangi apa perkataan Papa Mertua sekali lagi?" ucap Briel dengan mencondongkan telinganya. Kurang ajar, dan memang. Namun bagi Briel tidak ada yang kurang ajar untuk orang yang juga tidak menghargai keberadaan dirinya.
Briel menatap ke arah Edi. Kali ini tatapannya benar–benar datar tanpa sedikitpun tawa yang tersisa.
"Masih saja berpura pura." Edi tertawa sinis. "Bilang saja kalau ada wanita lain, maka dari itu kamu hanya memberikan perawatan seadanya untuk Gea! Suami macam apa kamu?! Tahu seperti itu, lebih baik kamu kembalikan dia pada saya!"
Edi meluap–luap tanpa menyaring kembali kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.
Kelewatan, benar–benar kelewatan. Apa yang Edi lontarkan menggores hatinya begitu lebar, menusuknya dalam. Tidak ada sedikitpun perkataan Edi yang benar akannya.
__ADS_1
Briel tertawa sumbang, hingga semua orang yang ada di sana kembali menoleh ke arah meja mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Wow wow wow ... Pengalaman ya Bund." Briel menatap Tere untuk mencari pembenaran walau sebenarnya ia tidak butuh pembenaran. Kalimat itu hanyalah kalimat sindiran yang sengaja ia lontarkan.
"Jangan samakan saya dengan diri Anda! Saya bukan Anda yang dengan mudahnya mendua!" seloroh Briel.
Brakk!!
"Tau apa kamu tentang saya!" Edi berdiri lantas menunjuk tegas ke arah Briel.
Edi tidak terima dengan pernyataan yang tidak sepenuhnya benar dari mulut Briel. Dia bukan mendua namun terpaksa mendua. Andai saja bukan karena suatu insiden tidak terduga, jebakan dari Clara, ia juga tidak akan mendua hingga mempunya anak tanpa sepengetahuan Annaya.
"Begitupun juga dengan Anda. Anda tidak mengenal saya. Bahkan Anda yang tidak sedikitpun pernah peduli dengan puteri Anda sendiri tidak tahu kan bagaimana dia menjalani harinya? Jadi jangan bertingkah sok peduli dengannya. Anda tidak tahu apapun tentang itu," ucap Briel datar namun tajam.
"Kurang ajar!!" umpat Edi. "Dia anak saya dan saya tau apa yang dia butuhkan saat ini!"
"Jaga bicara Anda Tuan!!!" Tere tidak tahan lagi. Hati seorang ibu tidak rela jika anaknya dihina seperti itu oleh orang lain. Dan paling parahnya adalah oleh mertuanya sendiri. "Dia anak saya, saya yang melahirkan dia. Bagaimana mungkin Anda mengumpatinya tepat di depan saya?!"
Mata Tere memerah, dadanya sesak menahan tangis agar tidak pecah saat itu juga. Menangis berarti kalah, baginya saat ini.
"Aku tidak menuduh dan itu FAKTA! Tidak usah mengelak lagi." Edi masih yakin dengan apa yang ada di pikirannya.
"Aku selesai."
Tanpa menunggu mereka usai, Briel memutuskan untuk mengakhiri semuanya sebelum ia semakin lancang untuk mencela sang mertua. Ia muak dengan drama dadakan yang ada tanpa diundang. Cukup, dan ia ingin kembali kepada sang istri.
Dengan langkah tergesa ia pergi meninggalkan 3 manusia paruh baya yang masih memanas itu.
"Briel ..." panggil Tere namun Briel tidak mengindahkannya. Ia tidak ingin dirinya kalap di sana.
Tere mendesah kesal. Di hatinya terselip kekecewaan yang begitu besar akan sikap besannya yang tanpa hati tega merundung anaknya seperti itu.
"Ayo pulang." Frans merangkul pundak Tere. Lirikan matanya tajam menatap Edi datar. Ia pun juga kecewa dengan kejadian ini.
Mereka pergi tanpa ada sedikitpun kata yang terlontar untuk Edi. Kekecewaan itu telah menutup semuanya. Tidak sedikitpun Edi menatap kepergian mereka. Ia mengalihkan pandangannya ke arah samping.
__ADS_1
Brugh!!
Edi menghantamkan kepalan tangannya pada meja di sana. Ia meraup kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun apa daya. Gea adalah seseorang yang ia punya saat ini. Gea berharga di hidupnya. Ia tidak ingin kehilangan Gea selamanya. Cukup ia pernah kehilangan Gea sementara namun tidak untuk selamanya sama seperti Annaya kala itu.
Pada dasarnya keegoisan itu muncul dengan sendirinya. Egois dan Edi sadar akan hal itu.
"Suatu saat kamu mungkin akan merasakannya Briel," ucap Edi dalam hati. "Namun kuharap kamu tidak merasakannya."
Tidak ada yang paham bagaimana hati Edi. Ia hancur melihat anaknya terbaring tidak berdaya seperti itu. Ia kehilangan arah hingga ia tidak bisa menahan apa yang seharusnya tidak ia ucapkan.
"Annaya, aku hanya tidak ingin dia pergi sepertimu." Edi berucap lirih. Ia menyangga kepalanya dengan siku tangan yang bertumpu pada meja. Ia menundukkan kepalanya dengan sebelah tangannya yang ia gunakan untuk memijat pelipisnya.
"Tuan, ini billnya."
Sudah cukup lama seorang pramusaji menunggu keadaan mereda untuk menagih pembayaran makanan yang belum dibayar itu. Ia tahu jika pelanggannya itu tengah mengalami masalah besar. Namun bisnis tetaplah bisnis. Ia tidak ingin menanggung kerugian karena pelanggannya tidak membayarnya atau dia akan dipecat.
Ia memberikan bill itu dengan hati–hati agar tidak mendapat amukan dari Edi.
"Ya!"
Edi menerima bill itu lantas memberikan kartu debitnya untuk membayar tagihannya. Sang pramusaji menunduk hormat lantas pergi meninggalkan Edi untuk memproses pembayarannya.
🍂
//
wkwk 😭 pramusaji yang realistis sekali ya bund wkwk perlu dicontoh biar tidak rugi dan kena pecat 👯
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1