
"Ck lama–lama aku bosan di sini terus menerus," keluh Dela.
Berminggu-minggu berada di sana tanpa pergi kemanapun membuat dirinya bosan. Ia duduk di depan teras. Ia menyangga dsgunya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pahanya. Berulang kali ia menghela napas.
"Aaarrgghh! Lama–lama aku bisa mati bosan di sini. Di sini aku tidak bisa berbuat apa–apa."
Dela mengacak kasar rambutnya frustasi lantas kembali menyangga dagunya. Kali ini dengan bibir yang lebih manyun. Wajahnya terlihat kusut seperti baju yang di remas puluhan kali dan tidak pernah diseterika.
"Aihhh sepertinya aku butuh teman. Tapi siapa temanku? Mereka saja tidak tahu entah di mana kala aku membutuhkan mereka. Dasar teman biadab. Bodoh juga aku dulu hanya dimanfaatkan mereka. Mereka ada hanya di saat aku kaya. Sekarang? Boro–boro bantu. Kelihatan batang hidungnya saja tidak!" Dendam akan mereka kian membara kala mengingat hal yang sudah berlalu.
Setelah sekian waktu berlalu, Dela baru menyadari jika selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh teman–temannya. Ingin marah, namun ia tidak bisa marah ke siapapun. Mau banting barang juga percuma. Tidak ada barang yang bisa dibanting. Mau banting piring sayang. Piring di sana hanya terbatas. Jika ia banting piring itu, ia tidak akan bisa makan dengan nyaman. Banting pintu?
Dela melihat ke arah pintu. Ia menatap pintu itu dari ujung sampai ke ujung. Seketika dia tertawa miris.
"Aku banting sekali aja pasti remuk," ucapnya prihatin.
Dela menghela napas kasar. "Aaaaa ... Kenapa hidupku gini amat sih? Perasaan tidak ada sedikitpun aku berurusan sama si amat," keluh Dela. Ia menenggelamkan kepalanya dalam dua kakinya yang ia tekuk.
"Hei Neng, ngapain disitu aja?"
Tiba–tiba saja seorang ibu–ibu kang gosip tetangga sebelah rumahnya melambai ke arah Dela. Seketika Dela yang tertunduk pun mengangkat kepalanya. Ia menatap ibu itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sang ibu itu datang menghampiri Dela yang masih duduk di teras rumahnya itu dengan tangan kiri yang sibuk memegang kipas bahkan tidak akan pernah membiarkan kipas itu terlepas dari genggamannya.
"Siapa dia?" tanya Dela yang bermonolog dengan dirinya sendiri. Yang ia tahu hanyalah seorang ibu–ibu berpakaian glamor, berusia 40 tahunan berbadan berisi lebih ke gemuk datang menghampirinya
"Kamu ngapain di situ aja? Kamu sudah lama kan tinggal di sini?" tanya ibu itu ramah. Ia pernah melihat Dela membeli sayur di tukang sayur yang sudah menjadi langganannya.
Dela menatap wanita yang cukup berumur itu dengan tatapan bingung. Ia hanya menjawab ibu itu singkat dan ragu.
"I–iya."
"Oh iya, aku Ida, istri dari ketua RW terkaya di perkampungan ini," ucap Ida menyombongkan diri. Ia mengulurkan tangan ke arah Dela. Tangannya juga ikut bergerak untuk menggambarkan seberapa besar kekuasaan dan pengaruhnya di kampung itu.
__ADS_1
"Hah? Baru jadi istri ketua RW dan orang terkaya di kampung ini bangga?! Apa kabar papa ku yang punya perusahaan besar? Bisa–bisa tanah semua orang yang di sini bisa dibeli beserta warga–warganya!" gumam Dela dalam hati.
Ingin sekali Dela menertawakan ibu–ibu itu. Namun sebisa mungkin ia tahan, atau dia akan kehilangan kesempatan untuk menghilangkan kebosanan.
"Ah tapi sayangnya kini sudah tidak bisa." Diam–diam Dela menghela napas kasar.
Ida masih menatap Dela sedangkan Dela tersenyum canggung. Lebih tepatnya risi dan ingin mengejek.
"Ehee ... Saya Dela, Bu."
Dela mengulurkan tangannya menjabat tangan Ida. Ida tersenyum jumawa. Lantas seusai itu Ida mengibaskan tangannya. Ia menyibakkan rambutnya yang tergerai dengan sebuah rol di poninya. Sebelah tangannya yang memegang sebuah kipas pun kini mulai mengipasi dirinya. Ia ingin memperlihatkan jika ia memiliki level kelas tinggi.
"Iyuhh sok berlagak!" caci Dela dalam hati. Ia ilfill dengan sikap Ida yang sok seperti itu. Pada intinya tidak boleh ada orang yang melebihi dirinya. Itulah Dela.
"Kenapa kamu di situ terus? Di rumah saja terus tidak mau main–main ke luar," sindir Ida halus. Jiwa–jiwa julidnya mulai keluar.
"Hehhehe ... Iya Bu. Mau bagaimana lagi? Saya orang baru dan juga tidak punya teman," ungkap Dela sok sopan. Baru kali ini ia sopan dengan orang lain. Namun jangan ditanya. Hatinya sudah penuh dengan segala macam bentuk umpatan.
"Makanya ayo keluar. Sekali–kali main gitu kek atau gimana. Masih muda kok kudet!" ledek Ida tanpa filter.
"Wah wah wah, mulutnya mulai semena–mena. Yang ada kau yang kudet!" Dalam hati Dela tidak terima kata kudet tersemat untuk dirinya.
"Dia yang norak dan kudet, malah ngatain orang lain. Definisi annjing teriak annjing ya ini," lajutnya dalam hati. Batinnya sudah sangat jengkel dengan tingkah ibu–ibu kampung satu itu. Matanya terganggu setiap melihat rol rambut yang dipakai ke mana–mana itu.
"Atau kamu mau ikut aku arisan saja? Ada arisan ibu–ibu di sini setiap seminggu sekali."
Mendengar kata arisan, seketika wajah Dela berbinar. Ia rindu akan kegiatannya itu dulu. Arisan dengan teman–temannya.
"Eh? Beneran Bu, ada?"
Seketika Ida mengibaskan rambutnya sok cantik. "Ada dong. RW ini kan RW gahul!" ucap Ida menyombong lagi yang tentunya membuat Dela enek.
"Kalau gitu saya ikut, Bu!" ucap Dela antusias.
__ADS_1
"Ya sudah ayo. Tapi ada syaratnya." Ida menaik turunkan alisnya sekilas. Ia tersenyum penuh arti yang membuat Dela mengerutkan dahinya.
"Sayarat apa?"
"Jangan panggil aku "ibu". Panggil aku, "jeng" atau "sista". Itu adalah salah satu aturan seseorang ingin menjadi member perkumpulan ini."
Blar
Ida mengembangkan kipasnya tiba–tiba lantas mengipaskannya untuk dirinya sendiri. Ida berucap dengan pedenya. Hal itu membuat Dela ingin muntah seketika.
Dela sedikit memalingkan wajahnya. Ia memejamkan matanya sebentar. "Aduh gayanya ibu–ibu ini. Haihh andai aku masih kayaaa, aku tidak akan bertemu dengan dia..." jeritnya dalam hati.
Dela menarik napas dalam lantas kembali menghadap ke arah Ida. Ia tersenyum canggung, "baik, Jeng Ida."
Hanya dengan mengucapkannya saja sudah ingin membuatnya tertawa mual. The real of munafik!
"Good ... Ayok berangkat."
"Sebentar Jeng Ida, saya ganti baju terlebih dahulu." Dela mengamati bajunya yang tidak layan pakai untuk pergi. Ia hanya menggunakan daster. Bahkan ia pun belum mandi. Baru sebatas cuci muka dan sisir rambut saja.
Ida melambaikan tangan. "Tidak perlu, tidak perlu. Memakai itu saja sudah cukup. Orang cantik mau diapa–apain saja tetap cantik," ucap Ida sekaligus memuji kecantikan Dela yang bisa dikatakan paling cantik di kampung itu. Tentunya tidak akan melebihi batas kecantikanya. Masihlah di bawahnya.
"Sudahlah ayo," ajaknya sekali lagi.
Dela mengangguk lantas mengikuti kemana Ida pergi.
"Nasib–nasib," ratap Dela dalam hati.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻