Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
149. Kenapa (Briel, Gea)


__ADS_3

Di ruangan serba putih, di sinilah Frans berada. Hari ini ia melakukan check up mengenai kakinya yang patah. Kakinya berangsur–angsur mulai membaik, bahkan sekarang ia sudah tidak lagi mengenakan tongkat.


"Ayah, Bunda," sapa Sam dengan berbalut jas putih di tubuhnya. Ia menghampiri Tere dan juga Frans yang telah usai check up.


"Hai Sam apa kabar?" ucap Frans. Sam pun mencium punggung tangan Frans dan Tere.


"Baik Yah. Bagaimana dengan kalian?" tanya Sam kemudian.


Sudah cukup lama mereka tidak saling bertegur sapa. Setelah kepulangan Frans waktu itu, Sam bukan lagi dokter yang menangani Frans hingga Frans benar–benar pulih seperti saat ini. Obrolan kecil terjadi di antara mereka.


"Yah, Bun, Sam tinggal dulu ya, ada pasien yang harus segera Sam tangani juga," pamit Sam sembari melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya ... Selesaikan kewajibanmu," ucap Tere dengan tangan yang menggandeng lengan Frans.


Sam tersenyum. Ia berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu. Sementara itu Frans dan Tere kembali ke tujuan mereka, segera meninggalkan tempat itu.


"Yah, aku tidak menyangka kalau mantan calon besan kita dulu seperti itu," ucap Tere bergidik ngeri. Perbuatan Kemal yang curang di dunia perbisnisan merupakan perbuatan yang tak manusiawi membuatnya ilfeel.


"Sama Bun. Ayah juga tidak menyangka. Untung saja dulu ada tragedi salah pengantin. Bagaimana jika Briel menikah dengan Sela seperti rencana kita? Mungkin sekarang kitalah yang bahkan tak mempunyai apapun Bun. Sudah habis dikuras oleh mereka," ucap Frans. Pikirannya kembali ke masa di mana mereka merencanakan perjodohan anak mereka dengan Sela. Betapa bersyukurnya mereka akan hal itu.


"Sudahlah. Ayo kita bergegas pulang," ucap Frans dengan senyum tulus yang terlukis jelas di wajahnya. Tere membalas senyum tulus Frans dengan manis pula. Mereka berjalan beriringan. Bahkan kemesraan mereka tak pernah pudar walau raga mereka telah termakan usia.


"Thank God," ucap syukur mereka berdua dalam hati.


🍂

__ADS_1


Sementara itu di dalam ruangan Briel, Briel dan Gea tengah menonton film kesukaan Gea dengan menggunakan laptop kerja Briel. Briel bersandar pada punggung sofa sedangkan Gea sendiri bersandar manja pada bahu Briel yang lebar. Wah ... begitu nyaman Gea rasakan.


"Astaga ... Romantis sekali mereka," ucap Gea dengan netra yang masih tertuju pada video yang masih berputar itu. Keromantisan dua sejoli itu sangat menyatu hingga membuat Gea yang melihatnya tanpa sadar melting. Ingin sekali ia diperlakukan seperti wanita yang ada di video itu oleh pasangannya.


Seketika itu juga, Gea menatap Briel dan layar laptop bergantian. Matanya mulai menyipit. Briel terheran–heran dibuatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Briel.


"A .... Tidak mungkin," ucap Gea kemudian tanpa menjawab pertanyaan Briel. Wajah Gea terlihat lesu seusai mengucapkan kata itu. Briel semakin bingung dibuatnya. Ada apa dengan istrinya itu.


"Kenapa wanita aneh sekali?" tanyanya dalam hati. Sampai sekarang sering kali ia tak paham dengan apa yang wanita pikirkan. Tak masuk dalam nalarnya sebagai laki–laki.


"Kamu kenapa, hem?" tanya Briel lembut.


Gea memperlihatkan deretan gigi rapinya. "Nothing," jawabnya singkat.


"Aaa ... Bahagianya mereka," celetuk Gea. Gea terharu melihat akhir cerita yang bahagia seperti di film itu. Beberapa tetes air yang mengalir dari mata Gea.


"Hei ... Kamu kenapa Geyang?" tanya Briel lembut. Rasa khawatir terselip di hati Briel. Melihat Gea yang tiba–tiba menangis membuat hatinya gundah.


"Iss ... Apaan sih Bayang. Aku tidak kenapa–napa. Apakah kamu tidak melihat? Akhir cerita inilah yang membuatku menangis. Haih dasar kaum lelaki. Dijelaskan bagaimanapun tak akan mengerti!" omel Gea kesal karena pertanyaan Briel yang sama dan berulang–ulang. Ia mulai memutar film lainnya yang ingin ia tonton.


Briel benar–benar melongo dibuatnya. Bahkan ia hanya bisa menepuk dahinya sendiri melihat Gea yang mengomel seperti itu.


"Benar–benar wanita susah untuk dipahami," gumam Briel dalam hati. Briel menggelengkan pelan kepalanya.

__ADS_1


Tiba–tiba saja dering gawai Briel pun terdengar. Segera Briel mengangkat panggilan masuk itu. Seketika raut wajahnya berubah. Hal itu membuat Gea berhenti dari aktivitasnya.


"Ada apa ini?" tanya Gea dalam hati sembari terus melihat Briel yang masih serius berkomunikasi dengan lawan bicaranya.


🍂


//


Hai semua...


Sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya othor kece 🤗



Dan juga karya para kodok aer 😘😭 yg tak kalah seru



terima kasih 🤗


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2