
Di hari berikutnya, Edi tidak patah semangat. Ia kembali mengunjungi anaknya, membujuknya hingga Dela mau pergi bersamanya. Ia berusaha keras. Pada nyatanya kemarin ia sakit lantaran memikirkan anaknya yang tengah hamil dan hidup susah di luar sana tanpa dirinya dan fasilitas darinya.
"Aku tetap tidak mau. Papi aja kemarin buang aku, kenapa pula aku dipungut?" Dela berucap sarkas.
"Aku tetap tinggal di sini," ujar Dela kekeh.
"Papi tidak membuangmu, Nak. Papi hanya ingin mengajarimu." Edi berusaha menjelaskan pemikirannya.
"Mengajari?" Dela tertawa sumbang. "Dela bukan balita lagi, Pi. Aku sudah dewasa. Aku tidak butuh diajari!" Dela masih juga bersikap angkuh. Ia masih menyangkal jika dirinya memang semenyebalkan itu.
"Pergi dari sini Pi. Aku capek, ingin istirahat," usir Dela tanpa menatap Edi. Mungkin jika kedua pasang netra itu saling bertaut, ego Dela akan goyah.
"Aku ingin tinggal saja dengan Gaza. Hanya dia yang peduli denganku selama ini," lanjut Dela lagi yang kini membelakangi Edi.
Edi mengangguk–angguk mengerti. Ia menyerah. "Baiklah. Papi pulang," pamit Edi. Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. Ia pergi dengan tangan kosong. Sedangkan Gaza yang sedari tadi hanya menunggu di depan rumah, menatap punggung yang mulai renta itu menjauh.
"Aaahhh ... Aku melewatkan hidup mewahku," rengek Dela dengan sesal. Ia mengacak rambutnya itu. Bayangan akan hidup mewah kini sirna seketika. Ia menklak mentah–mentah ajakan Edi.
"Ah tidak tidak. Salah siapa Papi membohongi ku?!" Wajah julid nya sangatlah kentara.
"Makanya pulang aja sana. Bereskan?" ujar Gaza yang tanpa Dela sadari kini ada di sana.
"Pulang?? Oh nooo!!! Apa kata obama kalau aku pulang sekarang. Kau saja sana yang pulang sama Papi!" tolak Dela keras.
"Terserah. Paling kamu cuma hidup susah begini sampai kiamat."
Kalimat santai itu seakan menjadi ancaman halus bagi Dela. Dela terdiam sejenak, memikirkan apa yang Gaza katakan.
"Tidak tidak tidak. Tidak boleh goyah!" ujar Dela dalam batin menyadarkannya. Ia menggelengkan kepalanya cepat.
"Bodo amat, yang penting hidup!"
Berpura pura acuh tak acuh menjadi jalan ninja. Dela pergi ke luar untuk kembali mencari dasternya yang hilang itu. Istirahat hanya menjadi alibi agar Edi segera pergi.
"Haihh anak itu membuatku semakin pusing saja." Gaza menggeleng berulang kali. Ia mengacak rambut pendeknya itu. Sepotong kain yang ia pegang ia lempar asal.
🍂
"Wihh tumben sekali kau datang ke sini lebih awal?"
__ADS_1
Marvel menyapa Gaza. Sudah cukup lama Gaza tidak datang ke club pada waktu siang. Dan kali ini ia melihat Gaza duduk dengan sebatang rokok yang terselip di antara dua jarinya. Asap rokok mengepul tebal.
Gaza hanya menoleh sekejab saja. "Kau lagi kau lagi!"
Melirik terlalu lama pun ia malas. Gaza kembali bergeming. Ia sibuk dengan segala kalimat di pikirannya. Kakinya menyilang, punggungnya yang bersandar di punggung kursi di ruangan yang tertutup dengan kepala yang mendongak dan asap yang terus mengepul.
"Heiihh ...." Marvel yang diabaikan pun kini memilih untuk duduk di kursi depan gaza Gaza. Ia menjadikan kedua kakinya sebagai tempat tumpuan tangannya. Jemarinya saling melipat. Tatapan matanya masih tak lepas dari sosok di depannya itu.
"Ada masalah lagi? Apa yg kau pikirkan?" tanya Marvel kala Gaza tak kunjung pula angkat bicara.
Gaza menghela napas panjang.
"Entahlah."
Gaza membuang bagian rokok yang sudah terbakar ke asbak.
"Hilihh! Ngomong apa susahnya? Kau kira aku pajangan di sini?"
Kedua kalinya Gaza menghela napas panjang. Ia masih dengan tatapan kosong dan rokok yang menyala. Tidak lama kemudian Gaza membuang putung rokok itu. Ia mematikan apinya dengan air mineral yang juga ada di sana.
"Aku hanya memikirkan ucapan Papinya Dela. Dia ingin aku menikahi anaknya."
"Weee?? Kenapa bisa?" tanya Marvel. Ia terkejut mendengar semua hal itu.
Marvel gelagapan. "Ya–, ya gimana. Kabar ini terlalu dini untukku dengar," ujar Marvel jujur.
Gaza melihat Edi keluar dari rumahnya. Sampai depan pintu, Edi membenarkan kemeja yang ia pakai. Baru saja ia ingin melangkah, Edi berbalik menghadap ke Gaza.
"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu."
"Ya, silahkan," ujar Gaza.
Edi menatap Gaza cukup lama. Sedangkan Gaza hanya menatap Edi datar.
"Bujuk dia pulang ke rumah. Kalau dia tetap tidak mau, kau bisa ikut ke rumah bersamanya."
Tidak ada cara lain. Hanya itu cara yang tersisa.
Kalimat yang terlontar itu membuat Gaza menghela napas.
__ADS_1
"Kenapa Anda melibatkan saya? Anda bisa bicara langsung dengan Dela."
Edi tersenyum miring. Miris rasanya kala mendengar setiap penolakan Dela. Pernyataan Gaza terdengar seakan mengejeknya.
"Kau bahkan tahu bagaimana respon dia."
"Hmms ... Untuk saat ini, sekuat apapun Anda membujuk dia tidak akan mau," ujar Gaza serius. Ia mendengar sendiri bagaimana kekehnya keputusan Dela sejak Edi menghampiri mereka untuk pertama kali.
Edi menatap Gaza sesaat."Nikahi anak saya."
"Aihhh bagaimana mungkin tidak membuatku frustasi? Mana mungkin aku menikahinya? Tiap hari yang ada hanya perang perang dan perang. Kau tau sendiri bukan?" Gaza mengacak rambutnya frustasi.
"Pffftt"
Sekuat tenaga Marvel menahan tawa. Miris sekali kisah percintaan sahabatnya itu.
"Kenapa kau tertawa ha?" Gaza geram dengan tingkah sahabatnya itu yang malah menertawakan nya.
"Bukan begitu. Sekian lama kau jadi simpanan tante tante, sekalinya dapat wanita muda eh sudah mengandung. Astaga ... Sungguh malang nasibmu Gaza." Marvel semakin gencar menggoda nasib Gaza.
"Sialan! Tidak berguna aku berbicara padamu!"
Gaza merajuk sedangkan Marvel membiarkan Gaza seperti itu. Dalam waktu yang tidak lama, Gaza pasti juga akan kembali, pikir Marvel.
Gaza kembali menyulut sebatang rokok. Ia mengabaikan keberadaan Gaza di sana. Bimbang ia rasakan. Pasalnya ia hanya peduli dengan Dela, bukan untuk menikahi wanita hamil muda itu.
"Benar–benar penghancur hidup!" umpat Gaza dalam hati.
🍂
Di dalam mobil, Edi mengingat kembali perkataannya pada Gaza. Ia telah memikirkan matang–matang apa yang ia ucapkan. Jika Dela masih tinggal serumah dengan Gaza, ia akan tetap meminta Gaza menikahi Dela. Ia tidak ingin anaknya berlaku zina. Tidak baik dua manusia beda gender dan tidak ada ikatan darah berada dalam satu rumah dalam jangka waktu yang lama.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu Del. Ulahmu selama ini membuat Papi sangat mengkhawatirkanmu dibanding dengan Gea yang lebih dewasa menghadapi banyak hal."
Seandainya Gaza memang ingin menikahi Dela, ia tidak akan keberatan dengan semua latar belakang Gaza. Setidaknya Gaza sudah tulus merawat anaknya selama ini. Kepercayaannya sudah ia letakkan pada diri Gaza.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes
Jangan lupa bahagia 🌻🌻