Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Di Antara Dua Keadaan


__ADS_3

Dalam matanya yang terpejam Briel menarik napas dalam–dalam. Waktu yang ia lalui semalam terasa begitu lama. Bibirnya tertarik ke atas, dalam matanya yang terpejam itu. Ternyata sampai sekarang ia masih merasakan kekosongan itu.


Briel tersenyum miris. "Masih sama," gumamnya dengan tubuh yang masih terbaring.


Perlahan ia membuka matanya. Hal yang ia lihat pertama adalah langit–langit ruangan itu. Warna putih itu semakin menunjukkan kekosongan di dalam dirinya. Briel menarik napas dalam.


"Baiklah, mari kita sambut hari."


Briel mulai duduk kembali. Ia melihat ke arah istrinya yang masih saja tertidur di pagi itu tanpa ada tanda–tanda ingin kembali terbangun. Sekilas ia mencoba memberikan senyuman terbaik untuk istrinya, berharap Gea melihatnya.


Langkah demi langkah, ia berjalan menghampiri ranjang istrinya.


"Good morning my heart."


Briel menatap dalam wajah pucat polos itu. Lekat, meniti inci demi inci kecantikan istrinya bahkan dengan tertidur sekalipun. Briel mencium kening Gea perlahan. Cukup lama ia memberikan kecupan itu. Ia mencurahkan semua kasih sayangnya lewat kecupan itu, berharap Gea mampu merasakan kehadirannya di sana.


"Segeralah bangun dan kembali ya," ucap Briel lirih.


Tidak lama kemudian datanglah seorang dokter dengan perawat di sampingnya. Ia datang untuk memeriksa bagaimana kondisi Gea saat ini.


"Pagi Tuan Briel," sapa Dokter itu.


"Iya, pagi Dok."


Briel mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa bagaimana keadaan istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana Dok dengan istri saya saat ini?"


Dokter itu menatap cukup lama ke arah Gea. Jari jemarinya bergerak satu sama lain. Ia juga bingung dengan kondisi Gea saat ini.


Dokter itu menarik napas dalam dengan perlahan. Ia berusaha membuat agar keluarga pasien tidak cemas.


"Keadaan istri Anda semakin membaik. Hanya saja saya juga tidak tahu kapan istri Anda akan tetap tertidur seperti ini."


Ada gurat kesedihan di wajah dokter itu. Tidak rela sebenarnya ia menyampaikan itu semua. Namun apapun yang terjadi ia harus menyampaikannya pada keluarga pasien.


Kelegaan yang awalnya menjalar di dalam diri Briel kini mulai redup kembali. Namun setidaknya ia harus bersyukur lantaran itu artinya besar kemungkinan Gea untuk kembali bangun.


"Terimakasih Dok," ucap Briel dengan senyum meski sedikit dipaksakan.


"Saya mohon tetap terus ajak istri Anda berkomunikasi. Mungkin dengan begitu beliau mempunyai keinginan lebih untuk terbangun." Dokter itu memberikan saran.


Briel mengangguk. "Siap Dok. Apapun akan saya lakukan."


Dokter itu tersenyum. "Nyonya Briel, saya pamit ..." Dokter itu menyapa Gea yang masih tertidur. "Tuan ..." Dokter itu juga berpamitan pada Briel dengan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Briel hanya membalas dengan hal yang sama pula.


Briel menarik kursi yang tidak jauh dari sana. Ia mendekatkan kursi itu tepat di samping ranjang. Ia meraih tangan Gea lembut, tidak ingin menyakiti istrinya itu.


"Hei Sayang... Apakah kamu mendengarnya? Kondisimu membaik sekarang."


"Ayok Sayang, bangunlah. Apakah kamu ingin tertidur seperti ini? Apakah kamu tidak ingin melihat mereka berdua? Mereka merindukanmu, Sayang."

__ADS_1


Briel berusaha keras untuk membuat Gea kembali terbangun. Namun sepertinya usaha yang ia lakukan masih belum bisa membuat Gea tergerak.


🍂


Kini mereka semua duduk bersama di rumah makan depan rumah sakit itu; Briel, Frans, Tere, dan Edi. Untuk berada di meja yang sama, mereka harus memaksa Briel yang sebenarnya hanya ingin menemani istrinya.


"Ayolah Son. Kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu. Lihatlah dirimu sekarang. Jambang kamu semakin tumbuh liar."


Briel enggan menjawab apapun. Ia hanya menatap ke arah Frans dengan menghela napas kasar. Ia berusaha menuruti mereka walau dengan berat hati.


"Ya," jawabnya singkat.


"Sepertinya kita perlu memindahkan Gea ke rumah sakit yang lebih besar." Tiba–tiba saja Edi membuka pembicaraan.


"Untuk apa?" sahut Briel cepat.


"Peralatan medis di kota lebih lengkap. Mungkin dengan begitu Gea bisa ditangani lebih baik." Edi benar–benar tidak percaya lagi dengan kualitas rumah sakit di sana. Perkataan Briel tentang bagaimana kondisi Gea meruntuhkan kepercayaannya.


"Tidak perlu, Pa." Briel menjawab dengan tatapan yang kosong.


"Hufft kenapa?! Gea berhak mendapatkan yang terbaik. Bukan dengan keadaan yang seperti tidak ada ujungnya seperti ini!" Edi mulai tersulut emosinya.


"Atau jangan jangan kamu sudah mulai bosan dengan anak saya yang saat ini tidak bisa berbuat apa–apa, terbaring tidak berdaya seperti itu?!"


Edi benar–benar kehilangan kendali. Ia melontarkan semua perkataannya itu. Ia ingin hal yang terbaik untuk anaknya. Namun sang menantu menolaknya mentah–mentah. Ia menatap Briel dengan nyalang. Semua pikiran buruk ada di dalam benaknya, menggiring semua letak kesalahan Briel yang mampu ia lihat.

__ADS_1


"Benar begitu bukan?" ucap Edi to the point.


Briel masih terdiam dengan tatapan yang masih sama. Giginya berhenti mengungyah makanan yang sempat ia suapkan ke dalam mulutnya sedangkan Frans menahan Tere yang saat ini bersiap untuk meledak lantaran tidak terima dengan semuanya itu.


__ADS_2