Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Bertingkah Lagi


__ADS_3

“Yah…”


Tere memanggil Frans yang tengah menikmati teh hangat tanpa gula yang kini sudah mulai mendingin. Frans menoleh dengan cangkir teh yang masih ia pegang.


“Hm?” sahut Frans pada Tere yang kini sudah berada di depan Frans turut serta menikmati tehhangat tawar dengan bolu pandan sebagai camilannya. Teh itu perlahan membasahi tenggorokan Tere.


“Coba Ayah coba bantu mereka carikan babby sitter baru. Jujur saja bunda khawatir dengan mereka. Untuk pesangonnya kita bisa memberikan 2 kali lipat dari yang seharusnya untuk Dini, Yah,” ujar Tere mengungkapkan kegelisahannya. Kepercayaan yang sudah hancur akan sulit untuk dikembalikan seperti semula. Meskipun ia yakin Dini anak yang baik, namun hati manusia siapa yang tahu.


“Iya, Bun. Ini ayah juga sudah mencoba mencari, namun memang benar. Tidak mudah untuk menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan, Bun,” jelas Frans.


Tere hanya menghela napas panjang lantas turut mengambil cangkir yang belum tersentuh sedikitpun. Ia menghirup dalam aroma teh yang cukup menenangkan.


“Sudah! Lebih baik kita lihat cucu kita saja. Barang kali mereka baru selesai mandi.” Frans mengalihkan pembicaraan untuk sedikit menghibur hati istrinya yang tengah dilanda kegelisahan. Kekhawatiran itu tertangkap jelas pada netra Frans.


Tere tersenyum lantas mengangguk. Ia paham akan usaha yang telah dilakukan oleh suaminya. Ia tidak ingin usaha suaminya sia – sia.


//


“Gege… Duo kembar belum dimandikan?” tanya Tere yang kini mengajak duo kembar bercanda tawa dengan caranya.


“Belum, Bun. Ini baru aja mau Gege mandikan.” Gea berjalan ke arah mereka bertiga. Memastikan air hangat telah siap untuk mandi duo kembar, menjadi tugas pokoknya.


“Aduh cucu oma rupanya ngantuk sekali ya… ayo bangun… jangan tidur lagi… ayo kita mandi… ”


Tere mencium pipi Rio berulang kali agar Rio tidak kembali tertidur. Rio yang tidurnya mulai tertanggu pun kini menggeliat, matanya berusaha untuk terbuka meski ingin sekali matanya itu terpejam.


"hoamm"


Bayi mungil itu menguap, masih enggan membuka kelopak matanya. Tak disangka–sangka, tanpa sengaja tangan Nino yang bergerak lantaran menggeliatkan badannya, mengenai bibir atas Rio yang mulutnya tengah terbuka. Sontak hal itu membuat tawa yang terbalut dengan suara tangisan Rio yang menjadi.


Tere menahan tawanya, meredam tawa yang menjadi. Jika Rio sudah mengerti, mungkin bocah itu akan kesal padanya.

__ADS_1


"Maafkan Oma Rio..." Tere berusaha meredam tawanya. "...mana yang sakit mana yang sakit, sini oma obatin... Buhhhh... Dah nanti sembuh ya..." Tere meniup lembut bibir Rio. Ia juga berusaha menenangkan Rio dengan menggendong Rio.


Tak disangka. Kedua bayi mungil itu memang banyak bertingkah. Setelah usai Rio menangis, Kini Ninolah yang menangis. Tere membaringkan Rio perlahan lantas beralih pada cucu satunya lagi.


"uluh uluh sudah sayang... Nino... Lain kali kalau bercanda lihat lihat dulu ya.. Kasihan abangnya kaget... Nino juga sedih kan kalau abangnya terluka..."


Kini Tere berusaha keras menenangkan Nino yang semakin menjadi. Entah bagaimana, ternyata menghadapi cucu kembar memang tidak semudah itu. Melelahkan sekali, namun lelah itu tertutup oleh rasa sayang yang berujung bahagia bisa memiliki mereka.


🍂


"Ck kenapa kau masuk ke mobilku? Turun sana!" ujar Adam geram. Seenak jidatnya Runi masuk ke dalam mobil Adam tanpa permisi. Padahal kini Adam tengah terburu–buru karena ada urusan pribadi yang harus segera ia selesaikan.


"Tidak mau! Pokoknya antarkan aku dulu ke kontraka!" Runi memaksa Adam. Tingkahnya itu tidak biasa. Kali ini ia bersikap layaknya anak kecil.


"Shiitt menyebalkan!" gumam Adam lirih sembari menepuk dahinya sendiri.


"Turun!" ujar Adam tegas tanpa menoleh ke arah Runi sedikitpun. Namun Adam masih bisa meliht Runi dengan ekor matanya.


"Tidak. Aku tidak mau turun sebelum kau mengantarku pulang!"


"CK ayolah Run... Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Waktuku akan terbuang jika aku tetap mengurusimu!"


Seperti biasa. Tidak ada filter kata bagi Adam untuk Runi.


"Justru itu. Dari pada banyak bicara, ayolah antar aku dulu. Lebih mempersingkat waktu."


Skak mat. Runi memilih piliha kata yang tepat. berbicara di mobil seperti itu hanya akan membuang–buang waktu. Padahal tidak ada banyak waktu untuk Adam saat ini.


"Andai yang dihadapanku bukan wanita, sudah kutendang ini manusia keluar dari mobilku sekarang," gumam Adam dalam hatinya. Adam memejamkan matanya jengkel. Kali ini ia tidak akan menahan amarahnya lagi. Ia memukul stir mobil cukup keras, lantas menatap mata Runi tajam.


Tak gentar sedikitpun, Runi menatap balik tatapan Adam. ia mengeluarkan jurus memohonnya. Puppy eyes dengan wajah yang memelas. "Aku harus bisa membuat Bos Gelo ini mengantarku pulang. Ayo Run, buang dulu gengsimu. Yang penting kau sampai dulu," tekad Runi dalam hati.

__ADS_1


"Siall!!" umpat Adam dalam hati.


Seketika itu juga tatapan Adam melunak. Mata puppy yang Runi tunjukkan membuat Adam tak tega. Adam membuang napas kasar.


"Kencangkan sabuk pengaman." Adam berujar datar pada akhirnya. Dalam hati Runi bersorak ria kala mendengar kalimat yang menyatakan bahwa Adam telah kalah.


"Satu masalah terselesaikan!" Rini tersenyum lega. Tipis namun cukup terlihat jika lawan bicaranya mengamatinya penuh.


"Jangan salahkan aku!" ujar Adam dengan wajah liciknya. Belum sempat Runi mencerna ucapan Adam, seketika itu juga, gas mobil tertancap. Mobil itu melaju cepat. Adam tidak mau namun juga tidak tega. Alhasil, ia memilih jalur pembalap untuk mempersingkat waktu.


"Aaaaaaa" Runi berteriak. Belum siap Runi menghadapinya, Adam sudah melajukan mobilnya kencang. Tangan Runi memegang pegangan yang ada di mobil itu. Jantung Runi berdetak lebih kencang. Matanya membeliak lebih lebar kala mobil itu selalu nyaris menabrak kendaraan lain yang ada di samping ataupun di depan mobil itu. Runi hanya berharap nyawanya masih ada saat sampai kontrakan nanti.


"Gilaaaa!!! Kau ingin membunuhku Bos Geloo!!!"


Teriak Runi sepanjang perjalanan.


Sedangkan Adam tidak peduli lagi dengan Runi. Yang terpenting baginya saat ini adalah tepat waktu. Ia memfokuskan konsentrasinya agar dirinya mampu mengendalikan mobil walau dengan laju yang tidam wajar. Bahkan rambu lalu lintas ia abaikan.


"Ibuu... doakan anakmu ini tidak matii lebih cepat," doa Runi dalam hati meminta restu. Raganya bereaksi sangat tegang. Netranya selalu awas sepanjang perjalanan.


🍂


"Dia kemana lagi?" ujar Hendri pada Briel. Kini mereka bertiga sudah berada di markas mereka.


"Tidak tahu. Dia bulan anakku!" ujar Briel asal.


"Ck!" Hendri melirik tajam. sedangkan Bima haya memainkan kuku sembari mendengarkan dua orang dewasa itu beradu mulut.


"Selalu tidak tepat! Jika sampai 15 menit tidak juga datang, sepertinya aku akan memberinya pelajaran!" sungut Briel kesal. Ia bukanlah orang yang sabar menunggu. Ia hanya akan sabat jika yang ia tunggu itu Gea.


"Sudahlah. Tinggal menunggu sambil duduk manis kan beres. Rempong sekali kalian, seperti ibu ibu kompleks saja!" sarkas Bima tanpa dosa.

__ADS_1


Seketika dengusan kesal dan lirikan tajam menghujaninya. Namun apa peduli Bima. Ia benar–benar tidak menggubris.


🌻🌻


__ADS_2