Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
72. Kepulangan 2


__ADS_3

Tak lama setelah itu, pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan seseorang yang telah mereka nanti.


"Hai semuanya …" sapa seorang pria yang tak lain adalah Sam. Ia ingin bertemu dengan Frans dan Tere di rumah sakit sebelum mereka pulang. Sapaan hangat Sam dibalas dengan senyum hangat pula oleh mereka yang ada di ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Ayah sama Bunda sekarang?"


"Sudah sembuh, Sam," jawab Tere dengan santainya.


"Lah Bunda sudah sembuh tinggal pemulihan dikit, Bun. Lha ayah?" ujar Frans sembari melihat ke arah kakinya.


"Uluh–uluh kasihan sekali kesayangannya bunda .…" goda Tere. Bibir Tere membentuk huruf 'u' dengan kepala yang ia geleng–gelengkan. Seketika gelak tawa mengglegar di ruangan itu.


"Sam, terimakasih karena sudah merawat kami sampai kami sembuh," ucap Frans dengan tersenyum tulus.


"Sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter Yah, Bun."


Kedua sudut bibir Sam tertarik ke atas. Rasa lega telah menguasai hati Sam. Ia bahagia melihat orang yang ia sayangi akhirnya mulai pulih sedikit demi sedikit.


"Yah, Bun, administrasi telah Adam selesaikan. Kita sudah bisa pulang," ucap Adam menyela pembicaraan mereka.


"Sebentar, kita menunggu seseorang," ujar Tere. Berulang kali ia menoleh ke arah pintu, memastikan kedatangan orang yang ia tunggu.


"Siapa?" tanya Briel. Ia menautkan kedua alisnya.


"Bukankah semuanya juga sudah ada di sini?" gumamnya dalam hati. Ia melupakan seseorang yang mempunyai kemungkinan untuk menemui keluarganya.


"Bunda ... Ayah …" sapa seorang wanita yang muncul dari luar ruangan diikuti orang tua sang wanita itu. Briel terdiam mematung. Ia lupa bila ternyata wanita yang tidak ia inginkan kehadirannya juga turut hadir di sana.


"Hei Sayang …" ucap Bunda. Dua wanita beda generasi bertemu. Ritual cipika cipiki mereka lakukan dengan penuh sukacita.


Kemudian Ayu berjalan mendekat ke arah Frans. Ia mencium punggung tangan Frans.


"Bagaimana kabarmu, Sel?"


"Baik Yah. Kalau tidak baik kan Sella gak mungkin bisa di sini," gurau Ayu. Semua orang tergelak kecuali Briel dan Adam. Sam tertawa dengan mata yang melirik ke arah Briel.


"Sudah lama menunggu, Yah, Bun?" tanya Ayu.


"Belum, Nak. Ini juga tadi Adam baru selesai mengurus administrasinya," jawab Tere seraya tersenyum. Hangat, adalah rasa yang terpancar tatkala senyum Tere mengembang.


"Bagaimana keadaanmu, Jeng?" ucap Selly sembari berjalan mendekat ke arah Tere.

__ADS_1


"Sudah sembuh, Jeng." Tere tersenyum. Tere melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan bersama dengan Ayu sebagai awal pertemuan mereka.


"Bagaimana keadaanmu calon besan?" Saat ini giliran Kemal yanh bertanya kepada Frans.


"Baik calon besan. Sudah sembuh, tinggal pemulihannya saja." Frans tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." Kemal tersenyum lega.


"Semakin cepat Anda membaik, semakin cepat pula pernikahan Briel dan Ayu akan segera dilangsungkan." Batin Kemal tersenyum miring. Ia ingin segera menjadi besan Frans. Dengan menjadi bagian dari keluarga Frans, maka perkembangan di dunia perbisnisannya akan semakin meningkat.


"Shit! Kenapa dia dan keluarganya harus datang ke sini?" gumam Briel dalam benaknya. Ia juga menatap Ayu dengan tatapan yang lesu. Ia juga malas untuk bertemu dengan wanita manja dan centil itu.


"Astaga–astaga ... Dia menatapku …."


Hati Ayu berbunga–bunga. Tatapan Ayu tak sengaja bertemu dengan tatapan Briel tatkala Ayu mengalihkan perhatiannya kepada Briel. Seulas senyum cerah mengembang di setiap sudut bibirnya. Ia menyelipkan rambutnya yang tergerai indah ke belakang telinga. Dengan cepat Briel memalingkan wajahnya.


Kemudian Ayu berjalan mendekat ke arah Briel. Degup jantungnya terpacu lebih cepat.


"Damn it! Jantungku rasanya ingin meloncat keluar dari tubuhku," gumam Ayu di dalam hatinya.


Dia terus berjalan mendekat, sedangkan dalam hati, Briel berdoa agar Ayu mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arahnya.


"Janganlah ke sini, please jangan!"


"Astaga … otot lengannya saja besar. Pasti enak sekali kalau aku bisa memeluknya."


Ayu menggerakkan tangannya. Ia ingin meraih lengan Briel yang terlihat begitu kekar.


Srettt


Ayu kecewa. Ia tak bisa meraih lengan Briel. Tangan Briel beralih dari jangkauannya. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menghalau rasa kecewa itu.


"Selamat. Terimakasih pada siapapun yang menelponku saat ini."


Tangan Briel segera mencari gawainya. Suara dering itu telah berbunyi beberapa saat. Ia izin ke luar untuk mengangkat telepon itu.


"Baiklah. Saya akan segera menghadirinya 1 jam lagi."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Briel mematikan sambungan telepon itu. Ia segera kembali kepada mereka semua.


"Haihh …. Kenapa harus sekarang sih?" gumamnya lirih. Karena telepon itu, ia harus pergi lebih cepat tanpa bisa turut membawa pulang kedua orang tuanya. Ia segera kembali ke dalam.

__ADS_1


"Maaf semua … maaf Bun, Yah, Briel harus segera pergi. Ada meeting penting yang harus Briel hadiri. Meeting ini berkaitan dengan perusahaan yang Briel kelola di Jerman. Ada sedikit permasalahan yang harus Briel selesaikan sendiri."


Briel berpamitan terlebih dahulu. Mungkin jika bukan hal yang mendesak, ia akan mengantar orang tuanya sampai rumah. Namun kenyataan berkata lain. Ia harus meninggalkan semuanya untuk mengurus hal itu.


"Baiklah, Bri," ucap Frans. Kemudian ia beralih menatap Adam. "Dam, kamu ikutlah Briel saja."


Adam mengangguk. "Baik, Yah."


"Sudah, Yah, tidak apa. Briel bisa sendiri. Adam bersama kalian saja. Kalau nanti Adam bersamaku, kalian nanti pulang sama siapa? Kalian harus repot memanggil sopir untuk menjemput kalian."


Frans terdiam, dia juga mengangguk pelan, membenarkan ucapan Briel. "Pernyataan Briel memang ada benarnya," gumam Frans di dalam hatinya.


"Baiklah, hati–hati di jalan. Semoga cepat selesai."


Briel mengangguk.


"Mari Om, Tante …" ucap Briel pada Selly dan Kemal sembari berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Ia masih berusaha seramah mungkin kepada orang yang lebih tua darinya. Ia sadar, bahwa posisinya saat ini, dia adalah seorang anak yang harus menghormati orang yang lebih tua.


Briel melangkah dengan kaki lebar, agar waktunya tidak terbuang sia–sia karena kelambatannya.


Sementara di dalam ruang perawatan, wajah Ayu ditekuk sempurna. Ia kecewa dengan kenyataan yang ia hadapi. Niat hati ingin menjemput calon mertua dan bertemu dengan calon suami, namun harapannya pudar tatkala Briel pergi terlebih dahulu.


Selly berjalan mendekat ke arah Ayu. Ia mengelus pundak Ayu untuk menenangkan Ayu agar lebih tenang. Kemal hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya ringan.


"Dasar anak muda," gumam Kemal lirih. Tak ada seorangpun yang sadar akan gumamannya.


"Sudah Sayang … jangan terlalu dipikirkan. Lagi pula Briel bekerja juga untuk masa depannya." Tere memberikan pengertian agar Ayu mengerti tanpa kecewa terlalu berat. Ia tahu, kebiasaan sang anak yang gila kerja ternyata masih sulit untuk dihilangkan.


Ayu mengangguk, dengan bibir yang masih mengerucut.


"Senyum dong camen sayangnya bunda … masak cantik–cantik cemberut ih …. Nanti keriputan loh …" gurau Tere untuk menghibur Ayu. Seketika Ayu pun tersenyum.


"Nah begitu dong … kalau tersenyum kan cantik," ucap Tere.


Setelah itu, mereka semua pulang, kembali ke kediaman utama Keluarga Yohandrian.


🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2