
"Minumlah."
Pria itu menyodorkan segelas air dingin untuk Dela tepat di depan wajah Dela. Dela yang semula menahan rasa kesal namun juga dengan perasaan lega karena sekarang masih hidup pun kini menatap gelas itu. Ia menggerakkan matanya mengikuti tangan itu hingga tatapan mereka saling beradu. Sejenak, lantas Dela memalingkan wajahnya. Ia mendengkus kesal.
Tanpa melihat Pria itu lagi, Dela mengambil gelas itu kasar. Ia menenggak air itu cepat, mengalir membasahi tenggorokannya yang kini sudah tak terasa kering lagi. Dela meletakkan gelas itu di atas meja dengan kasar hingga terdengar benturan permukaan meja dengan kaca gelas itu cukup keras. Deru napasnya tampak jelas dengan dadanya yang mengembang mengempis dengan cukup cepat. Pria itu terkekeh.
"Apa lihat–lihat?!" Ketus Dela berucap. Ia menatap pria itu dengan lirikan tajam.
Jujur saja ia masih kesal dengan perlakuan pria yang kini turut duduk di sampingnya itu. Pria menyebalkan itu hampir saja membunuhnya. Pisau yang dibawanya itu sudah di gerakkan di leher dan perut Dela. Beruntung hanya melintas saja, tidak sampai menggores kulit Dela. Siapapun orangnya pasti akan senam jantung jika mendapat perlakuan demikian. Apa lagi ekspresi pria itu yang Dela lihat benar–benar memberikan kesan psikopat.
Pria itu mengangkat kedua alisnya. "Apa hakmu melarangku? Aku punya mata sendiri."
Lagi–lagi jawaban itu terdengar begitu menyebalkan di telinga Dela.
"Gaza." Ia memperkenalkan diri.
"Tidak tanya," ucap Dela ketus.
"Tapi aku menjawab. Bukankah sebelumnya kau mencari aku?" Dengan percaya dirinya Gaza menarik turunkan alisnya. Ia tahu fakta itu kala Dela menanyakan perihal dirinya pada bartender yang memang sering bertemu bahkan berteman dengannya.
"Aiihh ... bisa bisanya dia tahu," gumam Dela dala hati.
"Itu dulu. Sekarang enggak!" ucapnya kemudian.
"Tetap saja sama." Gaza tak mau mengalah.
Dela berdecak. "Sekali menyebalkan ya tetap menyebalkan!" Dela memutar bola matanya.
Gaza berdiri lantas kembali ke dapur. Ia membawa gelas kosong itu kembali. Dela menatap punggung yang kian menjauh hingga tidak terlihat, menghilang di balik pintu.
"Yeah pada akhirnya bertemu lagi. Tapi dia? Sikapnya benar–benar beda. Sosok yang di club malam waktu itu terlalu manis untuk sosok yang kutemui sekarang. Apalagi ..."
Dela menjeda ucapannya. Matanya menyapu semua sudut ruangan. "... ternyata rumahnya sekecil ini. Astaga Tuhan ... kukira dia orang kaya. Huwaah Mamiii!!!" teriaknya tertahan.
__ADS_1
Sungguh ia merasa hidupnya begitu sial. Dahulu ia berniat mencari tahu kembali siapa pria yang pernah ia temui untuk berkenalan dan menghasut pria itu agar bisa bersamanya. Namun setelah sekarang bertemu kembali, boro boro mau kenalan. Mau menatapnya saja Dela enggan.
Dela mengerang kesal. Ia mengacak surai panjang pirangnya itu dengan kedua tangannya, frustasi.
"Tampan sih tampan. Tapi kalau hidup seperti ini selamanya aku tidak bisa. Mami aku gak bisa hidup begini..." rengek Dela.
Tidak lama kemudian Gaza kembali datang menghampiri Dela. Dia duduk kembali di samping Dela. Ia menyalakan kembali televisi yang tadi telah ia matikan. Tangannya sibuk mencari stasiun televisi yang menyajikan acara menarik untuk ia tuntun. Sedangkan Dela tidak berniat untuk memulai pembicaraan.
Keheningan bertahan cukup lama, hanya suara televisi yang mengisi keheningan di ruangan itu.
"Jangan–jangan kamu yang selama ini menghalangiku?" tebak Dela langsung. Ia memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Ia ingin memperjelas asumsinya yang sejak beberapa waktu lalu berputar–putar di kepalanya. Tentang siapa yang selalu membuatnya selamat di keadaan yang sebenarnya tidak menguntungkan bagi nyawanya.
"Hmm ..."
Gaza hanya bergumam saja. Matanya tak terlepas dari layar televisi yang menyala.
Dela mendengkus sebal. "Kenapa pula kamu menghalangiku segala? Kalau kau tak menghalangiku, mungkin anak sialan ini dah mati dan aku tidak perlu membawa dia bersamaku!"
"Hah?" Gaza tertawa geli. "Siapa yang menghalangimu? Lagi pula siapa yang menyuruhmu tergeletak di depanku?" kilahnya. Padahal jika ditelisik lebih jauh, hatinya tergerak, mengiba, kala melihat Dela kalap seperti itu. Wajahnya terlihat kusut, terutama ia tidak tega melihat bayi tidak berdosa dibunuh begitu saja. Dan itulah yang membuat Gaza tergerak hatinya.
Dela melongo kala mendengar kalimat yang membuatnya merasa terhina. Deru napasnya mulai tak beraturan kembali, menahan amarah. Kedua tangannya terangkat dan mulai mengepal erat. Giginya ia rapatkan lantas berucap, "Kamu yaa ..."
"Apaa? Apaa?" ucap nya santai.
"Ah serahlah bodo amat!"
Dela melemparkan punggungnya pada punggung sofa itu. Berdebat dengan pria di sampingnya hanya akan membuatnya lelah. Karena mau bagaimanapun, apa yang diucapkan pria itu benar.
"Lalu kenapa kamu malah membawaku ke sini?" tanyanya heran. Apa lagi ia tahu jika Gaza merupakan orang suruhan Davin yang dengan sengaja diperalat untuk menjebaknya.
"Punyaku hanya ini. Aku tidak mampu membawamu ke hotel," ucapnya apa adanya.
"Idiih udah tau rumah usang seperti ini, kenapa kamu berani bawa wanita seberkelas diriku? Dasar tidak tahu diri!" Dela mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hmm..." Ia berdeham malas. "Yayayaya berkelas apa? Berkelas berkelas ... berkelas sd iya! Otak aja tidak kamu gunakan. Masih untung kamu tidak aku telantarkan!" ucap Gaza terang–terangan yang membuat Dela melebarkan matanya
"Apa?!" ucap pria itu kala ia menatap ke arah Dela. Lantas ia mengabaikannya.
"Dan oh iya, suamimu tertangkap oleh Briel dan komplotannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana dia sekarang." Gaza menoleh pada Dela sekilas. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Dela.
"Ya teruss?? Apa hubungannya sama aku?"
Di luar dugaan. Dela ternyata tidak peduli sedikitpun dengan Davin.
"Begitu saja?" Gaza mengangkat kedua alisnya heran.
"Ya terus apa? Aku harus sedih, syok begitu? Terus nangis–nangis seperti orang gila? Lagian dia juga sudah menjadi mantan suami. Apa hubungannya lagi dengan diriku?"
"Ya ... Ya tetap saja dia bapak dari anakmu."
"Hah?" Dela tertawa sumbang. "Bapak katamu?"
Pria itu mengangguk.
"Dia saja tidak mengakui anaknya dan malah menuduh kalau anak ini anakmu."
Tanpa disadari, terselip rasa kecewa di hatinya untuk Davin. Dela masih heran saja. Bisa–bisanya baru bertemu sekali dan belum lama tapi ia bisa hamil dengan usia kandungan bahkan sebelum ia bertemu dengam Gaza. Gila bukan? Tapi yang namanya jebakan bisa saja dilakukan oleh orang licik.
"Ya tapi tetap saja. Kalian pernah tinggal berdua cukup lama."
"Bodo amat! Yahh ... Biarin sajalah. Kalapun dia harus mati pun sudah bukan urusanku."
Dela mengambil kembali kacang yang masih ada di atas meja sedangkan Gaza hanya mengangguk ringan tidak ingin mendebat Dela. Ia tidak perlu ikut campur dalam urusan orang lain.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕