
Sesampainya di parkiran, Briel mengambil semua barang belanjaan dan membawa belanjaan itu ke dalam apartemennya.
"Gey, bantu saya tekan tombol lift ke lantai 52!" pinta Briel.
Tanpa menjawab, Gea menekan tombol lift itu dengan segera. Briel hanya menggeleng melihat tingkah Gea. Mereka berdua masuk ke dalam lift itu bersama. Briel membawa semua barang belanjaan itu sendirian.
"Gey tata bahan makanan itu di kulkas," pinta Briel yang melihat Gea duduk melamun di meja makan. Ia berusaha mengajak Gea untuk berinteraksi dengannya. Briel takut kalau 'Mbak Kun' akan menggeser Gea dari tubuhnya sendiri jika Gea terlalu banyak melamun.
Lagi–lagi tanpa menjawab, Gea melakukan kegiatan itu dengan segera tanpa mengubah bagaimana sorot matanya memandang sekitarnya dengan tatapan kosong. Ia menata bahan makanan itu sampai selesai.
"Mau makan apa?" tanya Briel yang berpapasan tatkala Gea nenutup pintu kulkas.
Alih–alih menjawab, Gea berjalan menuju kamar. Di sana Gea duduk di ranjang kamar. Pandangan matanya menatap lurus ke depan. Tidak ada ekspresi yang bisa ia gambarkan. Entah mengapa, hatinya masih saja hancur tatkala melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Rasanya perih, tatkala melihat orang yang dulu sangat ia cintai dan ternyata sampai sekarang hatinya masih menyimpan rasa cinta untuknya bermesraan dengan wanita yang sangat ia benci di dalam hidupnya. Rasa itu bagaikan luka yang ditaburi garam dan diberi perasan air jeruk nipis.
Yeah … luka itu akan terasa begitu perih walaupun sebenarnya luka itu sudah mulai mengering. Rasa itu seakan membunuhnya secara perlahan. Tidak ada tangis yang pecah, tidak ada suara yang membuncah. Ia tidak tahu bagaimana ia harus.
"Ge….y..." panggil Briel yang melemah di akhir ucapannya itu. Briel menyusul Gea ke kamar. Ia ingin menawarkan makanan apa yang harus ia masak. Namun ia malah melihat Gea yang masih saja memandang lurus apapun yang ada di depan Gea.
Briel pun masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sofa panjang, tempat di mana biasanya ia merebahkan tubuhnya. Ia hanya mampu melihat Gea yang seperti itu, yang tak merubah ekspresi wajahnya sejak perjalanan pulang. Tidak ada tangis ataupun ekspresi yang terlukis di wajah Gea. Gea hanya menatap lurus dengan pandangan kosong. Hal itu membuatnya khawatir. Namun ia akan menunggu untuk beberapa saat, memberikan ruang waktu untuk Gea.
Briel menyenderkan bahunya pada punggung sofa. Matanya tak melepaskan pandangannya pada Gea. Saat itu juga, ia pun mengingat apa yang Adam katakan sebelum ia berangkat berbelanja. Ingatannya tatkala ia menerima telepon itu muncul.
"Bos, saya menemukan fakta mengejutkan."
"Apa itu?"
"Ternyata Nona Gea adalah anak dari pengusaha sukses di negara ini. Nona adalah salah satu anak dari Tuan Wiyarta yang sudah dua tahun ini tinggal sendirian di rumah kontrakan. Nona ingin menjauh dari keluarganya. Memang dirinya masih tinggal di satu negara, bahkan satu wilayah dengan keluarganya, namun sepertinya Nona mempunyai orang hebat yang mampu menyembunyikan siapa dia sebenarnya. Nama dan muka Nona yang jarang bahkan hampir tidak pernah tersorot media, membuat Nona lebih mudah menyembunyikan identitasnya."
Adam menjeda ucapannya. Sedangkan Briel masih menunggu Adam berbicara tanpa mau menyelanya terlebih dahulu. Fakta itu cukup mengejutkan untuknya. Seorang wanita yang mengaku orang miskin, ternyata adalah anak kolongmerat.
"Dan yang mengejutkan adalah …." Adam menjeda ucapannya kembali. Hal itu membuat Briel kesal karena penasaran. Andai saja Adam ada di sebelahnya, sudah pasti Briel akan memukul kepala Adam.
Suara decakan kesal Briel terdengar di telinga Adam. Adam pun terkekeh. Saat itu juga, Adam tahu bahwa sedikit banyak bosnya itu mulai menaruh hati pada istri tak terduganya itu.
"Dam..." Briel memanggil nama Adam dengan singkat namun tersirat banyak ancaman.
__ADS_1
Adam tertawa, "Hahaha Bos, Bos. Aku juga butuh istirahat. Menjelaskan panjang lebar itu menguras tenaga dan membuatku haus!"
Adam mengatakan semuanya dengan jujur. Saat itu ia memang merasa dahaga melandanya.
Dari tempatnya, Briel mendengar suara orang yang tengah minum. Rupanya Adam minum terlebih dahulu. "Ck dasar asisten gak punya akhlak. Di sini aku atasanmu, Dam!" ucap Briel yang mulai kesal.
"Iya aku juga tahu, Bos," jawab Adam dengan santai.
Jawaban Adam terdengar begitu menyebalkan di telinga Briel, sedangkan Adam membayangkan betapa kesalnya Briel kala itu.
"Ya … akan saya lanjutkan. Tuan Davin mengkhianati Nona Gea dengan menikahi saudaranya, Nona Delima Anastasya Wiyarta. Sepertinya mereka berdua telah bersepakat, tetapi saya juga tidak mengetahui apa tujuan pasti mereka melakukan itu."
Briel mengangguk. "Baiklah. Terus gali informasi yang berkaitan dengannya dan laporkan padaku!"
"Siap, Bos!"
"Jangan lupa, bonusnya transfer, Bos!" ucap Adam lagi dengan santainya.
Briel hanya bergumam lalu mematikan pangilan itu terlebih dahulu. Padahal menurut etika, si pemanggillah yang berhak menutup telepon. Namun Bos mah bebas, itulah istilahnya. Ia terlalu muak tatkala Adam sudah mulai membahas tentang bonus. Toh Adam itu bawahan sekaligus sahabatnya. Tak apa bukan? Begitu pikir Briel.
Hingga beberapa waktu kemudian, Briel melihat Gea masih diam di posis semula. Briel memutuskan untuk mendekat ke arah Gea. Ia duduk di depan Gea, menatap Gea lembut. Saat itu Gea bergeming, tak memperdulikan apa yang dilakukan Briel.
🍂
Di apartemen lainnya, seorang pria tengah duduk dengan segelas wine di tangannya. Ia menyesap wine itu sedikit demi sedikit. Entah mengapa, walaupun ia puas akan apa yang ia dapatkan, namun ia merasa ada yang hilang dari padanya. Satu nama terlintas di benaknya.
"Gea"
Nama itu berkeliaran di dalam otaknya. Ia frustasi tatkala nama itu tak kunjung hilang.
"Kenapa nama sialan itu malah muncul?" gumamnya kesal. Sepintas kata cinta juga muncul di dalam benaknya.
"Cinta? Sungguh konyol. Bahkan sampai sekarang aku tak mencintainya. Aku tak mengenal apa itu cinta."
"Lagipula tidak mungkin aku mencintainya! Aku sudah mempunyai Dela yang memiliki segalanya; harta, kecantikan, dan kemolekan tubuhnya. Dia pun juga memuaskan" gumam Davin lagi. Ia juga tersenyum miring tatkala ia mengingat bagaimana hancurnya hati Gea kala itu.
__ADS_1
Saat ini, Davin tidak menyadari bahwa sesungguhnya mata hatinya telah dibutakan oleh ambisi dan harga diri yang membelenggunya, sampai–sampai rasa itu menutup rasa yang sebenarnya untuk Gea.
Davin semakin bingung. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia demikian? Masih ada hal yang tidak nyaman ia rasakan.
Alhasil, sekarang bukan lagi menyesap, namun ia mulai menenggak wine itu, hingga beberapa gelas. Hal itu membuatnya sedikit mabuk. Dia memang seorang player namun perlu diketahui bahwa ia bukan peminum ulung.
"Sayang, kenapa kamu meminum wine dalam jumlah yang banyak?" ucap Dela sambil memegang pipi Davin dengan mesra. "Apa yang mengganggu pikiranmu, hem?" tanya Dela dengan manja.
Davin hanya tersenyum. "Mari kita tidur!" ajak Davin tanpa menjawab pertanyaan Dela, sambil menarik Dela ke ranjangnya. Tak lama setelah itu, Mereka berdua tertidur pulas karena hari memang sudah larut malam.
🍂
//
Hahh sayang sekali Bang Bim, dirimu kecolongan ternyata 😂 kelamaan di luar negeri gak balik–balik sih wkwk
Dududududu bagaimana? Menurut kalian, apakah identitas Gea selanjutnya akan bisa dikorek habis oleh Adam? 🤔
🍂
//
Terimakasih bagi semuanya yang telah mendukung karya Asa sampai sejauh ini. Sungguh Asa sangat terharu dan berterimakasih pada kalian semua :")
Tanpa kalian cerita yang masih memiliki banyak kekurangan ini tidak akan seperti ini
lopeyupull 😘😘
🍂
//
Happy reading semua,
jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1