
"Arrggghh"
Ayu berteriak sembari menyapu bersih meja riasnya dengan kedua tangannya. Semua peralatan make up berceceran di lantai bahkan ada sebagian yang pecah. Sinar mentari telah berganti sinar rembulan yang cantik.
"Arrgggh!!!"
Brak brak brak
Ayu berteriak sembari menggebrak meja riasnya cukup keras dengan telapak tangannya. Lebih dari sekali ia menggebrak meja itu.
Ia menatap nyalang cermin yang ada di depannya. Sorot matanya melayangkan kebencian dan ketidakrelaan secara bersamaan.
"Ahh aku harus melakukan sesuatu."
Ayu menatap lurus cermin di depannya, memandangi gambar diri. Ia memikirkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.
"Aku harus ke apartemen Abang!" Ia menyambar kunci mobilnya. Ia keluar kamar bahkan pintu itu tertutup keras saat ia menutup pintu.
"Loh mau kemana lagi Yu?" tanya Selly yang kebetulan keluar dari kamarnya sembari mengangkat tinggi rambutnya yang panjang itu, menggelungnya asal–asalan. Ayu berhenti sejenak tanpa membalikkan badannya.
"Pergi!" jawab Ayu dingin tanpa menatap Selly. Selly menatap bingung punggung Ayu yang semakin menjauh.
"Kenapa dengan itu anak?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia lanjut berjalan ke dapur untuk mengambil minum untuknya dan juga untuk Kemal.
"Dad …" panggil Selly sembari membawa sebotol air putih.
"Hemm?" Kemal yang semula terfokus pada layat tabletnya beralih menatap Selly.
"Anakmu aneh. Malam–malam seperti ini pergi dari rumah tergesa," ucap Selly.
"Udah kamu tanya mau ke mana anak itu?" Kemal meletakkan tabletnya di atas nakas.
"Sudah. Tapi ya begitulah. Dia hanya bilang "pergi" begitu saja"
"Biarkanlah. Nanti juga pulang sendiri," ujar Kemal.
Selly terdiam sejenak, kemudian ia menyusul Kemal merebahkan diri di ranjang.
🍂
__ADS_1
Hari semakin larut. Suasana sepi begitu terasa saat ia sampai di kawasan apartemen Davin.
Ayu berdiri di depan pintu apartemen Davin. Ia mengambil gawainya dari dalam tas lalu menghubungi orang di sebrang sana. Berulang kali ia menelponnya dan mengetuk pintu apartemen itu dengan keras berulang kali.
"Aaahhh dasar adik kurang ajar. Malam–malam begini bertamu. Mengganggu tidur saja!" gerutu Davin malas sembari mengacak pelan rambutnya.
Dia terbangun tatkala dering gawainya tak kunjung berhenti.Ia menoleh ke samping. Dela masih terlelap dalam tidurnya. Nyenyak sekali sampai tak mendengar suara bising. Mau tak mau dia sendiri yang bertindak. Ia berjalan ke depan untuk membukakan pintu apartrmen untuk Ayu.
"Apa yang–
"Siapa dia?!" potong Ayu langsung tanpa menunggu Davin selesai berbicara dengan nada yang rendah namun penuh amarah yang tertahan.
"Siapa, siapa?" tanya Davin. Ia tak mengerti siapa yang Ayu maksud.
"Siapa dia?!" tanya Ayu lagi lebih keras. Ia tak sabar karena Davin malah berbalik bertanya dan tak menjawab apapun yang ia tanyakan.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Davin lagi. Pertanyaan Ayu tak jelas menurutnya.
Davin menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Huffft …! Ayo masuk dulu!" ajak Davin.
"Nih minum."
Davin menyodorkan segelas air putih untuk Ayu. Ayu menatap wajah kakaknya lalu mengambil alih gelas itu. Ia meminumnya sedikit kemudian langsung meletakkannya lagi di meja.
"Briel. Siapa wanita itu?" tanya Ayu setelah amarahnya cukup mereda.
"Dia Gea Agatha, cleaning service perusahaannya," jawab Davin.
"What??!" ucap Ayu melongo kaget. "Seorang CEO menikahi cleaning service perusahaannya sendiri?!" tanyanya tak percaya.
Ayu tersenyum hambar. Bisa–bisanya dia kalah dengan pesona seorang cleaning service yang bahkan tak sebanding dengannya. Harga dirinya terlukai.
"Buta!" umpatnya lagi.
Davin tersenyum miring melihat respon dari adiknya itu.
"Hemmss …. Jangan kau kira dia seburuk yang kau bayangkan. Biarpun dia cleaning service, dia bukan orang sembarangan."
__ADS_1
Ayu mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Davin.
"Apa maksudmu?" tanya Ayu. Ia masih menunggu kalimat selanjutnya.
"Dia adik Dela yang terusir dari rumahnya."
Ayu membulatkan matanya. Fakta itu benar–benar mengejutkannya.
"Bagaimana bisa?" tanya Ayu penasaran.
Davin mengedikkan bahunya. "Aku tak tahu. Tapi aku masih menyelidiki kenapa Gea bisa hilang dari daftar keluarganya."
Mereka berdua terdiam sejenak. Kesunyian menjadi pengisi di antara mereka berdua. Tiba–tiba saja Ayu teringat kembali akan tujuan awalnya datang ke sana.
"Ah lupakan siapa dia. Aku ingin tahu seperti apa wanita itu," ujar Ayu.
"Bang ada foto wanita itu?" tanya Ayu kemudian.
"Ada. Bentar aku ambil HP ku di kamar." Davin berlalu menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Davin datang kembali dengan gawai dalam genggamannya.
"Nih orangnya."
Davin memperlihatkan foto seorang wanita cantik dengan penampilan sederhana di layar gawai itu.
Deg
Seketika Ayu mematung. Matanya tak lepas dari foto itu. Dia diam tak bersuara. Kenyataan itu telah membungkam paksa dirinya.
"What? Aku harus bagaimana?" gumam Ayu dalam hati.
Kebingungan melanda hati dan pikirannya. Yeahh dilema. Satu sisi dia ingin merebut kembali Briel yang telah lepas, namun satu sisi ia tak tega. Ia bisa menemukan orang yang selama ini ia cari, namun di waktu yang bersamaan orang itulah yang saat ini merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, merebut kebahagiaan hidupnya. Fakta itu teramat menyakitkan dan sulit untuk ia terima.
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕