
Sesampainya di kamar, tak ada raut wajah bersahabat yang Gea tunjukkan. Ia tetap menyiapkan baju untuk Briel tapi hatinya masih menaruh amarah yang begitu besar untuk saudaranya itu. Ia tak mengerti. Davin yang dulu adalah kekasihnya telah diambil hatinya oleh Dela. Dan sekarang Briel, yang sudah menjadi suaminya Dela berani menggoda Briel di depan matanya.
Marah, sangat marah. Ia tak mampu menyembunyikan rasa itu di hadapan Briel. Sedangkan Briel yang menerima baju dari Gea pun tersenyum sembari menggeleng ringan, lucu melihat tingkah istrinya yang cemburu padanya.
"Eheem yang kesal karena cemburu," ledek Briel sembari mengenakan kemeja itu.
Gea memutar bola matanya malas. "Tidak, aku tidak cemburu!" ucapnya dengan ketus. Ia tak mau dianggap cemburu walaupun kenyataannya ia memang cemburu.
Briel berhenti di hadapan Gea. Ia menundukkan kepalanya, menatap wajah cantik istrinya itu lantas mencolek hidung bangir milik Gea. "Hidungmu tidak bisa berbohong Geyang," ucapnya sembari tersenyum.
"Sudah, bantu aku memakai kemeja ini. Mendadak kemampuanku untuk mengancingkan kancing baju ini menghilang."
Mendengar penuturan Briel, kedua sudut bibir Gea membentuk lengkungan ke atas. "Bohong," ucapnya sembari tersenyum.
"Nah gitu kan cantik." Hati Briel lega melihat istrinya kembali tersenyum seperti itu. Aaaa ternyata begitulah bumbu–bumbu dalam percintaan, pikirnya.
"Ingatlah, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Kamu, adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan padaku. Hadiah yang tak pernah terpikirkan bagiku. Entah bagaimana jadinya jika waktu itu aku tak salah menikah dan menarik mempelai wanita yang sesungguhnya. Mungkin semua akan berbeda, tak akan seindah denganmu saat ini. Nyatanya aku telah menikahi malaikat cantik yang Tuhan kirimkan agar warna dihidupku tak hanya hitam dan putih."
Briel menatap lekat manik mata Gea. Gea yang semula sibuk mengancingkan kemeja Briel pun tanpa sadar berhenti dan menatap tak kalah lekat juga.
Briel meraih tangan Gea. Tangan dengan jemari lentik itu ia bawa menyentuh dada bidangnya. Gea terperanjat melihat tingkah Briel namun ia tak menolak sedikitpun.
"Kamu, sekarang dan selamanya, hanya ada di sini seorang."
Sebuah buliran bening menetes dari sudut mata Gea. Bahagia ia mendengar penuturan Briel yang menghangatkan batinnya. Ia menghambur ke pelukan Briel, mendekap tubuh yang lebih besar itu. Briel mendekap tubuh mungil itu begitu erat.
"Ada yang ingin ku katakan kepadamu," ungkap Briel. Ia mengendurkan dekapannya menatap wajah Gea yang mendongak ke atas.
"Apa?"
🍂
"Ehemmm! Aku punya kejutan untuk kalian."
Briel datang dengan tangan yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Mereka yang semula asik dengan aktivitas mereka, pun beralih menatap Briel penuh tanya. Mereka semua terdiam.
"Kejutan apa Bri?" tanya Frans.
Mereka menatap Briel penuh tanya. Apa lagi melihat Briel hanya datang seorang diri.
__ADS_1
"Mana Gea?" tanya Tere celingukan mencari keberadaan Gea.
"Di sini Bunda."
Gea menuruni anak tangga terakhir. Namun tidak dengan tangan hampa. Sebuah laptop menyala dibawanya dengan kedua tangan.
"Loh untuk apa laptop itu Gey?" tanya Frans semakin menjadi. Sungguh anak dan menantunya itu membuatnya penasaran.
Gea hanya tersenyum miring sembari menatap Dela dan Clara dengan lirikan maut. Sedangkan Edi hanya bisa diam membisu, walau dirinya sudah pasti penasaran dengan perkataan Briel. Apalagi kejutan itu untuk kalian, yang artinya ditujukan untuk semuanya tanpa terkecuali.
Briel melempar sebuah amplop coklat. "Lihatlah!" ucapnya tegas
"Geyang, mendekatlah." Briel meminta Gea dengan lembut, berbeda dengan cara bicara sebelumnya.
Briel sibuk mengotak–atik laptop itu, mencari apa yang ia cari.
Sebuah video berputar. Dalam video itu memperlihatkan 3 orang wanita di sana; Gea, Dela, dan Clara.
Setelah menikmati es krim bersama, mereka bertiga keluar dari dalam mall. Dela pamit ke toilet. Ia memakai topinya. Di dalam topi terdapat kantong darah yang tak begitu banyak namun cukup untuk rencananya berhasil.
Dela tersenyum miring menatap pantulan dirinya dalam cermin. "Aaa lihatlah nanti Gea!"
Tak lama kemudian datanglah sebuah ambulan yang membawa Dela. Gea gemetar ketakutan melihat saudaranya itu tergeletak tak berdaya.
Sesampainya di rumah sakit, semuanya berjalan seperti prosedur pada umumnya. Namun di sebuah ruang dokter, Clara berbincang pada seorang dokter yang memintanya untuk bekerjasama dengannya. Dokter itu pun setuju. Sebuah etika profesi telah ia salahi. Dan salahnya ia melakukan kesalahan itu di rumah sakit milik keluarga Briel.
Selama koma beberapa hari, nyatanya Dela hanya berpura–pura. Ketika hanya ada dirinya dan juga Clara, ia akan bersikap seperti biasa. Namun ketika ada Edi maupun Gea, Dela akan bersikap seolah olah adalah pasien yang hilang kesadaran.
Terungkap juga kala Clara membayar seorang dengan mobil yang telah menabrak Dela.
"Ini uangnya dan pergilah. Jangan memperlihatkan dirimu," ucapnya di sudut rumah sakit. Clara celingukan, memastikan bahwa yang ada di sana hanyalah dirinya dan orang itu.
Briel tersenyum miring sembari menatap Clara dan Dela. "Berakhirlah kalian!" Kira–kira seperti itulah yang dapat dibaca dari tatapan mata Briel. Briel tak pernah mengira jika kedatangannya di rumah sakit waktu itu mebawanya menemukan fakta demi fakta yang selama ini tersimpan rapat.
Kebusukan demi kebusukan itu terlihat begitu jelas, terungkap satu persatu. Edi menggeleng tak percaya jika istri dan anaknya tega melakukan hal itu terhadap anaknya yang lain. Sedangkan Clara dan juga Dela menelan pahit ludahnya. Mereka tak akan pernah mengira jika apa yang telah mereka lakukan terbongkar begitu saja. Gea tersenyum miring. Frans dan Tere masih mencoba mencerna apa yang terjadi di depannya itu.
Plak!!!
Tanpa diduga Edi menampar keras pipi Clara hingga bunyi tamparan itu menggema di ruangan itu. Clara memegang pipinya yang terasa begitu panas. Tamparan itu membuat semua orang yang ada di sana meringis ikut merasakan sakitnya tamparan itu. Walaupun skitnya tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit yang Edi rasakan.
__ADS_1
"Kalian ... Tega–teganya kalian mendzolimi anakku!"
Tanpa diduga, Dela tertawa keras di ruangan itu. "Mendzolimi?! Hahaha ... Salah Papi yang telah membedakan kasih sayang padaku dan Gea. Papi selalu memberikan kasih sayang lebih padanya!" Dela menunjuk ke arah Gea.
"Tapi bukan dengan begitu caranya! Kalian begitu kejam! Aku tak punya istri dan anak macam kalian, yang penuh dengan obsesi semata!"
"Aku akan menceraikanmu! Dan untuk kamu Dela, kamu bisa memilih ingin ikut dengan siapa!" lanjutnya lagi.
Ya, semuanya terjadi lantaran hasutan Clara yang begitu besar pada Dela. Ia tak memaafkan istrinya yang telah begitu kejam merencanakan itu semua.
Tiba tiba saja suara tawa itu kembali terdengar. Clara tertawa begitu mengerikan. "Ceraikan saja! Karena kata cerai itu ingin aku dengar secepat mungkin!"
Clara beralih menatap Dela. "Dan kamu, jangan pernah ikut denganku, karena aku akan segera menikah dengan seseorang yang aku cintai." Clara tersenyum miring. Sedangkan Edi menatap semuanya itu tak percaya. Nyatanya istrinya telah menghianatinya begitu besar.
Clara pun keluar dari rumah itu dengan langkah tegas tanpa penyesalan sedikitpun. Sedangkan tak lama setelah itu, Dela berlari keluar dari rumah itu dengan wajah yang berderai air mata. Edi menjatuhkan dirinya pada sofa di sana. Frans dan Tere saling tatap.
"Tuan, Nyonya, maafkan kekacauan ini. Saya benar–benar tidak menyangka jika kami menghancurkan undangan makan malam ini," ucap Edi merasa bersalah.
"Iya tak apa Tuan," ucap Frans sembari tersenyum kelu.
Edi beralih menatap Gea. "Gey, maafkan Papa!" Ia menatap Gea dengan tatapan penuh penyesalan lantaran ia tak pernah mengetahui hal busuk itu, malah ia sendiri yang mengusir Gea dari rumah. Gea tersenyum canggung. Ia bingung harus bersikap bagaimana.
Edi berjalan mendekat ke arah Gea lantas memeluk tubuh anaknya itu. Namun Gea tak membalas pelukan itu. Terlalu cepat baginya perubahan itu. Ia mendorong lembut tubuh Edi, membuat Edi menatap Gea penuh tanya.
"Pulanglah dahulu Pa, aku butuh waktu," ucap Gea. Sebuah kalimat itu ternyata mampu memporak porandakan hati Edi. Perih ia rasakan. Hatinya tersayat mendengar penolakan lembut Gea.
Edi menghirup napas dalam lantas menghembuskannya kasar. "Baiklah." Edi memejamkan matanya sejenak.
"Briel, titip Gea. Jaga dia." Edi beralih menatap ke Frans dan juga Tere. "Tuan, Nyonya, terima kasih atas undangan makan malamnya dan saya pamit."
Mereka menatap Edi dengan tatapan iba. Mereka mengerti betapa hancurnya hati Edi saat ini. Edi berjalan lunglai meninggalkan kediaman Yohandrian.
Dengan gesit, Briel mengambil benda pipih canggihnya. Ia menghubungi pihak rumah sakit untuk memecat dokter itu dan memblack list nama dokter itu dari rumah sakit manapun lantaran pelanggaran kode etik yang dilakukannya.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕