Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
77. Pergi


__ADS_3

Yang suka baca sambil dengerin lagu bisa dengerin instrumen lagu :


Bad liar – Imagine Dragons – cover Anna Hamilton 🎶


🍂


Briel berdeham ringan untuk menetralisir kegugupan yang melandanya. Ia menarik napas dalam dan …


"Batalkan penikahanku dengan Ayu. Misella Ayu Angkara!" ucap Briel dengan tegas.


Rasanya seperti batu yang menimpanya bisa dicongkel ke sisi lain. Beban yang ia pendam akhirnya ia keluarkan. Tere dan Frans terperangah. Mereka tak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Briel. Tere membulatkan matanya. Sisirnya terlepas dari genggaman tangannya.


"Tidak bisa! Pernikahan ini akan tetap dilangsungkan!" ujar Tere tegas. Ia tak mau pernikahan anaknya yang sudah di depan mata hancur begitu saja.


Briel memejamkan matanya sejenak. Ia mendesah frustasi.


"Bun …" ucap Briel dengan wajah yang memelas.


"Tidak bisa, Briel! Kamu harus tetap menikah dengannya, 3 minggu lagi!" Perintah Tere adalah paten, tak terbantahkan.


"Tapi Briel tidak mau Bun!" Briel berteriak tertahan. Ia tak mau menyakiti orang yang ia sayangi, orang yang telah mempertaruhkan nyawanya dan merawatnya sedari kecil dengan kasih sayang.


"Kenapa? Bukankah sebelumnya kamu menyetujui pernikahan ini?" Tere menagih apa yang pernah Briel ucapkan.


"Lagian umur kamu sudah matang untuk menikah. Mau menunggu apa lagi? Mau menunggu sampai usia kamu 50 tahun dan sampai bundamu ini meninggal?"


Kekecewaaan tergambar jelas di wajah Tere. Ia kecewa dengan Briel yang seenak jidatnya mengingkari apa yang telah Briel ucapkan setelah mereka merencanakan pernikahan itu dengan matang.


"Bukan begitu, Bun. Tapi …." ucapan Briel tertahan.


"Tapi apa? Kamu tidak bisa menjelaskannya kan?" Belum sempat Briel berkata, Tere telah memotong ucapan Briel dengan cepat.


"Bagaimana Briel mau menjelaskan jika Briel tidak memiliki kesempatan untuk berbicara?" Briel mendesah frustasi. Sangat sulit berbicara dengan Tere jika Tere mulai berbicara.


"Bun … dengarkan Briel bicara!" ucap Frans tegas. Sorot matanya sangatlah dingin. Ada terselip amarah di dalamnya. Ia menatap Briel datar. Seketika Tere terdiam. Ia mengelus pelan dadanya.


"Kenapa kamu ingin pernikahanmu dibatalkan?" tanyanya dengan datar. Ia berusaha menahan amarahnya. Briel mendesah kasar.


"Karena Briel ... Karena Briel sudah menikah Yah, Bun."


"Yeahh benar … karena dia telah mengisi hati Briel yang sudah lama kosong. Hanya dia, bukan Ayu atau siapapun itu," jujur Briel. Sorot matanya meminta pengertian pada mereka.


Kekecewaaan terlihat jelas di wajah Tere. "Sejak kapan?" tanya Tere. Ia meminta kejujuran Briel untuk memberitahu kapan pernikahan itu telah berlangsung.


"Sejak pernikahanku dengan Ayu gagal."


"Ceraikan dia!" tegas Tere. Keputusan Tere membuat Briel terperangah. Briel menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Apa ini? Apakah aku tidak salah dengar?"


Hati Briel seakan dihantam batu besar yang memiliki rongga–rongga tajam.


🍂


Sementara itu, di dalam mobil, Gea terlihat gusar. Ia cemas menunggu kedatangan Briel. Ia menautkan jari jemarinya. Menunggu kabar apa yang dinantinya.


"Dam, berapa lama lagi kita harus menunggu?" tanya Gea.


Setiap detik yang Gea lewati, begitu lama ia rasakan. Ia tak sabar menantikan sebuah penjelasan mengenai apa yang tengah terjadi.

__ADS_1


Adam menatap Gea lekat. "Nona, semoga saja Briel mampu mempertahankanmu di depan Ayah dan Bunda. Semoga mereka mau menerimamu," harap Adam dalam hatinya. Ia ingin pasangan baru ini tetap utuh hingga akhir.


"Tidak tahu Nona Bos. Saya tidak tahu berapa lama kita akan menunggu di sini," jawab Adam jujur. Sampai sekarang ia juga belum mendapatkan notifikasi pesan dari Briel.


Gea menatap mata Adam lekat. Ia mencoba mencari sebuah kebohongan dari sorot mata Adam. Tapi nihil. Ia tak menemukan setitik kebohongan dari sana.


"Apakah kita hanya akan menunggu di sini? Mungkin Briel membutuhkan kita. Mungkin saja Briel ingin mengungkap hubungan kami tapi dia kesulitan untuk menjelaskannya."


Gea mengutarakan apa yang telah ia pikirkan. Ia berpikir, mungkin Briel ingin mengenalkannya dengan orang tuanya. Firasatnya berkata demikian.


Hati Adam teriris mendengar penuturan Gea. Ia tak tahu bagaimana hubungan mereka ke depannya. Namun ia melihat kecemasan dalam diri Gea. Ada rasa takut yang terlihat jelas di sorot matanya. Rasa takut akan penolakan.


"Ayo Dam kita ke sana. Kita bantu Briel," pintanya lagi.


Adam masih diam, tanpa berbicara. Karena perintah patennya adalah Briel.


"Dam!" ucap Gea dengan suara yang mulai meninggi.


Ia tak sabar melihat kebungkaman Adam. Gea membuka pintu mobilnya dan turun dari sana. Ia berjalan menuju ke dalam rumah. Secepat mungkin Adam menghalanginya.


"Kita tunggu Bos Briel menghubungi kita," ucap Adam untuk mencegah Gea.


Gea berhenti. Ia memejamkan matanya sembari mengatur napasnya yang mulai terengah–engah karena menahan emosinya.


"Dam! Kenapa kalian tega padaku? Di sini aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa–apa. Aku hanya ingin membantu Briel di sana. Siapa tahu kan Briel membutuhkan bantuan kita? Dia akan kesulitan menjelaskan jika kita tak hadir di sana."


Adam menghela napas kasar. Memang benar adanya. Ia juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Gea. Briel akan kesulitan jika ia berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Briel akan memilih berhadapan dengan lawan bisnisnya ketimbang harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Adam mengerti itu. Selama ini Briel hampir tidak pernah membantah apa yang dikatakan orang tuanya.


Segala bujuk rayu Gea lakukan. Hingga akhirnya Adam pun terbujuk oleh Gea. Ia tak tega dengan Gea.


"Baiklah. Ayo kita ke dalam."


Tiba di depan kamar utama, Gea dan Adam mendengar keributan antara Briel dan kedua orang tuanya. Mereka berdiri di balik dinding kamar itu. Gea menggigit bibir bawahnya. Ia mendengar Briel berdebat dengan orang tuanya sendiri karena dia. Dia mendengarkan segala percakapan yang ada di dalam.


"Ceraikan dia!" tegas Tere.


Dua kata itu membuat dunia Gea hancur.


"Bun! Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Briel tidak mau menceraikannya!" bantah Briel.


"Ceraikan dia Briel! Bukankah hal yang mudah menceraikannya di awal pernikahan sebelum kamu menaruh hati terlalu banyak?! Setelah itu kamu bisa belajar lagi untuk mencintai Sela! Mudah kan?!"


Briel tertawa hambar. "Mudah, Bun? Semudah itu?" Briel mengacak rambutnya kasar.


"Jika mudah, kenapa Bunda mempertahankan pernikahan Bunda dengan Ayah?" Briel telah kehilangan kendali. Ia bahkan mempertanyakan apa yang tidak boleh keluar dari bibirnya.


"BRIEL!!!" teriak Frans. Sangat marah ketika Briel menyingung perasaannya dengan sang istri. Amarahnya telah berada di puncak.


"Apa, Yah? Bukankah benar apa yang Briel bilang? Bukankah benar, jika mencintai itu mudah maka kalian pun akan dengan mudah saling menceraikan?!"


Plak


Tere menampar anaknya sendiri. Hatinya terasa begitu perih mendengar anaknya bertutur kata seperti itu. Briel menerima tamparan itu dengan terbuka. Tamparannya cukup keras, hingga mampu membuat wajah Briel terdorong ke arah samping.


Perlahan Briel menatap Tere. "Sakit kan, Bun? Begitu pun juga denganku, Bun … Gea adalah separuh hidup Briel, Bun!"


Mata Briel sudah berkaca–kaca. Sakit, bahkan semakin sesak ketika ia merasakannya. Dipisahkan dengan orang yang dicintai adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.


Gea sudah tidak tahan lagi berada di balik dinding kokoh itu. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya, siap untuk diluncurkan. Hidungnya memerah, begitupun juga dengan matanya. Hal itu membuat Adam menyesal telah membawa Gea ke sana. Dia keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Nona Bos... "panggil Adam cukup keras.


Semua orang menoleh ke arah Gea. Wajah Briel memucat melihat Gea berdiri di sana.


"Bagaimana ia bisa berada di sini? Apa dia mendengar semua penuturan Bunda?" cemasnya dalam hati.


Gea berjalan mendekat ke arah Briel. Ia membungkuk hormat kepada kedua orang tua Briel.


Gea berdiri tepat berada di depan Briel. Ia menatap lekat Briel. Mengamati setiap garis wajah Briel. Begitupun juga dengan Briel. Gea meraih tangan Briel. Arah pandang Briel mengikuti tangan Gea yang menggenggam tangannya. Kemudian ia menatap Gea dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya besar.


Gea memeluk Briel di depan semua orang yang ada di sana. Ia menghidup aroma khas Briel dalam–dalam. Aroma yang selalu membuat hatinya tenang. Ia membutuhkan penenang sebelum mengucapkan apa yang ingin ia utarakan.


"Untuk terakhir kalinya," gumam Gea dalam hati.


"Turuti bundamu, ayahmu. Aku tidak mau, karena aku, kamu menyakiti hati mereka, karena aku, hubunganmu dengan keluargamu hancur. Karena hubungan yang hancur itu sangat menyakitkan. Dan aku tidak mau kamu merasakannya."


Suara Gea bergetar. Perlahan, air matanya mulai luruh, membasahi kemeja depan Briel. Hati Gea teramat sakit tatkala bibirnya mengucapkan kata demi kata itu.


Bagaikan bom yang meledakkan hatinya, semuanya hancur. Sakit. Apalagi perkataan itu datang dari orang yang ia cintai.


"Lalu bagaimana denganku, Gey ...?" suara Briel bergetar.


"Sudah, Bang. Ini keputusan akhirku. Aku akan pergi dari hidupmu. Jangan menemuiku lagi, jika kamu mencintaiku. Aku mencintaimu, Bang."


Briel mempererat dekapannya. Ia menempelkan dagunya Di atas kepala Gea. Ia menggeleng cepat. Ia tak mau Gea meninggalkannya.


"Tidak, Gey, tidak!"


"Maaf, Bang. Aku harus melakukan ini!" gumam Gea dalam benaknya.


Gea melepaskan paksa pelukannya, meski ia tidak rela. Ia menatap ke arah Frans dan Tere. "Maafkan saya, Tuan, nyonya. Saya akan pergi dari hidup putra Anda. Saya pamit."


Begitu besar rasa cinta Gea pada Briel, hingga ia tak mau Briel hidup jauh dari keluarganya. Hidup yang terasingkan terasa begitu menyakitkan. Biarlah dia saja yang pernah mengalaminya. Jangan sampai orang yang dicintainya menderita karenanya.


Gea berlari ke luar. Ia berusaha mengusap air mata yang telah berderai itu. Sambil berlari, ia menghubungi Bima dengan panggilan cepat. Briel mengejar Gea ke luar.


"Kak, perintahkan orang suruhanmu menerobos masuk ke dalam rumahnya!" ucapnya sesenggukan.


"Gey!! Berhenti Gey!!" teriak Briel. Ia terus mengejar Gea.


Gea terus berlari. Ia mengabaikan panggilan Briel yang masih mengejarnya. Ia berlari sekencang–kencangnya.


🍂


//


Hua astagaa 🤧🤧 kenapa begini? Ikut perih sudah rasanya hati ku 🤧🤧


Eit Eitt.... jangan marah dan kecewa dulu 🤫🤭😁 cerita ini masih akan berlanjut. Nantikan kisah selanjutnya. 🤗🤗


Asa mau lanjut menangis dulu.


🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2