Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
42. Kejujuran Briel Sekaligus Rahasianya


__ADS_3

Rumah Sakit Yasandri


"Selamat siang Tuan dan Nyonya. Waktunya makan siang."


"Selamat siang," jawab Tere.


Dua orang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Tuan dan Nyonya Yohandrian. Mereka membawa dua nampan berisi menu makan siang. Tak lupa mereka menyapa Adam dengan membungkukan badan mereka sambil tersenyum. Adam hanya menganggukkan kepalanya.


Perawat itu mempersiapkan segala sesuatu yang digunakan untuk makan siang. Tere dan Frans hanya saling berpandangan. Tak lama kemudian kedua perawat itu kembali melakukan tugasnya untuk mengantar makan siang kepada pasien–pasien lainnya.


"Yah …" panggil Tere.


Frans menoleh ke arah Tere. "Hem?"


"Aku bosan dengan menu makanan di rumah sakit."


"Sama sih, Bun. Rasanya tidak enak."


"Kita suruh aja anak nakal itu membawakan makan siang untuk kita, Yah!"


Frans mengangguk. Tere menyuruh Adam untuk menghubungi Briel agar membawakan mereka makan siang.


🍂


"Ayah, Bunda …"


Briel masuk membawa tiga porsi makan siang. Ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


"Ck … kenapa sih, Yah, Bun, malah memintaku untuk membeli makanan? Itu kan ada makan siang dari rumah sakit?!" ucap Briel kesal. Pasalnya Briel sudah sampai di rumah sakit. Ia harus memutar balik arah untuk membeli makan siang yang mereka pesan.


"Gak enak Bri rasa makanannya," keluh Tere.


"Kan tinggal dimakan saja nanti juga perut Bunda tidak akan tanya makanan jenis apa yang Bunda makan kan?"


"Ya sudah, kamu aja yang memakannya Bri."


"Ups! Maaf, Bun, Briel sudah makan," tolak Briel jujur. Briel menyengir kuda.


"Heleh, alasan! Dasar anak nakal!"


Mereka semua tertawa karena perdebatan ibu dan anak itu.


"Lagian kamu, kenapa baru datang ke sini sekarang?" Pertanyaan Frans membuatnya gelagapan.


"Oh itu …. Itu, kan di sini ada Adam yang menjaga kalian berdua. Jadi Briel istirahat saja di apartemen sambil mengecek perusahaan kita yang ada di Jerman." Briel menyembunyikan kegugupannya dengan baik.


"Urusan perusahaan di Jerman? Kenapa aku tidak tahu ya? " batin Adam.


"Benarkah?" selidik Frans.


Ia tidak percaya dengan ucapan Briel. Jiwa pemimpin yang Frans punya membuatnya bisa mendeteksi kebohongan, walau hanya sedikit dan belum pasti.


"Iya lah Yah. Apa Ayah dan Bunda tidak percaya padaku?"


Mereka berdua menatap Briel dengan tatapan menyelidik. Bahkan mereka menatap Adam dengan pandangan yang sama. Briel memberikan kode–kode dengan matanya agar Adam membenarkan ucapan Briel.


"Aa … ternyata si Briel berbohong nih!"


"Tidak!"

__ADS_1


Jawaban spontan Adam membuat Briel mengusap mukanya. Bahkan kedua orang tua Briel menatap tajam anaknya itu.


"Aduh .... Awas kau, Dam!! " ancam Briel dalam hatinya. Ia menatap Adam dengan tatapan tajam, sedangkan yag ditatap hanya tersenyum miring. Ia tidak takut dengan ancaman Briel. Ia sangat menikmati ketakutan yang Briel rasakan. Briel pun menatap Adam dengan tatapan yang memelas agar Adam membenarkan ucapannya.


"Kalau bukan karena ku membutuhkanmu aku tidak akan pernah mau seperti ini, Dam." batin Briel kesal. Adam tersenyum tipis, namun senyuman itu penuh dengan kemenangan.


"Astaga … kalian tidak mendengarkan ucapanku sampai selesai. Tenang–tenang Bun, Yah. Tidak salah kok ucapan Bos Briel. Memang benar ada yang harus segera diselesaikan di perusahaan pusat. Namun untungnya masih bisa diatasi dari sini."


Walaupun sedikit ragu, akhirnya Frans pun percaya.


"Kau berhutang padaku, Bri."


Adam menatap Briel dengan senyuman yang begitu menyebalkan di mata Briel.


"Baiklah aku tahu maksudmu. Nanti itu bisa kita bicarakan! " Tatapan Briel cukup kesal.


Kebersamaan mereka membuat mereka saling mengerti satu sama lain, bahkan hanya dengan sorot mata saja.


🍂


Sisa makanan telah dibersihkan oleh perawat yang bertugas.


"Makasih, Sus," ucap Tere.


Mereka tersenyum lalu melangkah ke luar.


"Sus!" Briel menghentikan perawat itu.


"Iya, Tuan?"


"Selama orang tuaku di sini, berikan makanan sesuai apa yang mereka mau, namun menjamin nutrisi yang dibutuhkan."


"Tapi, Tuan?"


"Ba-baik, Tuan," ucap kedua perawat itu. Mereka takut melihat tatapan tajam Briel yang langsung menghunus mereka. Setelah berucap demikian, mereka berdua pergi meninggalkan ruangan itu.


"Astaga Briel, gak kasihan apa sama mereka berdua. Sampai ketakutan loh dengar kamu seperti itu," ujar Tere.


"Lagian, tidak usah pun tak apa. Kan ada kamu yang bisa mencarikan kita makanan yang lain," ucap Tere sambil tersenyum.


"Kan biar lebih simpel aja, Bun."


Frans mengangguk, membenarkan ucapan Briel. "Benar tuh, Bun. Rumah sakit ini milik keluarga kita. Sekali–kali kita manfaatkanlah kepemilikan kita biar lebih bermanfaat. Kapan lagi bisa seperti ini? Mumpung masuk rumah sakit, kita coba saja menggunakannya."


"Nah Ayah saja tahu, Bun," ucap Briel sambik menjentikkan jarinya.


"Ya ya ya terserah kalian saja." Tere tidak mau berdebat lagi dengan ayah dan anak yang sedang kompak.


Mereka semua tertawa bersama. Mereka berbahagia walaupun mereka sedang ditimpa musibah. Adam tersenyum tulus tatkala melihat keluarga yang telah berbaik hati padanya bahagia.


"Baiklah, Yah, Bun, Briel pamit sebentar. Ada urusan yang harus Briel selesaikan bersama Adam."


"Sudah sana–sana. Sekarang waktunya ayah sama bunda berduaan!" usir Frans. Briel hanya terkekeh, sedangkan Tere masih saja tersipu malu walaupun usianya tak lagi muda.


"Dam …!" Briel memanggil Adam untuk mengikutinya. Ia berjalan menuju ruang pribadi untuk pemilik rumah sakit.


"Dam tutup rapat pintunya!"


Adam mengunci pintu ruang pribadi itu dari dalam. Briel duduk di sofa yang ada di sana.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Adam masih diam menunggu apa yang akan dikatakan Briel selanjutnya. Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari gawai Adam. Ia mengecek gawainya, memastikan siapa yang mengiriminya pesan. Ternyata ada satu foto seorag wanita cantik.


"Siapa wanita ini? " Adam mengerutkan dahinya. Ia mengamati foto itu dengan seksama.


"Cari tahu identitas wanita itu!"


"Siapa dia, Bos?" Rasa penasarannya begitu membuncah. Jiwa–jiwa kepo Adam, mulai bereaksi.


"Istriku, Dam." Briel menjawab pertanyaan Adam dengan lesu. Kenapa? Karena ia dibingungkan oleh situasi yang ternyata istrinya bukanlah calon istrinya.


Adam membulatkan matanya. "Tapi … bukankah calon istrimu itu putri dari Tuan Angkara?"


Adam tidak habis pikir. Kenapa bisa demikian? Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan–pertanyaan itu berputar–putar dalam pikirannya.


"Iya, memang benar. Tapi aku memaksa wanita yang sekarang menjadi istriku, untuk menikah denganku. Pikiranku yang kalut membuat diriku menutup telinga saat ia ingin menjelaskan siapa dia. Dan aku baru tahu kemarin, Dam. Bahkan aku tahu setelah aku menikahi wanita itu."


Briel mengacak kasar rambutnya sedangkan Adam hanya tercengang mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Pantas saja kemarin kau lama sekali!" ucap Adam.


"Dam …." Briel menatap Adam. "Rahasiakan semuanya dari Ayah dan Bunda. Biarlah aku sendiri yang nanti yang akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya."


"Siap, Bos!"


"Apakah dia sudah tahu siapa kau sebenarnya, Bos?"


"Belum. Karena aku masih belum siap untuk menjelaskan semuanya, ditambah sekarang muncul masalah di mana ternyata aku salah menikahinya. Dan dia pun belum tahu masalah ini."


Adam menghela napas kasar. Ia tidak mengira jika Briel mengalami hal yang begitu rumit seperti ini.


"Laporkan padaku segera! Jangan sampai ada yang terlewatkan!"


Adam mengangguk mantab. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari tahu siapa wanita itu.


"Baiklah, Dam. Kembalilah ke ruang perawatan Ayah dan Bunda. Jangan membuat mereka curiga. Aku mau pulang dulu! Ada orang yang menungguku di apartemen."


Briel melangkah lebih dulu. Namun, ia berhenti sejenak karena sebuah tepukan mendarat di bahunya.


"Jangan lupa bonusnya dilipatkan, Bos!" Adam menggerakkan alisnya naik turun sambil menarik bibirnya ke samping.


Briel berdecak kesal. "Iya–iya! Asalkan kau mengerjakan semuanya dengan benar!"


Briel melanjutkan langkahnya lagi. Tapi ....


Plek


Briel berhenti lagi karena bahunya ditepuk kembali. "Apa lagi?!" tanyanya ketus. Rasa kesal terlihat jelas di sorot matanya.


"Semua akan berlalu, Briel!"


Kata–kata itu menguatkannya. Seketika rasa kesalnya menguar. Briel mengulas senyum yang tulus di wajahnya. Senyum hangat juga terbit di wajah Adam. Briel berharap semuanya akan terjadi sesuai dengan apa yang Adam katakan.


Adam memandang punggung Briel yang kian menghilang dari pandangannya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2