Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Pertemuan Pertama


__ADS_3

"Eh itu sepertinya Dela."


Dari kejauhan, samar–samar Gea melihat sosok wanita yang perawakannya seperti Dela. Tubuh wanita itu membelakangi Gea, hingga membuat Gea sedikit ragu akan sosok itu. Gea berusaha mencari celah hanya sekadar untuk melihat wajah wanita itu dengan posisi si wanita membelakangi namun agak menyamping.


"Ah tidak terlihat juga." Gea berdecak.


"Apa aku hampiri saja ya?" gumam Gea bermonolog. Barang belanjaan yang sebelumnya telah ia bawa, kini telah berada di bagasi mobil. Dan saat ini, ia berjalan ke taman kota yang tidak jauh dari mall. Di hari yang telah menjelang sore, mendadak saja ia menginginkan seporsi es kelapa muda. Dan es itu hanya di jual di sana. Ia memilih berjalan, sekalian ingin mencuci mata sejenak, mencharge lebih banyak energi untuk kembali ke rutinitas yang akan ia lakukan sehari–hari.


"Tapi dia bersama dengan siapa ya?" gumam Gea penuh dengan tanya. Ia cukup asing dengan sosok pria yang ada di samping wanita itu. Keinginannya terhalang oleh keberadaan pria itu di samping sosok wanita yang ia duga itu Dela.


"Nanti saja deh. Aku juga haus. Lebih baik aku beli es kelapa muda dulu. Seger nih sepertinya kalau diminum pas gerah–gerahnya."


Gea menyentuh leher depannya. Dahaga telah menyergapnya. Tenggorokannya terasa kering. Bahkan di mulut seperti tidak ada cairan yang bisa membuat bibirnya basah.


Ia berjalan menghampiri penjual es kelapa muda yang letaknya tidak jauh dari sana.


"Mang, es nya satu ya. Banyakin serutan daging kelapanya," pinta Gea.


Tatapan matanya tidak luput untuk mengawasi wanita itu dari kejauhan. Gea juga memilih posisi yang sekiranya tidak terlihat dari sana. Ia tidak ingin dikira sebagai penguntit maupun mata–mata.


"Tidak bisa Neng. Mana ada beli seperti itu," protes mamang penjual. Memperbanyak serutan kelapa mudanya artinya keuntungan jualannya di hari itu akan berkurang. Dan ia tidak ingin merugi.


"Bisa Mang, buatin saja Mang."


Gea hanya menatap sekilas, lantas ia kembali menatap wanita dan pria itu.


"Tidak bisa Neng."


Mamang penjual es kelapa mudah itu masih saja kekeuh. Hal itu membuat Gea berdecak sebal. Pasalnya ia juga tidak sepicik itu untuk mendapatkan keuntungan dengan meraup untung penjual.


"Aku bayar 2x lipat Mang."


Hanya itu satu–satunya cara ampuh untuk membungkam mamang penjual. Suara protesannya membuat konsentrasinya terganggu. Selain itu kekesalannya meningkat hampir 100% lantaran rasa haus yang kian menguasainya.


"Nah gini dong, baru ..."ungkap mamang penjual itu dengan wajah sumringah.


Dengan gesit mamang itu membuatkan es kelapa muda untuk Gea. Ia mewadahi es itu dengan sebuah pastik. Ada sebuah sedotan dengan ukuran yang cukup besar untuk memakan serutan daging kelapa muda itu.


"Ini Neng." Mamang penjual menyerahkan seplastik es kelapa muda sekalian dengan uang kembaliannya.


"Makasih Mang. Kembaliannya untuk Mamang saja."


Gea hanya menoleh sekilas untuk kemudian berfokus lagi pada kegiatan utamanya. Bukan karena tidak sopan, namun ia tidak ingin kehilangan jejak mereka.


"Makasih Neng... rejeki nomplok," ungkap Mamang penjual kemudian sembari mengibaskan uang itu ke tangannya.

__ADS_1


Gea hanya mengangguk lantas pergi meninggalkan mamang penjual. Sesekali mulut Gea sibuk mengerucut, menyedot santapan segar di genggamannya itu. Ia mencari tempat yang cukup tersembunyi dari sana. Ia menunggu kesempatan untuk ia menghampiri Dela.


10 menit...


20 menit...


25 menit...


45 menit...


Lama kelamaan Gea sendiri mengerang frustasi, tertahan. Terlalu lama ia menghabiskan waktu untuk menunggu. Es kelapa muda pun kini telah ludes, tinggal plastik dan sedotannya saja. Ia pun kembali merasakan dahaga. Ia memanggil mamang penjual dengan melambaikan tangan. Seusai mamang itu telah ada di depannya, ia kembali memesan dengan porsi yang sama. Ia membayarnya dengan uang lima puluh ribuan.


"Baiklah 10 menit lagi. Jika tidak ada kesempatan, aku pulang," putusnya. Ia kembali menyedot es kelapa mudanya itu.


"Uhuk uhuk uhuk."


Gea tersedak. Gea terlalu kencang kala menyedot minuman itu. Serutan daging kelapa muda itu langsung mengalir ke krongkongan, menyentuh ujung tenggorokannya.


Tiba–tiba saja Gea menarik dirinya cepat untuk bersembunyi di balik pohon yang ada di sampingnya itu.


"Hufft Hufft hufft hufft ..." Gea mengelus dadanya yang kini jantungnya berdebar kencang. Lantas ia mengintip di balik pohon itu.


"Aman."


"Aihh ternyata aku tidak berbakat menjadi detektif ataupun mata–mata. Untung saja tidak ketahuan... Eh eh akhirnya dia pergi," ungkap Gea kala melihat pria itu meninggalkan si wanita sendirian.


Dengan langkah yang sedikit mengendap–endap, ia menghampiri wanita itu. Gea celingukan, untuk memastikan bahwa pria itu pergi untuk waktu yang cukup lama. Semakin ia mendekat, semakin jelas jika wanita itu memang kakaknya, Dela. Ia menghampiri sang kakak yang sampai saat ini tidak menyadari kehadiran Gea lantaran ia menatap anak kecil yang ada di arah samping kirinya, sedangkan Gea menghampirinya dari arah samping kanan.


"Kak," gumam Gea memanggil Dela.


"Ya–a" Wajah dan suara yang semula bersahabat kini berubah menjadi datar dan melemah.


Helaan napas terdengar hingga ke telinga Gea.


"Ngapain kamu kesini?" tanyanya tajam tanpa basa–basi.


"Kakak sekarang tinggal di mana?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Dela, Gea malah melontarkan pertanyaan lain. Sungguh ia ingin iba dengan kondisi kakaknya itu yang kini hidup seadanya, terlihat dari apa yang Dela pakai.


Cukup geram dengan sikap Gea yang sok peduli, Dela berdiri dari duduknya. Ia menatap Gea tajam. Bahkan manik matanya seakan ingin membunuh keberadaan Gea.


"Apa urusanmu? Hidupku tidak ada urusannya dengan kamu. Dan kau tidak perlu tahu aku tinggal di mana. Pergi dari sini!" usir Dela.


Dela menunjuk Gea untuk pergi meninggalkannya. Kegengsian dan harga diri yang tidak ingin dipandang rendah masih menutup hatinya. Tanpa meminta tujuan Gea menghampirinya, ia telah berprasangka jika Gea datang hanya untuk merendahkannya. Sebelum itu terjadi, maka ia harus bertindak terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tapi, Kak?" tatap Gea memohon.


"Pergi!!"


Dela benar–benar tidak ingin melihat Gea saat itu juga. Ia sekarang tidak memiliki apa–apa yang bisa ia banggakan. Ia membuang muka, berharap Gea pergi dari hadapannya.


Melihat respon Dela yang bahkan tidak ingin menatapnya, Gea berbalik dan pergi meninggalkan Dela.


Gea menarik napas dalam.


"Loh Sayang? Kamu kenapa?" tanya Briel. Seusai membersihkan badan, ia melihat sang istri. Tangannya bertumpu pada pembatas balkon, matanya menatap lurus ke arah depan tanpa tahu apa yang ada di pikirannya. Ia khawatir istrinya kenapa–napa.


"Astaga Bayang! Ngangetin aja."


Lamunan Gea ambyar. Dengan wajah yang sedikit kesal, ia menatap Briel. Ia menepuk ringan dada bidang Briel yang kini terbalut kaos hitam polos.


Briel tersenyum melihat istrinya itu. "Ada apa hmm? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya lembut.


Gea yang semula menghadap ke arah Briel, kini kembali ke posisinya, menatap pemandangan malam di balkon itu. Gea menghela napas.


"Aku teringat pertemuanku dengan Dela tadi siang. Kehidupannya benar–benar berubah." Gea menerawang ingatannya akan Dela siang tadi.


Briel menyimak Gea hingga keadaan kembali hening lantaran Gea tidak mengucapkannya lebih.


"Lalu, apa yang membuat dirimu seperti ini, Sayang." Briel menatap wajah istrinya itu dari samping. Gea kini juga menatap wajah Briel sekilas saja lantas kembali menatap lampu di malam hari.


"Entahlah, Bayang. Aku juga tidak tahu."


Gea mengedikkan bahunya. Gea sendiri bingung sebenarnya apa yang membuat ia kepikiran. Yang jelas, jika diberi kesempatan, ia hanya ingin menemui Dela kembali.


"Hmm ... Si duo kembar sudah tidur?" tanya Briel berusaha mengalihkan pembicaraan agar Gea tidak terlarut dalam pikirannya.


"Sudah. Kini mereka di jaga sama Minah dan Dini."


Briel mengangguk. "Oke, kalau begitu ayo kita yang tidur," ajak Briel ia merangkul lembut pundak Gea.


Gea mengangguk sembari tersenyum. Aktivitasnya seharian membuat dirinya lelah.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🌻

__ADS_1


__ADS_2