Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Terluka Tapi Berdarah Semu


__ADS_3

"Eh sebentar. Aku haus. Minum dulu tidak apa mungkin ya."


Sebelum naik ke lantai atas, Gea memilih untuk memuaskan dahaganya dengan segelas air putih. Seusai rasa dahaga itu berhasil ia enyahkan, Gea melanjutkan langkahnya untuk menuju ke lantai atas. Ia ingin segera menemui ke–dua putranya itu.


"Nino ... Rio ... Bunda pu–"


Betapa terkejutnya ia dengan apa yang terjadi. Gurat kemarahan terlihat jelas di paras cantik itu. Kekecewaan sudah menyelimutinya. Sebagai ibu yang normal dan sayang dengan anaknya, hatinya sangat tersakiti. Ia tidak bisa memaafkan apa yang telah terjadi.


"Baringkan kembali anakku!!"


Tidak ada gerakan sedikitpun, Gea berjalan cepat menghampiri Dini. Dini yang sedari tadi fokus dengan Nino, menoleh lantas membeliakan matanya. Ia gelagapan, tidak siap dengan apa yang terjadi. Semuanya terjadi dengan tiba–tiba. Dua kancing atas baju Dini terbuka lebar, memperlihatkan sebelah buah dada dan bersiap untuk menyusui Nino.


Gea langsung merebut Nino dari tangan Dini. Gea melayangkan tamparan keras di sebelah pipi Dini. Suara gesekan telapak tangan dengan kulit pipi Dini nyaring memenuhi ruangan itu. Wajah Dini terhempas ke samping. Sontak tangannya memegang kulitnya yang terasa panas.


Dengan napas yang berderu, Gea menahan amarah yang menggebu. Tidak ada tangis, namun mata Gea berkaca–kaca. Sedangkan kini tangis Nino melengking memenuhi ruangan itu. Suara tamparan keras itu membuat Nino ketakutan.


"Kurang ajar kau Dini! Apa maksudmu memberikan ASI untuk anakku?!"


Gea tidak memperdulikan rasa sakit di tangannya yang masih dalam tahap pemulihan. Rasa sakit yang tidak terlihat lebih besar dari sakit fisiknya.


Dini terbungkam. Ia masih memalingkan wajahnya tanpa berniat menundukan kepalanya. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah dalam hatinya. Namun ia juga tidak berniat untuk menyanggah apapun atau melawan Gea.


"Lancang sekali kamu?! Aku mempercayakan kamu untuk menjaga anakku. Tapi apa yang kau lakukan, ha?! Kau justru ingin mengambil Nino dariku!"


Dini terbungkam. Suasana hening sekejap. Napas Gea tersenggal senggal. Ia masih belum bisa menerima apa yang terjadi itu.


Gea bersiap kembali melayangkan tangannya namun suara dari luar, menghentikan niatnya.


"Berhenti Gege! Apa yang kau lakukan?"


Tere segera menghampiri mereka. Ia menatap Gea dan Dini secara bergantian.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


Tere masih belum mengerti akan apa yang terjadi. Dini tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Sedangkan kini Gea menatap Dini dengan tatapan yang datar dan tajam.


"Lihatlah sendiri dadanya, Bun!"


Gea menunjuk Dini. Ia enggan menjelaskan secara langsung. Kejadian di depan matanya itu telah melukai hatinya sebagai seorang ibu. Ibu mana yang rela anaknya disusui oleh wanita lain sedangkan dirinya sendiri mampu memberikan ASI untuk anaknya.


"Dini ... "


Tere kecewa dengan perilaku Dini. Ia menggeleng pelan. Pantas saja Gea memarahi Dini sampai tega menampar Dini keras.


"Tutup bajumu! ASImu tidak dibutuhkan! Aku bisa memberinya sendiri. Kau tidak berhak atas anakku meski kau turut mengasuh anakku!"


Dengan gerakan pelan, Dini mengancingkan kembali kancing bajunya. Tere mengambil alih Nino dari gendongan Gea. Kondisi hati Gea yang memanas akan membuat Nino semakin menangis. Seorang anak akan tahu bagaimana kondisi hati seorang ibu.


"Dan pergi dari sini!!"


Gea mengusir Dini. Ia tidak ingin melihat Dini lagi di depan matanya. Seketika Dini mendongakan wajahnya. Ia menatap Gea tak percaya. Rasa sayangnya pada Nino dan juga Rio melebihi sayang akan dirinya sendiri. Ia tidak bisa berpisah dengan kedua anak itu. Tamparan fisik tak membuatnya menangis namun tamparan batin seakan menyambarnya.


"Nyonya ... saya mohon maafkan saya ... Saya khilaf Nyonya. Saya tidak ingin dipecat. Saya masih ingin bekerja di sini. Saya mohon Nyonya ..."


"Jangan sentuh aku! Sentuhan tanganmu haram bagiku!!" ucap Gea sarkas. Tanpa menoleh sedikitpun, ia berucap. Menatap wajah Dini hanya akan membuat dirinya semakin marah.


"Dini ..."


Minah membantu Dini yang tersungkur untuk berdiri. Hatinya mengiba melihat Dini yang terlihat begitu hancur. Dengan memberanikan diri, Minah menatap Tere dan Gea bergantian. Ingin sekali ia menanyakan apa yang terjadi. Namun belum sempat ia berbicara, Gea telah terlebih dahulu menginterupsinya.


"Jangan bantu dia! Atau kamu juga akan saya pecat!"


Seketika keberanian Minah menciut. Kata pecat membuat dirinya mematung. Ia tidak ingin nasibnya berakhir begitu saja. Masih banyak tanggungan yang masih harus ia tanggung. Minah melepaskan sentuhan tangannya dari kedua lengan Dini lantas berdiri pelan. Ia menundukan kepalanya. Ia hanya bisa menatap Dini dengan iba. Dalam hati kecilnya ia meminta maaf pada Dini.


"Maaf, Din, aku tidak bisa membantumu. Posisiku sulit," tutur Minah dalam hati. Ia berbicara dengan tatapan matanya.


"Oeeeekk oooeeekk..." Tangis Nino belum reda. Tere berusaha terus untuk menenangkan Nino.

__ADS_1


Sedangkan Dini masih menangis tersungkur. Hingga datanglah Briel yang pulang lebih awal.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Briel. Ia berlari menghampiri Dini. Briel merangkul kedua pundak Dini untuk membantu tubuh yang sudah lemas lantaran menangis itu berdiri kembali.


"Ooo sekarang tidak hanya anakku!" Gea tertawa sumbang. "Suamiku juga kau embat, ha?! DASAR KURANG AJAR!!!" ucap Gea sarkas.


Dini memalingkan wajahnya. Ia menghindari Gea yang berusaha melayangkan kembali tangannya pada pipi mulus Dini. Dengan gesit Briel menangkis tamparan itu. Ia tidak ingin istrinya melakukan kekerasan. Tenaga Gea bukanlah tenaga wanita kebanyakan. Selembut apapun tamparannya, adalah kencangnya tamparan kebanyakan wanita.


"Tenang, Sayang, tenang!"


Briel memeluk tubuh Gea, untuk menenangkan Gea. Briel menatap semua orang yang ada di situ. Bahkan Tere yang berusaha keras menenangkan Nino pun tidak lepas dari tatapannya.


"Dia mau mengambil anakku! Anak kita!! Dia mau menyusui Nino. Aku tidak rela ... tidak rela Bayang!" ucap Gea yang terhambat oleh dada bidang Briel. Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini luruh dengan sendirinya tanpa permisi.


"Dia ... Ingin mencuri anakku, Bayang!"


Gea masih tertawa sumbang. Tawanya begitu mengerikan. Ia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya.


"Dan kamu pun akan diambilnya," ujar Gea. Tidak hanya anaknya. Suaminya pun juga ingin direbut Dini, menurut pikirannya. Kini apa yang ia rasakan merusak pola pikirnya hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Briel menghela napas kasar. Tubuhnya membelakangi Tere, Dini, dan Minah. Tangannya memberikan sentuhan lembut pada punggung Gea. Istrinya sedang tidak baik–baik saja.


"Bun, bawa Nino keluar. Minah, bawa Rio juga. Dan kamu Dini, keluar dahulu!"


Tatapan mata Briel berubah datar kala ia menatap Dini. Sedangkan air mata Dini semakin menjadi lantaran Dini sadar akan tatapan itu. Suasana begitu kacau. Mereka menuruti apa kata Briel.


"Shuutt ... Tenanglah, tidak akan ada yang mengambil satupun darimu," ujar Briel lembut.


Briel masih berusaha menenangkan Gea. Gea menangis sesenggukan di dalam dekapan hangat Briel.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading Gaes,


Jangan lupa bahagia 🌻🌻


__ADS_2