
"Bayang..."
Gea berjalan menuruni tangga. Ia mencari Briel yang tidak ia ketahui kini ada di mana. Hari ini adalah hari di mana Briel mengambil cuti setelah sekian hari dia terus bekerja tanpa henti di perusahaan. Untuk itu sudah dipastikan Briel masih ada di dalam rumah lantaran tidak ada kata pamit dari Briel untuk pergi ke luar rumah. Biasanya Briel akan pamit pada dirinya.
Tanpa berhenti yang dimaksud adalah bekerja full hanya pulang untuk melihat anaknya sebentar lantas istirahat. Gea tidak mempermasalahkan hal itu. Toh Briel juga bekerja untuk dirinya dan kedua anaknya. Ia malah khawatir dengan kondisi kesehatan Briel. Lama kelamaan badannya akan renta juga.
"Ayah, tahu Briel di mana tidak?" tanya Gea pada sang ayah mertua. Mereka bertemu di ruang gym yang biasa digunakan untuk mereka berolahraga. Gea mencari ke sana, mungkin bakal menemukan Briel di sana. Namun hasilnya tetap nihil juga. Sepanjang ia menyapukan matanya ke seluruh sudut ruangan itu, tidak ada sosok Briel yang tertangkap manik matanya.
Frans berhenti dari aktivitasnya.
"Ayah tidak tahu, Gey." Ia mengambil handuk kecil yang tersampir tidak jauh dari sana. Keringatnya yang menetes membuat badannya terasa begitu lengket.
"Sudah kamu cari?"
Gea mengangguk. "Sudah Yah. Bahkan aku sudah menelfonnya. Tapi ternyata gawai dia di kamar." Wajah Gea tampak lesu. Kebingungan lebih mendominasi.
Frans berpikir sejenak, kira–kira di mana anaknya itu berada. "Tanya Bunda coba. Ayah tidak tau soalnya," putus Frans pada akhirnya. Ia tidak tahu menahu di mana kira–kira Briel berada.
Gea mengangguk mengiyakan. Ia berpaling lantas pergi mencari keberadaan Tere.
"Aihh kalian kayak anak kecil yang main petak umpat saja. Terlalu unik, padahal sesama di dalam rumah," ujar Frans kala melihat anak dan menantunya itu. Ia menggelengkan kepalanya ringan.
"Tapi wajar sih. Rumah ini cukup besar. Berjalan keliling rumah saja mungkin sudah bisa digunakan sebagai pengganti olahraga."
Bukan narsis. Ucapan Frans sesuai dengan fakta yang ada. Frans minum dari botol yang sengaja ia siapkan. Ia meminumnya cukup banyak untuk mengganti cairan tubuh yang terbakar agar tidak dehidrasi. Biarpun sudah cukup tua, ia masih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran.
🍂
"Astaga ... Ingin rasanya kuperkecil rumahnya. Capek tauk!" keluh Gea. Ia berjalan cukup jauh. Naik turun pula. Untung saja ada lift khusus.
Gea sudah bertanya pada Tere. Tere juga tidak tahu di mana keberadaan Briel. Bahkan sejak pagi Tere tidak melihat anakbya itu. Gea mencari Briel bukan tanpa tujuan. Siang itu juga ia harus ke butik. Penurunan penjualan membuatnya harus memikirkan ulang strategi yang harus ia gunakan bersama dengan Hendri. Kali ini dirinya harus hadir. Dan ia ingin berpamitan dengan Briel. Berpamitan adalah kewajibannya sebagai seorang istri pada suami.
"Lama–lama aku bisa tambah kurus," ucapnya kemudian. Sebenarnya ia heran. Ia berbeda dengan ibu–ibu muda kebanyakan. Kebanyakan dari mereka berat badan bertambah pesat. Namun dirinya sama saja. Berat bada tidak berubah banyak. Mungkin hanya sekilo dua kilo saja.
__ADS_1
Gea mulai menekan tombol lift ke lantai atas.
Gea kembali menuju ke ruang kerja sesuai anjuran Tere. Sebelumnya ia memang sudah ke sana. Ruangan itu juga kosong. Namun ia mencoba ke sana lagi. Hanya itu kemungkinan keberadaan Briel di semua sudut rumah itu.
Gea membuka pintu ruang kerja Briel. Memang tidak ada Briel di sana. Ia berjalan masuk lebih dalam lagi, ke ruangan di mana Briel bisa merebahkan tubuhnya sejenak. Dan ternyata benar. Briel ada di sana, tengah tertidur pulas.
"Bayang," ujar Gea lembut. Ia menepuk ringan lengan Briel, mencoba membangunkan Briel tanpa membuat Briel terbangun tiba–tiba.
"Hmm?" Briel mengerjapkan matanya. Ia berusaha mengumpulkan sisa–sisa nyawa yang masih tersebar di alam mimpinya.
"Ayo bangunlah." Gea menarik lembut tubuh Briel agar Briel lekas terbangun sempurna.
"Ada apa hm?" tanya Briel. Kini ia terduduk menghadap ke arah Gea yang duduk di samping ranjang menghadapnya.
"Tolong jaga anak–anak ya, aku mau ke butik sebentar. Mungkin paling lambat sore nanti aku pulang," ucap Gea jujur. Ia tahu jika meeting nanti akan berlangsung cukup lama. Namun ia akan tetap pulang jika sudah sampai di batas waktu yang ia tentukan untuk pulang, meskipun meeting belum usai.
Briel menyipitkan matanya. "Untuk apa? Bukankah di sana sudah ada Hendri?"
"Iya. Tapi kali ini dia butuh aku, Bayang."
"Oke. Tapi tetap, kamu harus pergi sama Pak Samsul." Tanpa banyak tanya, Briel mengijinkan Gea dengan syarat. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Gea.
"Siap Bos!"
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kamar mereka. Gea untuk bersiap, dan Briel untuk menjaga anak–anak mereka.
🍂
Di ruang meeting, tinggalah Gea bersama dengan Hendri. Mereka membereskan sisa–sisa meeting hari itu. Gea memang lebih suka melakukan semuanya sendiri ketimbang harus meminta orang lain untuk membereskan perlengkapan miliknya. Ia tidak mau direpotkan dengan pencarian barang yang lupa di mana barang itu diletakkan. Lebih baik dia yang menyimpannya sendiri.
"Pulang sama siapa Gey?" tanya Hendri. Ia sibuk mematikan laptop miliknya.
"Ada, Pak Samsul nunggu di bawah," jawab Gea jujur. Ia sibuk memasukan beberapa barang ke dalam tas kerjanya yang cukup besar.
__ADS_1
"Okedeh kalau gitu. Gak mau pulang sama Kakak?" Hendri memberikan penawarannya lagi. Lagi pula sudah lama ia tidak mengantar adik kesayangannya itu. Ia merindukan momen–momen itu.
"Tidak, Kak. Kalau aku sama Kakak, sia–sia dong Pak Samsul menungguku," ucap Gea dengan sedikit gurauan. Hendri tertawa kecil. Ternyata walaupun sudah punya 2 anak, Gea tetaplah Gea yang ia kenal.
"Bisa aja kamu Gey. Kan tinggal bilang saja, pasti Pak Samsul juga paham. Pak Samsul kan juga seorang lelaki," gurau Hendri mengimbuhi.
"Paham dong ... Tidak paham ya sudah kami putus."
Ucapan Gea membuat mereka berdua tergelak. Gea sendiri geli dengan ucapannya yang mulai nglantur.
Hendri mengatur napasnya untuk menghentikan tawanya segera. Begitupun juga Dengan Gea. "Sudah–sudah. Lama–lama kau bisa gila Gey," ucap Hendri kemudian dengan sisa–sisa tawa yang belum hilang.
"Tu tau..." ujar Gea.
"Oke deh, Kak, aku pulang dulu, Kak. Bye..." pamit Gea. Ia harus segera pulang. Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan duo kembar.
"Ayo Pak, jalan," ujar Gea kala sudah masuk ke dalam mobil.
"Siap Nyah."
Samsul menghidupkan mesin mobil lantas membawa mobil itu ke jalan raya yang padat.
Gea menatap jam tangan yang ia pakai di pergelangan tangannya. Ternyata ia pulang lebih cepat dari perkiraan.
"Apa aku ke sana lagi saja ya?"
Tiba–tiba terlintas keinginan yang sebenarnya mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir itu.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻