Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Jatuh


__ADS_3

Klunting


Sebuah notifkasi pesan muncul di layar gawainya. Dela mengecek gawainya itu. Ternyata ada sejumlah uang masuk ke rekeningnya. Jumlahnya cukup fantastis, membuatnya terkejut. Namun nama yang tertera dari si pengirim tak ia kenali. Dela berpikir sejenak, mengingat kembali siapa sosok di balik nama itu mulai dari saudara dan temannya. Nihil, ia tak menemukannya.


"Ah bodo amat! Yang penting aku tak perlu khawatir tentang hidupku karena uangku bertambah."


Dela tak ingin berpikir terlalu panjang. Lebih baik ia menikmati apa yang sudah ada. Karena yang ada itu tersedia untuk dinikmati.


Sejenak, ia teringat akan sesosok lelaki yang ia temui di bar waktu itu. Sosok yang berbeda dari Davin. Pertemua di waktu itu cukup mengesankan lantaran tak sampai hanya di ngobrol bersama. Mereka berakhir menghabiskan malam berdua, walaupun sebenarnya Dela tak yakin dengan apa yang ia ingat.


"Tapi apa iya waktu itu aku bersamanya?"


Dela mulai mempertanyakan pada dirinya. Lantaran ia tak mengingat apapun yang ia lakukan. Hanya saja ia terbangun dengan kondisi di dalam kamar dengan baju yang sudah tidak rapi.


"Aiss bodo ah. Aku harus mencari lelaki itu lagi. Andai kata Davin benar–benar menceraikanku, aku masih mempunyai cadangan lelaki yang mau hidup bersamaku," rancau Dela.


Ia mulai bersiap pergi ke club yang sama seperti waktu itu. Bertemu dengan pria itu kembali adalah tujuan utamanya selain untuk menyenangkan dirinya yang suntuk. Pakaian minimalis dan terkesan kurang bahan melekat di tubuhnya yang menggoda kaum adam hidung belang.


🍂


"Aku hamil, dan kau tak bisa menceraikanku begitu saja!"


Dela datang membawa sebuah alah bergaris merah dengan 2 garis yang terlihat. Ia menunjukannya pada Davin.


Tak ada raut kaget di wajahnya. Davin tersenyum miring. Tawa sumbang yang terkesan meremehkan pun terdengar. Hal itu membuat Dela terperangah. Respon Davin sungguh di luar ekspektasinya.


"Kenapa kaget?"


Sungguh, senyum ejekan dari Davin membuat harga dirinya terinjak–injak. Dela merapatkan mulutnya, menahan amarah. Ia berusaha mengontrol dirinya agar dirinya tidak kalah di hadapan Davin.


Dela tertawa meremehkan. Dengan yakin Dela berkata, "Tidak. Tapi kamu tidak akan pernah bisa berkutik lagi. Karena anak ini anakmu!"


Plok plok plok!!


Tepukan tangan itu terdengar menggema di dalam ruangan.


"Tidak akan terjadi. Karena itu bukan anakku!" jawabnya tegas.


"Anak ini anakmu! Semena mena ya kamu tidak mau mengakui darah daging sendiri?!" Telunjuk Dela turut berbicara, menunjuk ke arah Davin, tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


Davin berpaling, berjalan sedikit menjauh. "Aku berhak untuk tak mengakuinya karena dia bukan anakku. Bisa saja kan itu anak dari pria yang kau temui di club malam?" ucapnya tepat sasaran. Perkataan itu lansung menghujam Dela, membuatnya ternganga.


"Sial dari mana dia tahu soal ini?" gumam Dela dalam hati. Sejenak ia berpikir untuk kemudian berbicara.


"Mana mungkin dia? Yang sering meniduriku tiap malam hanya kamu!"


"Kau pikir aku tidak tahu?" Davin tersenyum miring.


Mereka saling tatap. Adu sengit terlihat jelas di mata keduanya.


"Oke fine! Aku akui aku pernah bersama dia. Tapi anak ini memang anakmu. Dan yahh satu lagi ... bukankah kamu lebih gila dari pada aku?"


Dela menegaskan bahwa baik dia maupun Davin sama saja. Tidak ada bedanya. Ia menggunakan alasan itu untuk saling menerima kembali.


"Iya aku gila! Kita sama–sama tahu kalau di rumah tangga kita tidak ada yang benar. Karena itu aku ingin menceraikanmu. Aku tidak ingin terikat padamu lagi!"


Davin menekankan suaranya pada kalimat terakhir.


"Terikat hanya membuat ruang gerakku tidak bebas," ucapnya tanpa ada filter sedikitpun. Kehidupan dan kebiasaan benasnya telah membelenggu sampai akar.


Dela menatapnya dengan tatapan tajam, tak percaya dengan apa yang Davin ucapkan.


Seketika gelak tawa yang begitu mengglegar di ruang itu, terdengar keras di telinga Dela.


"Hahaha hadeuhh Dela ... Dela. Ututututu Sayang... Betapa malangnya dirimu baby!" ucap Davin di sela tawanya yang susah ia kendalikan. "Bangun... bangun!!!"


Tangannya tak tinggal diam. Lembut jari jarinya membelai dagu Dela. Secepat mungkin Dela menepis kasar tangan Davin.


"Najis!"


"Wowowowowo santai ... santai ..."


Davin mengangkat kedua tangannya dengan sedikit mundur ke belakang, seolah–olah dia takut dengan tindakan Dela.


Lantas Davin tertawa lantang. Hal itu membuat Dela semakin geram. Tawa Davin merupakan penghinaan baginya


"Dasar bodoh!" Gesit, Davin mendekat ke arah Dela, tepat di samping telinga Dela. "Kalau punya otak itu dipakai, jangan hanya untuk pajangan saja!" ucapnya lirih, sengah berbisik.


Buhh

__ADS_1


Davin meniup telinga Dela selepas usai berbisik.


Dela menatap Davin penuh tanya. Ia masih tak mengerti yang Davin ucapkan. "Apa maksudmu?!"


Davin hanya tersenyum miring, enggan memberikan jawaban.


"Aku pasti menemukan pria itu!" lanjut Dela lagi yakin.


Tawa Davin kembali pecah. "Bodoh! Sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa menemukan dia. Karena dialah orang suruhanku. Dan orang suruhan akan selalu siap dengan permintaan penyuruh!"


Senyum itu Davin kali ini terlihat mengerikan. Rencananya berhasil 100%.


"Kamu gila!!! Kamu benar–benar psikopat!"


Dela tidak terima dengan perlakuan Davin. Sungguh ia tak menyangka jika semua ini adalah ulah Davin.


"Iya itu aku." Tak ada bantahan sedikitpun oleh Davin.


"Dan aku akan tetap menceraikanmu. Aku tidak mau apa yang sudah jadi milikku dipakai oleh orang lain!"


"Kur–"


"Suuut ...."


"Tak usah banyak bicara. Pergi dari sini sekarang atau pisau ini akan mengoyak wajahmu itu," lanjut Davin dengan memainkan pisau tumpul di tangannya.


Dengan rasa kesal dan marah, Dela meninggalkan apartemen Davin.


Hancur, bisa dibilang cukup hancur. Dela tak tahu lagi harus hidup dengan siapa. Bahkan harapan terakhirnya juga direnggut begitu saja.


🍂


//


Haloo semuaa ... ini part terakhirr fokus sama Dela. Mereka cerai ya. Selanjutnya Asa bakalan fokus lagi ke Gea 😊


Terimakasih


Jangan lupa bahagia 😘

__ADS_1


__ADS_2