
"Bunda ...." teriak Gea. Berteriak memanggil sang ibu mertua adalah kebiasaan Gea kala masuk ke rumah mereka semenjak Gea hamil. Tingkah Gea menjadi lebih manja dan dalam suatu momen terlihat kekanak–kanakan.
Briel tersenyum sembari menggeleng pelan melihat kelakuan Gea yang menggemaskan di matanya.
"Eh menantu Bunda yang paling cantik, akhirnya kamu datang juga Ge." Tere menyambut kehadiran anak dan menantunya yang dinanti itu. Tere mencium gemas wajah menantunya itu.
"Bunda ...! Jangan ciumi wajah istriku lah," rajuk Briel. Briel sedikit memisahkan dua wanita beda generasi itu. Tere tertawa melihat Briel yang sewot saat ini.
"Hahahahaha...."
Suara pria yang tertawa itu terdengar. Mereka semua memusatkan perhatian mereka pada pria yang datang menghampiri mereka dengan tawa renyah itu.
"Bunda ... Lihat anakmu. Mulai sewot dia," ucap Frans dengan tawa yang masih tersisa.
"Ayah," sapa Gea.
Gea hendak memeluk sang ayah mertua. Namun yang terjadi adalah ia memeluk Briel dari belakang. Pasalnya Briel menghalangi Gea untuk memeluk ayahnya itu. Tere tertawa melihat tingkah anaknya itu. Wajah tak bersahabat terlihat jelas di wajah Gea. Ia menabok keras punggung Briel. Briel mengaduh kesakitan karena tabokan Gea.
"Sukurin. Makanya jadi anak jangan kurang ajar," ucap Frans.
Tanpa mengulur waktu lagi, Gea memeluk sang ayah mertua. Sungguh, ia sangat merindukan sosok ayahnya yang sudah lama tak ia peluk. Jangankan memeluk. Menemuinya saja tidak pernah dalam beberapa tahun ini. Ia memeluk Frans begitu hangatnya demikian juga dengan Frans. Ia mengelus pelan pundak Gea penuh sayang, layaknya seorang ayah yang menenangkan hati putrinya.
Tak terasa, setetes air bening menetes dari netra indah itu. Dengan cepat, Gea mengusap air mata itu agar tak disadari oleh siapapun. Namun sayang Briel lebih cepat dari yang Gea kira. Briel menyadari apa yang terjadi pada Gea. Tatapan sendu itu ia layangkan pada Gea dengan helaan napas pelan, namun sesak.
"Wihh sekarang kaki Ayah sudah normal, tinggal dua," ucap Briel mencoba memecah suasana agar Gea tak bersedih sembari melihat ke kedua kaki Frans.
Plak
Dengan cepat Frans melepas pelukan hangat itu kemudian menepuk keras lengan Briel hingga Briel mengadu kesakitan karena tepukan itu terasa panas. Briel mengelus–elus lengannya sendiri.
"Is is is kurang ajar sekali jadi anak," ucap Frans diselingi candaan. Gelak tawa terdengar di ruangan itu, menggleggar, menandakan betapa bahagianya keluarga itu.
"Adam ke mana Bri?" tanya Tere.
__ADS_1
Briel memperlihatkan deretan gigi rapinya. "Dia di kantor," ucap Briel.
Tere menggelengkan kepalanya pelan. "Sungguh keterlaluan anak ini," ucap Tere sembari menyipitkan matanya. Ia tak habis pikir dengan Briel yang tega membiarkan Adam bekerja sendirian.
"Gak tau tuh Bun, Bang Briel tega sekali sama Adam, Bun," ucap Gea membumbui. Ia menjulurkan lidahnya pada Briel.
Briel melayangkan tatapan penuh ancaman pada Gea. Ancaman bukan ancaman, namun ancaman yang hanya sekadar candaan.
"Tenang Bun. Briel kasih bonus kok untuknya," ucap Briel menenangkan. Ia tahu jika Tere begitu menyayangi Adam seperti Tere menyayanginya.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian bersihkan badan kalian. Jangan lupa nanti ke halaman samping. Kita minum teh dulu sebelum makan malam," ucap Tere.
Mereka bertiga mengangguk mengiyakan titah Tere.
🍂
Empat cangkir teh hangat telah tersaji di atas meja. Teko kecil dengan beberapa macam camilan menemani pesta teh kecil–kecilan dengan empat orang dewasa di sana.
"Bagaimana dengan kakimu Yah?" tanya Briel memecah keheningan yang menenangkan itu.
"Sudah lebih baik. Ayah hanya perlu check up sesekali saja untuk memastikan kesembuhan total kaki ayah," ucap Frans dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ia kembali menyeruput sedikit demi sedikit, dan sesekali meniupnya agar tak membakar lidah.
"Syukurlah Yah," sahut Gea yang sedari tadi mendengarkan percakapan Briel dan juga Frans.
"Tadi kami bertemu dengan Sam. Astaga bujang itu sampai sekarang pun tak terlihat menggandeng seorang gadis bersamanya, sama seperti Adam," ucap Tere. Jiwa ibu–ibunya mulai keluar tatkala orang yang sudah ia anggap sebagai anak tak kunjung menemukan tambatan hati mereka.
"Emm ... Apa mereka aku jodohkan saja seperti Briel waktu itu? Banyak juga anak teman–teman bunda yang masih gadis dan usianya sudah siap untuk menikah. Kali kan mereka cocok?" Mata Tere berbinar. Ide gila itu muncul begitu saja dalam benaknya.
Frans menggelengkan kepalanya mendengar ide gila Tere, Briel hanya bisa menepuk dahinya sedangkan Gea hanya bisa tersenyum canggung.
"Bunda ... Biarkan saja mereka. Jodoh itu urusan mereka, Bun. Tugas kita memantau mereka saja," ucap Frans dengan bijak. Ia tahu, istrinya itu adalah tipe ibu yang cerewet, namun cerewetnya itu adalah bentuk sayang Tere terhadap mereka.
Tere hanya tersenyum memperlihatkan giginya dengan wajah tak berdosa. Serentak mereka menggeleng pelan.
__ADS_1
Mereka kembali menikmati teh hangat dan camilan itu. Obrolan–obrolan kecil menjadi teman kebersamaan mereka. Hingga sebuah kode kecil Tere layangkan untuk suaminya.
"Yah, cepatlah berbicara," begitulah kira–kira yang dapat Frans tangkap dari kode kecil Tere.
Frans terdiam sesaat. Kemudian ia melayangkan kode yang sama dengan Tere.
"Bunda saja. Ayah bingung bagaimana mau berbicara dengan mereka," begitulah kira–kira yang ingin Frans sampaikan dengan mata yang bergerak–gerak dan bibir yang komat–kamit tanpa mengeluarkan suara sekecil apapun.
"Kalian kenapa?" tanya Briel yang sedari tadi mengamati gerak–gerik orang tuanya. Mereka tergagap karena pertanyaan Briel.
"Tidak ada apa–apa. Iya kan Yah?" ucap Tere sebagai pembelaan atas dirinya sendiri.
"Heem," jawab Frans singkat.
Briel hanya mengangguk ringan, mencoba untuk mengerti, walau dirinya itu tak mengerti. Keheningan mulai menyelimuti kebersamaan mereka kembali.
"Ehem ..." Frans berdeham cukup keras untuk mencairkan suasana canggung karena tertangkap basah itu. Otomatis semua pusat perhatian beralih padanya.
"Gea," panggil Frans.
"Iya Yah?"
"Apakah kamu tak ingin mempertemukan kami dengan orang tuamu?" tanya Frans hati–hati. Sudah cukup lama mereka berkeluarga, namun dua keluarga itu belum pernah bertemu sekalipun.
Pertanyaan Frans membuat Gea terdiam dan bahkan pikirannya melayang–layang. Ia membutuhkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan Frans yang ia sendiri belum tahu jawabannya.
🍂
//
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1