Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
57. Kejujuran 2


__ADS_3

**Warning!


Part ini mengandung bawang (kata Asa sendiri 🤧🤧 perih juga hatiku Gey)


Netijennnn : Ah lebay kau Sa! Aku gak percaya😋


Oke... gak percaya? Buktikan sendiri! Kalau tidak ya berarti perasaanku saja 😂😂**


🍂


"Sampai di suatu kejadian, yang membuatku keluar dari rumah."


Gea menoleh ke arah Briel. Hal itu membuat Briel begitu penasaran dengan kisah hidup Gea yang benar–benar masih misteri baginya. Sampai–sampai Adam saja tidak bisa untuk menggali informasi lebih dalam. Padahal biasanya Adam bisa menyelesaikan semuanya dalam kurun waktu singkat.


"Kejadian itu terjadi tepat pada dua tahun silam, setahun setelah kepergian kakek. Tepat di saat keadaan yang semula telah kembali kepadaku, tepat saat mereka mengatakan bahwa mereka menyadari kesalahan mereka. Saat itu …"


Gea mulai menerawang jauh untuk mengingat segala kejadian di waktu itu.


Dua orang gadis remaja tengah berada di sebuah mall. Mereka berdua berbelanja barang dan bersenang–senang. Mereka tertawa bersama menikmati es krim di depan mereka masing–masing. Mereka bersenda gurau, berbagi tawa dan berbagi cerita tentang bagaimana kuliah mereka. Beberapa waktu lalu, sang adik telah berkuliah di tempat yang sama dengan sang kakak.


"Sudah selesai, Gey?" tanya seorang yang merupakan kakaknya.


"Sudah, Kak." Gea mendorong ke depan gelas wadah es krim itu.


Mereka berdua beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa. Wajah mereka berseri–seri, kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka.


"Eh jangan pulang dulu. Mami mau ke sini. Kita tunggu Mami dulu. Kasihan, Gey, Mami sudah di jalan dan sebentar lagi sampai," ucap sang kakak setelah membaca pesan di gawainya.


"Baiklah, Kak."


Tak lama setelah itu, datanglah wanita paruh baya yang parasnya masih tak kalah cantik dan masih terlihat awet muda. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk berbelanja barang yang mereka inginkan. Dela dan Gea juga membeli topi couple. Mereka keluar dari mall bersama.


"Eh, ingin ke cafe depan nggak? Katanya ada menu baru yang menjadi menu spesial di sana," ajak Dela. Gea megangguk mengiyakan. Ia juga penasaran dengan rasa menu baru di sana.


"Bagaimana, Mi?"


"Boleh deh. Mami juga lapar."


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju cafe itu.


"Saat itu kami ke cafe yang ada di seberang mall. Kami bersenda gurau sembari terus berjalan. Hingga berada di pinggir jalan raya, tiba–tiba saja Dela tertabrak mobil. Dia terluka parah. Aku dituduh telah sengaja melukai Dela. Bagaimanapun, aku tidak tahu dan aku tidak mau dituduh melakukan hal yang tidak aku lakukan. Mereka semua marah padaku. Bahkan Papa sampai mengusirku, Bang."


Briel masih terus mendengar. Ia memberikan ruang waktu untuk Gea bercerita tanpa berniat untuk menyelanya.


Gea kembali menerawang kejadian dua tahun silam


"Dela …!!" "Kak Dela …!"


Clara dan Gea berteriak histeris melihat Dela yang tergeletak di jalan dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Dia tak sadarkan diri. Mobil itu telah pergi begitu saja. Tidak ada saksi mata yang melihat langsung kejadian itu. Bahkan mirisnya, CCTV yang mengarah ke posisi mereka pun kebetulan tidak berfungsi.


"Kak bertahanlah kak …" ucap Gea sembari menangis. Ia tak kuasa melihat saudaranya ini terbaring lemah seperti itu.

__ADS_1


Dengan tangis yang tak mereda, Clara langsung menghubungi dan meminta sopirnya yang berada di parkiran mall untuk segera menghampiri mereka. Mereka membawa Dela untuk pergi ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Dela segera mendapat penanganan langsung dari dokter. Dela dibawa ke ruang operasi.


Cukup lama Gea dan Clara menunggu Dela di depan ruang operasi. Mereka menangis, meratapi bagaimana nasib Dela.


"Bagaimana keadaan Dela?" ucap Edi yang berjalan tergopoh–gopoh menghampiri mereka. Ia sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Clara hanya menunjukkan arah di mana Dela berada dengan tangannya. Ia tak kuasa untuk berbicara. Edi langsung mendekat, lalu memeluk Clara untuk menenangkan sang istri. Clara menangis sesenggukkan di dekapan suaminya.


"Pi … Dela Pi … Kenapa harus Dela, Pi??"


"Shuuut … tenang … tenang …. Yakinlah, Dela pasti sembuh." Edi berusaha menenangkan istrinya walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya pun tengah kacau. Namun ia harus tetap kuat, demi keluarganya.


"Ini semua gara–gara KAMU!!!"


Clara menunjuk ke arah Gea. Tatapan nyalang ia lemparkan untuk Gea. Gea kaget. Ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Ta–tapi, Mi—"


"Kalau bukan karena ulahmu, Dela tidak akan seperti ini! Kalau terjadi apa–apa dengan Dela, kamu harus menerima akibatnya!!!"


Clara berteriak karena marah. Clara tidak terima anaknya terbaring karena Gea. Ia mulai menyalahkan Gea yang bahkan tidak melakukan apapun. Gea menangis tergugu. Ia juga tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Dela. Gea merapalkan doa untuk kesembuhan Dela di dalam hatinya sedangkan Edi masih sibuk menenangkan Clara.


Dua hari berlalu. Hari ini Dela terbangun dari tidur panjangnya. Betapa bahagianya Gea melihat saudaranya ini telah tersadar. Gea menghampiri ranjang Dela. Namun dengan kasar Clara mendorong gea agar menjauh dari Dela. Alhasil Gea terjatuh terduduk di lantai.


Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Dela.


"Keadaannya membaik. Namun masih harus tetap hati–hati. Jangan terlalu banyak bergerak. Benturan kepalanya yang cukup keras, membuatnya harus istirahat total. Apalagi dia koma selama dua hari."


Saat itu juga, Dela melihat Gea ada di ruangan itu. Ia melihat Gea dengan tatapan sendu. Kesedihan dan kekecewaan tergambar jelas di matanya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Gey? Kenapa? Kenapa kau tega?" ucap Dela lirih. Air matanya pun menetes satu persatu, hingga menjadi aliran yang deras.


"Aku tidak melakukannya, Kak. Aku tidak melakukannya …" ucap Gea sembari menangis.


Dela tertawa miris. Dia membuang muka sejenak. "Apakah karena aku sempat berbuat jahat kepadamu? Dan di saat aku sudah menyadari kesalahanku dan memperbaiki sikapku lagi kepadamu, kamu melakukan pembalasan yang lebih kejam dengan membunuhku? Picik sekali kamu, Gey."


"Tidak, Kak. Aku tidak melakukannya …" Gea menangis tersedu–sedu. Ia tidak pernah mendorong bahkan melukai Dela.


"BOHONG KAMU, GEY!!!!" Dela berteriak sambil menangis. Ia mengaduh kesakitan dan memegangi kepalanya yang sakit ketika berteriak.


Edi bergegas menghampiri Dela yang tengah kesakitan. Ia sangat khawatir dengan keadaan Dela. Edi yang sedari tadi diam pun angkat bicara. Dia kecewa dengan anak yang ada di depannya ini.


"Beginikah anak dari orang yang pernah kucintai dahulu? Beginikah sifat anak yang sebenarnya dan sangat bertolakbelakang dengan sifat mendiang Annaya?" Edi mulai membandingkan Gea dengan Annaya, mendiang istrinya yang telah meninggal.


Gea menggeleng cepat. "Tidak, Pa, aku tidak salah," gumamnya lirih.


"Papa tidak menyangka kamu seperti itu, Gey. Papa kecewa. Sekarang juga, pulang! Tinggalkan rumah sebelum kami semua sampai rumah!!"


Edi mengusir Gea kala itu juga. Ia benar–benar kecewa dengan perbuatan anaknya itu. Ini keterlaluan dan ia tidak bisa menoleransi kejahatan apalagi kejahatan kepada keluarganya.


"Tapi Pa—"

__ADS_1


"PERGI!!!! Pergilah sesuka hati! Jika tidak, kamu akan saya kirim ke negara lain di mana kamu tidak akan pernah bisa kembali!!"


Gea menangis sesenggukan. Ia menunduk sambil mengusap kasar air matanya yang terus mengalir, namun air itu terlalu banyak untuk ia bendung. Hatinya perih. Bahkan orang tua yang ia sayang telah mengusirnya dengan cara seperti itu.


Gea berjalan ke luar dengan langkah lunglai. Ia berjalan dengan berpegangan pada tembok di setiap langkahnya. Kakinya terasa lemas, bahkan hanya untuk berdiri saja ia gemetaran.


"Dari situ, aku memutuskan untuk hidup menjauh dari keluarga. Aku memutuskan untuk berhenti kuliah agar keberadaanku tidak ditemukan mereka. Aku bekerja menjadi cleaning service di perusahaanmu karena perusahanmu tidak mempunyai ikatan dengan perusahaan Papa yang bergerak di bidang yang berbeda. Namun sayang, beberapa waktu lalu, Dela dan Mami menemukanku. Dan naasnya, Dela merebut kekasihku. Kekasihku menikahinya di hari dan tempat seharusnya aku menikah."


"Jadi kamu sempat kuliah?" Briel bertanya dengan hati–hati. Ia tidak mau menyinggung wanita yang tengah rapuh itu.


"Iya benar. Aku kuliah setelah sikap mereka kembali baik kepadaku. Tapi hanya satu semester saja setelah itu keluar karena kejadian itu."


"Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliahmu lagi? Atau jika mau, kamu bisa berkuliah lagi. Aku yang akan membiayaimu. Kamu tanggung jawabku." Briel menginginkan Gea untuk kembali ke bangku kuliah. Ia ingin agar Gea bisa mengenyam pendidikan seperti yang lainnya dan ia akan membiayai semuanya.


"Tidak usah, Bang. Akhir–akhir ini saja ada yang mulai mengorek informasi tentang siapa aku sebenarnya. Aku tidak mau identitasku terbongkar. Aku belum ingin menunjukkan hidupku pada Papa. Karena aku telah diusir Papa bahkan sudah dua kali aku diusir."


Gea menjelaskan secara detil kejadian di kala itu. Briel tak menyangka dengan kisah hidup yang dialami oleh Gea.


"Lalu, pernahkah papamu mencari tahu mengenai kejadian saat itu?"


Gea pun tertawa. Tawanya terdengar begitu pilu. "Mencari tahu? Jika Papa mencari tahu, aku gak bakalan ada di sini, Bang."


Gea beralih menatap Briel sambil tersenyum miris. Bahkan Briel yang pada dasarnya orang lain pun ikut merasakan kepedihan itu. Namun ia kagum pada Gea. Masa lalu yang seperti itu, tak membuat Gea menjadi tawar hati.


Briel merentangkan tangannya. "Butuh sandaran?"


Briel menawarkan kehangatan yang mungkin Gea butuhkan. Gea menatap Briel ragu. Kemudian Briel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk meyakinkan Gea. Tanpa berlama–lama lagi, Gea meringsut ke dalam dekapan Briel. Ia menumpahkan segala kesedihan di sana. Rasa hangat itu membuatnya tenang dan nyaman. Ia merasa dilindungi dan disayangi kembali.


🍂


//


Ada yang menyangka hidup Gea seperti itu tidak? 😥😥 Gimana? Sedih nggak?


netijeeennnn : hahh gak tau ah tebak sendiri 😋


Terserah terserah 🙂🙂


🍂


//


Terimakasih semua atas dukungannya untuk Asaa 🤗🤗


🍂


//


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia💕💕

__ADS_1


__ADS_2