
"Ada perlu apa kau ke sini?" tanya Briel tegas, penuh tekanan. Suaranya terkesan mengintimidasi lawan bicaranya. Namun penekanan suara Briel tak berpengaruh pada wanita di depannya itu.
"Hehhmms" wanita itu malah tertawa kecil, seakan perkataan Briel hanyalah sebuah lelucon. Tangan lentik itu mengibaskan rambutnya yang tergerai indah. Ia tak gentar dengan tatapan Briel yang menghunusnya bak mata pedang yang siap menembus tubuhnya.
Briel masih menatap datar wanita yang sedari tadi tak mau pergi dari ruangannya. Ia teramat kesal. Karena di resepsionis wanita itu berulah dan membuat keributan di sana. Hal itu sangat menganggunya.
"Jawab!" ucap Briel dengan suaranya yang dalam dan rendah. Hawa dingin mulai menjalar di ruangan itu, namun wanita itu masih bersikap santai.
"Kau tak boleh takut Yu!" gumamnya dalam hati.
Hatinya gemetar ketakutan. Ia berusaha menepis rasa takut untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sedari tadi ia berusaha tetap tenang, dengan mempertahankan gestur tubuhnya yang seakan–akan dia baik–baik saja. Ia tak ingin lawan bicaranya meremehkannya
Yeahh … pada akhirnya ia memutuskan untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ia ingin bersanding dengan Briel. Ia tak rela jika Briel harus bersanding dengan wanita lain selain dirinya. Dan sekarang, waktunya ia mengambil alih hati pria pujaan hatinya ini.
Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut wanita cantik itu, Briel tertawa sinis. Ia begitu kesal dengan sikap wanita di depannya itu.
"Buang–buang waktu!"
"Wow …." Wanita itu berjalan menghampiri Briel yang duduk di depan meja kerjanya. Ia mengurungkan niat Briel yang sudah bangkit berdiri dan berniat meninggalkan ruangan itu. Briel berdiri dan menatap datar wanita yang berada tepat di depannya itu.
"Janganlah tergesa–gesa Tuan Tampan. Bukankah kita belum membahas sesuatu … "
Wanita itu menjeda ucapannya. Tatapannya meneliti wajah tampan yang tertangkap netranya. Tangannya bergerak menyentuh wajah tampan dengan jambang tipis di wajahnya.
"… tentang kita?" lanjutnya dengan senyuman menggoda.
"Owww kasar sekali!" ucapnya. Tangannya terhempas tatkala Briel menepis kasar tangannya yang berusaha menyentuh wajah Briel.
"Unch unch unch … aku takut!" ucap lagi. Ia berucap seolah–olah takut pada Briel. Namun itu adalah penghinaan besar bagi Briel. Wanita itu menatap wajah Briel yang menahan amarah karenanya.
"Ada perlu apa kau ke sini?!" tanya Briel ketus. Tak ada kelembutan seorang Briel yang biasa ia tunjukkan.
"Menurutmu aku datang ke sini untuk apa Sayang?"
Suaranya begitu mendayu, bagaikan seorang wanita penggoda yang tengah haus kasih sayang.
"AYUU! INGAT BATASANMU!" bentak Briel.
"Batasanku?" Ayu tertawa hambar. Ia melengos sebentar ke arah lain.
__ADS_1
"Tidak ada tuh batasan di antara kita," ucap Ayu masa bodoh, tak peduli dengan reaksi Briel.
"AYU!" bentak Briel.
"Apa? Tidak ada yang salah kan? Bukankah kita telah dijodohkan? Sudah sepantasnya kan aku mendekatkan diriku untuk mengenalmu, Sayang?"
Gigi Briel bergemeletuk menahan amarah.
"Dan batasan itu hanya berlaku untukmu, bukan untukku. Jadi mari kita hilangkan batasan itu," ucap Ayu berbisik dengan mata berbinar cerah. Bahkan ia berjinjit, ingin menghilangkan jarak di antara mereka untuk membisikkan kata itu.
PRANG
Terdengar suara benda alumunium terjatuh. Briel melihat ke arah sumber suara itu. Ia melihat seorang wanita yang tengah berdiri menatap kecewa ke arah mereka berdua. Wanita itu menggelengkan kepalanya berat. Sebutir air bening itu menetes membasahi pipinya. Dari sana ia melihat sang suami tengah berciuman dengan wanita lain.
"Ge–Geyang …" gumam Briel.
"Tega kau Bayang!" ucap Gea lirih, namun jelas, kekecewan itu tertangkap jelas di telinga Briel.
"Ini tak seperti yang kau lihat Ge!" Briel berusaha menjelaskan apa yang harus sebenarnya tak terjadi.
"BOHONG!!! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tega sekali kau!"
Briel berlari mengejar Gea. Namun langkahnya terhalang oleh Ayu yang tiba–tiba menarik baju Briel hingga tak sengaja jarak itu terkikis, dan tak sengaja, bibir tipis ranum gadis polos itu mengecup bibir tebal Briel. Ayu membulatkan matanya.
Di detik pertama kedua bibir itu bersentuhan, Briel langsung mendorong tubuh Ayu agar menjauh dari tubuhnya.
"Aarggh! Sialan! Astaga Tuhan …" Briel memejamkan matanya. Berulangkali tangannya mengusap kasar bibirnya seakan banyak kuman dan bakteri hinggap di sana.
Sementara itu, Ayu yang terhuyung ke belakang tersenyum miring, penuh kemenangan, karena ia berhasil membuat sepasang suami istri itu bertengkar.
"Gila! Wanita gila!" teriak Briel yang masih terdengar oleh Ayu.
"Oh iya benar … aku memang sudah gila, aku sudah gila karenamu, Briel!" Ayu tak menyangkal ucapan Briel.
"Bukankah begitu manis, Sayang? Penghalang telah pergi. Waktunya perjodohan ini kita lanjutkan," ucap Ayu tanpa beban.
"GILA!!! Perjodohan itu tidak akan pernah terwujud!" Briel menekan kata terwujud untuk menegaskan pada Ayu. "Kita berbeda. Saya sudah memiliki istri. Carilah pria lain. Masih banyak pria di luar sana yang pasti bersedia meminangmu dengan suka rela."
"Ohh … sudah batalkah?" tanya Ayu yang seharusnya tak perlu dipertanyakan lagi. "Kapan tuh?" ucap Ayu semakin menjadi.
__ADS_1
"Oooohh waktu itu ya ... Yang seenaknya saja kau membatalkannya sepihak dengan menikahi wanita murahan itu?"
"DIAM!" bentak Briel keras. "Dia bukan wanita murahan! Justru kaulah wanita murahan itu!"
"Oh ya?"
Ucapan Ayu membuatnya geram. Ia sudah tak tahan lagi. Ternyata pilihannya untuk meredam keributan, berakhir fatal untuk hari ini.
"Bereskan wanita ini. Seret dia keluar dari perusahaan dan jangan biarkan dia menginjakkan kaki di perusahaan ini!"
Briel berlari mengejar Gea yang sudah pergi entah kemana. Sedangkan Ayu telah diurus oleh anak buah Briel agar tak menghalangi Briel.
🍂
Sudah cukup lama Briel mencari Gea dengan mobil yang menembus jalanan di tengah teriknya matahari. Namun tak kunjung ia temukan juga di mana Gea berada.
"Dimana dia?" tanya Briel ketika ia menekan alat komunikasi tersembunyi untuk menghubungi anak buahnya.
"Kami menemukan titik di mana gelang itu berada. Namun titik itu tak bergerak sedikitpun. Ka–"
"Argghh! Cari sampai ketemu!" potong Briel. Ia sudah tahu jawaban apa yang akan diucapkan oleh anak buahnya. Kecerdikan yang Gea miliki, membuatnya tetap waspada tentang berbagai kemungkinan yang mungkin Briel lakukan untuk menemukan dirinya.
🍂
//
Halo semuaaa ... sambil menunggu up, kalian bisa baca karya trio kwak kwak di bawah ini. masih anget gaess 😊
🍂
//
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1