
"Cek semua CCTV di rumah ini! Dan kalian cari Rio di semua sudut rumah ini?!" titah Briel.
Kini rumah besar itu penuh dengan anak buah Briel. Mereka semua berpencar untuk melakukan tugas mereka masing–masing. Sedangkan di sofa ruang tamu itu, kini Gea tengah menangis tersedu dengan Tere yang berusaha menenangkan. Sedangkan Frans meminta orang kepercayaannya untuk memantau CCTV jalan, untuk melihat gerak–gerik mencurigakan. Nino yang ada di gendongan Ike, baby sitter pengganti Dini, turut menangis. Ikatan batin saudara kembar di antara mereka sangatlah kuat.
"Cup cup cup, Den... Jangan menangis, Den. Kembaran Aden pasti baik–baik saja." Ike mencoba menghibur Rio, berharap Rio mengerti perkataannya. Namun nihil. Rio tetap menangis kencang.
"Geyang," panggil Briel. Ia memeluk erat istrinya itu. Ia paham. Ibu mana yang tidak hancur kala anaknya hilang dari dekapannya. Ingin juga ia menangis, namun jika ia menangis, siapa yang akan jadi sandaran semua orang? Briel berusaha untuk tetap tegar.
"It'll be okay. Rio pasti akan kembali pada kita."
Briel mencoba menenangkan tangisan pilu yang kini telah membuat kemejanya basah.
Derap sepatu mendekat secara bersamaan. Briel melepaskan pelukannya itu untuk menerima laporan dari anak buahnya.
"Semua ruangan telah kami periksa. Tidak ada sedikitpun yang bisa kami temukan," ujar Nichol.
Briel menundukkan kepalanya, memejamkan mata sejenak.
"Kami juga tidak bisa menemukan rekam CCTV yang janggal. Namun ada satu ruangan yang tidak bisa kami lihat. CCTV ruangan itu kebetulan baru saja diperbaiki.
Seketika Briel mengerutkan dahinya. "Ruang apa?" Briel menatap Nathan, menuntut jawaban lebih.
"Kamar Tuan Muda."
Seketika otak Briel berputar, mencari siapakah orang yang berkemungkinan besar membawa Rio pergi sedangkan semua rekam CCTV tidak ada kejanggalan.
"Siapa yang keluar dari rumah ini hari ini?" tanya Briel pada Gea dan yang lainnya.
"Dini," jawab Tere.
"Dini? Tapi bagaimana Dini membawa Rio, sedangkan semua rekam CCTV ada?" Minah angkat bicara. Siang tadi sebelum Dini keluar dari rumah itu, Minahlah yang mengantar Dini sampai pintu depan. Tidak mungkin jika Dini membawa Rio bersamanya.
"Cek kembali CCTV, dan periksa semuanya!" titah Briel kembali.
Mereka kembali melihat rekam CCTV dengan teliti. Memeriksa satu persatu video yang dinilai memiliki kejanggalan.
🍂
"Aaarrgghh sial! Body doang yang bagus. Tapi kualitas nol besar!" sindir Bima pedas. Lagi–lagi mereka harus terjebak pada situasi menyebalkan.
Mobil yang mereka tumpangi untuk mengejar Briel, kini harus berhenti di tengah jalan. Ban mobil meletus tiba–tiba. Mereka bertiga harus turun untuk melihat ban mobil itu.
"Heh heh?! Apa apaan menyalahkan mobilku?! Kalau mau menyalahkan, salahkan saja jalannya?! Enak saja. Kualitas mesin mobil ini sangatlah bagus. Sudah pasti kan tidak ada kata ecek ecek!" sanggah Adam tidak terima.
__ADS_1
"Tidak usah banyak ngeles. Buktinya ana sudah nyata!"
Hendri memijat pelipisnya mendengar perdebatan sengit itu. Kepalanya sudah pusing, kini semakin pusing mendengar ocehan kedua orang itu.
"Tidak bisakah kalian bersikap dewasa sebentar? Dan kamu Bima. Sama saja kau dengan Briel maupun dia!"
Hendri melirik tajam ke arah Adam kala memyebut kata "dia".
"Apa lirik–lirik?! Awas jatuh cinta," ujar Adam geli. Tidak ada tawa. Mungkin jika di situasi yang kondusif, pernyataan itu akan menjadi sebuah gurauan lucu. Namun diaituasi seperti itu, sepertinya celetukan seperti itu tidak memberikan warna apapun.
Hendri berdecak kesal. "Sudah sudah! Lebih baik kita ganti ban ini sama sama. Kita sudah ketinggalan jejak Briel yang semakin jauh," ujar Hendri kembali untuk menengahi.
🍂
"Kerja bagus, Din," ujar seorang wanita yang tak lain adalah Mrs L. Ia menerima bocah dalam gendongannya yang kini telah tertidur pulas dari tangan Dini. Dini menundukan kepala. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Sayang bercampur sakit hati menjadi satu.
Kilasan cepat menyelinap dalam benaknya. Rasa bersalah pun kembali menyergap dirinya.
"Jangan libatkan aku lagi untuk semua masalahmu. Dan aku ingin dilindungi dari mereka. Biarkan aku pergi dengan tenang."
Tiba–tiba, gelak tawa menggelegar memenuhi ruangan itu. Dini terdiam membisu, kepalanya semakin menunduk.
"Apa?? Pergi dengan tenang?" tanyanya sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Dini.
Dug
Mrs. L tersenyum miring. "Sesuai dengan permintaanmu cantik."
"Aku tidak akan membiarkanmu bertindak semaumu. Memangnya kamu siapa bisa bertindak seenaknya seperti itu?" Mrs. L melirik ke arah anak buahnya.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah!" titahnya kemudian.
Tubuh itu diseret menuju penjara bawah tanah. Tidak ada belas kasihan untuk Dini.
"Baiklah, tinggal tunggu rencana selanjutnya," ujarnya yang masih menatap wajah mungil di gendongannya itu. Wajah suci itu tidak menggoyahkan sedikitpun hati nuraninya.
🍂
Semuanya telah berkumpul lagi di ruang tengah. Suasana tegang menyelimuti hawa ruangan itu.
"Kami tidak menemukan video yang aneh. Hanya saja..." Belum selesai Nathan berbicara, Briel menyela.
"Hanya saja apa?!" tanya Briel tak sabar.
__ADS_1
Nathan terdiam sejenak. Manik matanya mencari keberadaan Minah di ruangan itu.
"Ada dua orang yang patut Anda curigai. Terutama orang yang ada di rumah ini," ucap Nathan dengan mata yang masih menatap tempat di mana Minah berada.
Briel mengikuti arah pandang Nathan. Cukup ia mengerti. Briel berjalan cepat menghampiri Minah. Sedangkan Gea masih mencerna, apa yang sebenarnya terjadi.
"Jujur, atau hilang nyawamu sekarang!" desak Briel.
"Apa maksud Anda, Tuan?" ujar Minah santai. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Sepertinya membutuhkan penjelasan. Jelaskan!" titahnya pada anak buahnya.
"Hanya ada kemungkinan, orang yang membawa Rio ke luar rumah. Dini saja, atau Anda yang bersekongkol dengan Dini!" jelas Nathan mewakili semuanya.
Semua bukti mengarah pada mereka berdua. Tidak ada rekam video yang memperlihatkan jika Rio keluar dari kamar itu. Sedangkan tidak mungkin Rio hilang begitu saja. Dan orang lain yang keluar dari kamar Duo Kembar hanyalah 3 baby sitter itu.
Minah terkejut bukan main. Ia yang tidak tahu apa–apa, pun menyangkalnya.
"Saya tidak tahu maksud kalian. Saya juga terkejut dengan hilangnya Den Rio. Bagaimana mungkin saya melakukan itu semua?"
Briel tertawa tidak percaya. "Kamu bersama dengan Dini. Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya? Rekam CCTV itu juga memperlihatkan jika kalian berinteraksi sebelum Dini pergi."
"Ta–tapi saya tidak tahu apa–apa Tuan. Saya hanya mengucapkan kalimat perpisahan padanya." Minah semakin takut. Ia tidak ingin mati konyol karena kesalahan yang tidak ia perbuat.
Briel mencari kebohongan di wajah itu. Namun ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya terlihat abu–abu di matanya.
Briel memukul udara kosong untuk meluapkan kemarahannya.
"Tawan dia, sampai Rio kambali. Jangan biarkan dia lepas begitu saja!" titah Briel yang kini menatap tajam ke arah Minah.
Dua anak buah Briel menyeret tubuh Minah, sedangkan Minah meronta, meminta untuk dilepaskan. Ia tidak terima dengan keputusan itu, namun ia tidak bisa berbuat banyak hal.
"Semuanya berpencar, cari Rio sekarang juga!" titah Briel.
"Aku ikut."
Suara serak namun lembut itu membuat langkah mereka terhenti. Gea menatap mereka semua mantap.
"Aku ikut!"
🍂
//
__ADS_1
Happy reading
Jangan lupa bahagia 💕💕