
"Jangan sesekali memanggil saya dengan sebutan tuan ataupun bos!"
Adam mengingatkan Runi sebelum ia masuk ke sebuah restoran. Ia tak mau rencananya gagal karena suatu kesalahan kecil yang berakibat fatal.
"Iya iyaa"
"Baguusss!"
"Puas sekali Anda"
"Memang iya. PUASSS!" ucap Adam. "Sudah ayo masuk!" ucap Adam kemudian.
"Eh eh eh .... Kenapa kamu pegang–pegang lengan saya?"
Adam kaget bahkan berusaha melepaskan tangan Runi dari lengannya.
Runi berdecak kesal. Ia heran kenapa otak seorang atasa bisa se lola itu.
"Bapak Adam Yang Terhormat, sudahlah. Ini salah satu strategi agar mereka semakin percaya dengan kebohongan Anda," ucap Runi gemas. Ia menekan kata kebohongan pada kata yang ia ucapkan. Adam berdecak kesal.
"Lihatlah! Mereka bahkan mulai melihat ke arah kita."
Runi menunjuk dengan lirikan matanya ke arah pasangan yang sudah duduk di meja makan yang telah mereka pesan.
"Ck .... Aihh apa boleh buat." Adam menyodorkan tangannya agar Runi menggandengnya.
Mereka berjalan semesra mungkin menghampiri sepasang pengantin baru itu.
"Selamat malam," sapa Adam. "Sudah lama?"
"Belum lama. Silahkan silahkan," ucap pria di depannya.
Adam dan Runi mulai duduk di kursi yang kosong. Mereka berbincang ringan. Tak lama kemudian, pesanan paket menu makan malam datang. Mereka mulai menyantap makan malam.
Suasana canggung melingkupi tempat di mana mereka bertemu, terutama bagi Runi dan Adam. Mereka cukup canggung melihat kemesraan pasangan di depannya itu. Saling suap menyuap dan melemparkan senyum mereka masing–masing. Sedangkan mereka saling terdiam. Tak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali menyantap hidangan yang ada di depan mereka.
"Eh Honey, sebentar–sebentar."
Sang suami meminta agar istrinya itu menghadap ke arahnya dengan memegang dagu istrinya dengan sebelah tangan.
"Hem …. Kenapa?" tanya Dina.
Lelaki itu melemparkan senyumnya. Bahkan tertawa geli. Ia mengambil sebuah tisu di depannya, mengusap perlahan noda saos di sudut bibir istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih hubby," ucap Dina seraya tersenyum manis.
"Lagu lama!" ucap Runi lirih saat ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Suaranya pun hampir tak terdengar oleh siapapun yang ada di sana. Baginya, keromantisan seperti itu sudah hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang.
Adam tersenyum kelu. Rasa panas hati kian membara dalam diri Adam. Bahkan sendok yang ia genggam tanpa sadar ia pegang erat, seakan genggamannya pada sendok itu mampu menyalurkan rasa sakitnya.
"Dam, mau coba punyaku?" ucap Runi tanpa embel–embel yang menegaskan Adam sebagai atasannya. Ia ingin memecahkan suasana. Ia tahu kalau Adam tak baik–baik saja.
"Hem?" Adam mengerutkan dahinya sendiri.
"Aa …. Ini enak loh, Dam … Aak …." Runi menyodorkan garpu dengan makanan yang ia ambil. Adam menatap ragu. Namun Runi segera memberikan kode agar Adam lekas melahapnya.
"Woww ... makanan ini terasa begitu lezat Run. Apalagi dari tanganmu Run …." ucap Adam. Senyum manis mengembang di wajahnya. Ia mencoba menikmati makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya.
Runi tertawa kecil. Ia tersipu. "Bisa aja kamu Dam." Ia tersenyum manis.
"Iyuhhh najiss .... Bukan aku banget astaga ..." gumam Runi dalam hati. Ia jijik dengan tingkahnya sendiri. "Demi Run!Demi bonus!" Runi menyemangati dirinya sendiri.
Sepasang suami istri di depannya menatap kegiatan mereka berdua yang mereka nilai sebagai kemesraan.
"Wahh …. Ternyata cepat juga Anda move on dari istri saya, Tuan," ceplos Ruby, suami Dina. Ia bertanya dengan entengnya.
Adam tersenyum miring.
Ruby mengangguk–angguk. Decihan lirih terdengar dari bibir Ruby.
"Wahh hebat, Tuan Adam. Anda bisa mengibaratkan manusia seperti tepung," sindir Ruby.
Adam mengangkat senyum paksanya. Ia hanya bisa tersenyum kelu.
Mereka melanjutkan menyantap makan malam di tengah hiasan romantis di tempat itu, sembari mengobrol ringan yang sebenarnya terasa begitu panas satu sama lain. Bahkan Dina dan Runi pun saling melemparkan tatapan sinis.
Waktu terasa berjalan lambat. Satu jam terasa seperti satu hari. Runi sudah tidak betah duduk lebih lama di sana. Ingin hati untuk lekas pulang. Namun ia tak ada pilihan lain.
"Aihhh …. Lama sekali… membosankan!" batinnya malas.
Ya begitulah. Runi mengikuti permainan Adam, walau ia sendiri tidak betah terjebak pada situasi semacam itu.
Tiba–tiba saja gawai Runi berdering. Ia mengangkat gawainya.
"Maaf saya menerima telepon terlebih dahulu."
Mereka mengangguk.
__ADS_1
"Oh iya Dam, kapan kamu akan menikah?" tanya Dina setelah kepergian Runi.
"Dasar wanita gak ada akhlak. Rupanya akhlak dia benar–benar sudah digadaikan!"
Adam tak habis pikir dengan mantan kekasihnya. Baru beberapa waktu putus sudah menanyakan kapan dia menikah.
"Secepatnya. Tunggu saja undangan dariku," ucap Adam dengan tegas walau ia sendiri tak tahu kapan. Bahkan siapa orangnya pun Adam tidak tahu.
Dina mengangguk–angguk.
"Baguslah!" ucap Ruby.
Ada kekhawatiran dalam diri Ruby jika Adam masih saja sendiri. Mau tidak mau, hati Dina pernah bersama dengan Adam. Dan kesendirian Adam berisiko tinggi untuknya. Adam berpotensi sebagai ancaman. Ia juga melihat ada yang aneh dari istrinya tatkala melihat kemesraan Adam dengan Runu.
Tak lama setelah itu, Runi datang menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik jika dibandingkan dengan sebelum ia pergi setelah mendapatkan informasi dari lawan bicaranya.
"Dam, bisa pulang sekarang?" ujar Runi lirih di dekat telinga Adam.
"Ada apa?" tanya Adam. Ia turut khawatir.
"Gak ada apa–apa. Tapi aku harus segera pulang."
Tanpa banyak tanya, Adam pun mengiyakan permintaan Runi. Begitu–begitu ia juga bukan orang yang egois.
"Maaf, Din, Tuan Ruby, kami harus pamit. Ada yang harus kami selesaikan."
"Baiklah, kami juga akan pulang. Sudah malam juga."
"Kalau begitu, kami permisi," pamit Adam.
Adam dan Runi meninggalkan tempat itu. Sepasang pengantin baru itu menatap kepergian dua insan yang mereka kira sepasang kekasih.
"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Ruby lembut. Ia meraih tangan Dina, lalu mengecupnya lembut.
Dina tersipu. "Emm …. Sekarang saja," ucapnya manis.
🍂
//
Happy reading gaeess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1