Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Ngungsi (Menumpang di Rumah Orang Tua)


__ADS_3

"Loh Gege ada di sini? Sejak kapan?" tanya Tere. Ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Ia telah mengenakan baju santainya, bahkan sudah mandi pula. Ia menghampiri Gea yang saat ini tengah membuat menu sarapan bersama dengan pembantu rumah tangga di sana.


"Eh Bunda ... Tidur nyenyak Bun?"


"Sangat nyenyak hingga tak tahu kapan kamu sampai di rumah ini."


Tere mencium kedua pipi Gea.


"Bunda ... Gea belum mandi. Pasti bau acem." Nada bicara Gea begitu menggemaskan. Hal itu malah membuat Tere semakin menjadi. Gea tergelak. Begitupun juga dengan Tere.


"Sudah sana. Biar Bunda yang melanjutkan. Ibu hamil gak boleh kecapaian."


"Tapi Bun?"


"Gak ada kata tapi Gege ... Sudah sana. Urus juga suamimu itu," ucap Tere sembari tersenyum lembut, begitu hangat dan cerah di pagi itu.


"Baiklah Bunda ..."


Gea meninggalkan sang ibu mertua. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Loh Bun ... Perasaan tadi ke sini belum lama, kok sudah mau selesai saja hidangan untuk sarapan kita?"


Terdengar suara Frans yang menghampiri Tere. Ia heran melihat menu sarapan dah hampir semuanya tersaji. Bahkan hanya dalam beberapa menit setelah keluar kamar dan kuantitasnya juga lebih banyak dari biasanya.


"Gea sama Briel di sini. Mereka datang semalam."


"Tumben sekali. Kenapa mereka?"


"Tak tahu juga Yah. Belum tanya lebih lanjut juga," jawab Tere. Ia berbincang dengan Frans tanpa meninggalkan sedikitpun hal yang ia lakukan. Wanita memang sanggup melakukan beberapa aktivitas dalam satu waktu. Tangannya itu bahkan gesit melakukan aktivitasnya itu.


"Hoaamm" Briel menguap. Matanya mengerjap perlahan. Tangannya mencari keberadaan Gea.


"Ah iya lupa."


Briel berdecak kesal lantaran tak menemukan keberadaan Gea dan baru teringat lantaran dia tak tidur seranjang dengan istrinya itu. Orang yang biasanya setiap pagi ia peluk dalam kehangatan, namun kali ini ia tak mampu merasakan itu kembali.


"Nasib–nasib," gumam Briel.


🍂


"Kenapa kalian datang tanpa memberitahu kami?" tanya Frans. Saat ini mereka semua sudah berada di meja makan. Mereka semua mengenakan pakaian santai.


"Itu menantumu. Tak mau seranjang denganku," keluh Briel.

__ADS_1


Bukannya mendapat belas kasihan, mereka tertawa menertawakan kesusahan Briel.


"Astagaa ... Anak susah malah ditertawakan," sungut Briel.


"Ya kan bau badan Bayang gak enak banget dan membuatku mual," sahut Gea.


Dan benar saja. Pagi ini pun Briel tak mandi. Ia hanya membasuh wajah dan menggosok gigi saja lantaran tak ingin jauh–jauh dari Gea. Hal itu juga menjadi bahan ledekan Frans dan Tere.


"Tertawa saja sampai nanti," sungut Briel.


"Hahahaha ... Begitulah Bri kalau menghadapi istrimu hamil. Sabar–sabar saja Son!" Frans menepuk pelan pundak Briel. Briel bergumam kecil sebagai jawaban atas semuanya itu.


"Makanya tinggal jangan di apartemen. Beli rumah. Buat apa punya banyak uang tinggal masih di apartemen."


Frans meledek Briel. Ia ingin menyulut api lantaran ia harus memberikan kehidupan yang layak untuk menantunya itu. Apa lagi tak lama lagi anggota keluarga anaknya itu akan bertambah. Rasanya tak akan nyaman jika masih menempati sebuah apartemen sekalipun itu mewah.


"Percayakan pada Briel." Briel mengedipkan sebelah matanya. Lantas ia menunduk, mencium perut Gea yang mulai membuncit itu. Seketika hati Gea bergejolak. Bahagia rasanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


"Gak kerja Bri?" tanya Tere. Pasalnya hari ini itu masih weekday dan ia melihat anaknya itu tak memakai baju kantor.


"Gak Bun, nanti aja. Kan ada Adam," jawab Briel santai, tanpa dosa.


PLAK


"Dasar atasan kurang ajar ya. Kasihan Adam kalau kau tinggal terus."


"Biarkan lah Bun. Kan dia juga belum nikah. Masih free hidupnya."


"Bebas bebas ... hidup itu sama aja. Gak ada yang lebih bebas. Malah kalau terlalu banyak kau memberinya pekerjaan, kapan dia mau nikah Bri!"


Sungguh, ia tak habis pikir dengan anaknya itu. Tega–teganya ia memberikan pekerjaan lebih untuk orang yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.


"Ck santai Bun. Itu juga upaya Briel kok. Lihat saja nanti."


Briel menaikturunkan kedua alisnya. Gea yang mengerti apa maksud Briel pun hanya tersenyum sembari menggeleng ringan.


🍂


Sementara itu di suatu tempat persembunyian, Davin tengah berbaring di sebuah kursi panjang yang nyaman. Ia mengenakan pakaian renang. Ia akan tetap di persembunyian sampai waktunya tiba. Ia tak ingin gegabah mengambil langkah. Menjalankan bisnis underground menjadi jalan ninjanya saat ini. Ia tak bisa hidup miskin.


"Bagaimana dengan pemindahan barang ke negara X?"


"Semuanya lancar Tuan. Akan tetapi untuk minggu ini perjalanan ditunda lantaran cuaca ekstrem yang mengharuskan kapal kita harus menunda keberangkatannya."

__ADS_1


Davin mengangguk menerima laporan itu dari anak buahnya. Mulutnya sibuk meminum jus jeruk yang telah di siapkan oleh pekerjanya.


🍂


"Mau sampai kapan kamu akan di sini?" tanya Edi. Ia tak habis pikir dengan anaknya itu. Memang, dia sedang tertimpa masalah dengan keluarganya. Namun bukan berarti dia harus bergantung pada orang tuanya.


"Apaan sih Pi!"


Mood Dela seketika hancur. ***** untuk menonton drama romantis pun hilang seketika.


"Pulang dan temui suamimu. Kenapa kamu masih di sini?"


Dela hanya memutar bola matanya malas. "Males."


"Kamu ini ya ... Jadilah istri yang baik untuk suamimu!"


"Sudah baik. Dia aja yang gak baik," jawab Dela seenaknya.


"Ada apa sih ini, jam segini sudah pada ribut!" Clara menghampiri anak dan suaminya yang tengah berdebat itu. Tak bisa dipungkiri. Rasa kesal pun membuncah lantaran perilaku suaminya itu yang memarahi anak kesayangannya itu.


"Itu Mi ... Papi menyuruhku pulang" adu Dela.


"Biarkan di sini dulu kenapa Pi? Dia kan anak kita. Apa salahnya tinggal di rumah orang tuanya?"


Clara memberikan pembelaannya. Rasa sayangnya pada anaknya itu membuat Dela menjadi tak mandiri.


"Huffft ... Terserahlah. Papi mau ke kantor dulu," pamit Edi kemudian. Ia tak ingin memperpanjang masalah yang seharusnya tak harus di perpanjang.


"Makasih Mami."


Dela memeluk Clara.


"Ah untung ada Mami. Malas sekali aku tuh kalau harus kembali pada Davin. Lagian kan dia sekarang miskin. Mana mau aku diajak hidup miskin seperti itu."


"Iya sayang iya. Mami ngerti kok."


Clara mengelus rambut Dela dengan lembut.


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2