
"Huwaaaaaaahh ..."
Seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Tangisnya itu membuat penghuni rumah itu bergegas menghampirinya untuk memastikan keadaan. Mereka tidak mau kejadian serupa yang terjadi beberapa waktu lalu terulang kembali. Kepala Nino bocor pada bagian dahi dan harus mendapat 4 jahitan.
"Astaga Nino, ada apa, Sayang?"
Gea sebagai ibunda mereka adalah orang yang paling khawatir. Dengan gurat kekhawatiran di wajahnya, ia mengitari tubuh Nino, meneliti bagian mana yang terluka. Kedua tangan Rio menutup matanya yang kini telah banjir air mata.
"Hufft ... Dasar cengeng. Gitu aja nangis," gumam Rio julid. Ia memutar bola matanya malas. Tangannya bersidekap di depan dadanya. Baginya sifat Nino yang sering kali menangis sangatlah menyebalkan. Apa lagi untuk kasus saat ini yang hanya karena mainannya tidak sengaja keinjak waktu bermain bersama.
"Abang ..." tegur Gea pada putra sulungnya itu.
Rio menghela napas pasrah. "Iya, Ibund ..."
Niel dan Cavin yang ada di sana pun hanya berdiri memandangi kejadian di depan mereka.
Nino masih saja menangis. Dengan sabar Gea masih diam menunggu Nino agak tenang.
"Ada apa Nino? Apanya yang sakit?" tanya Gea lembut saat Nino sudah mulai tenang.
Nino menggeleng. Ia tidak merasakan sakit apapun. Matanya yang memerah itu menatap dalam ke arah Gea. Air mata itu kembali meleleh. Secepat mungkin ibu jari Gea mengusap lembut air mata yang mulai jatuh di pipi.
"Lalu apa? Hmm? Mau bilang sama Bunda tidak?"
"I-i-itu ma-mainan Nino di rusak Ca-Cavin, Bun..." jelas Nino sesenggukan. Napasnya tersendat-sendat akibat kerasnya tangis yang ia buat.
"Tuhkan, gitu aja cengeng," gumam Rio lirih. Ia yang tadinya mainan sendiri di halaman depan itu rela masuk ke dalam. Namun ternyata tangis itu tidak sesuai ekspektasi. Nino menangis hanya karena hal itu. Ia kira akan terjadi hal mengerikan seperti tempo hari. Namun ia juga lega karena tidak terjadi hal parah pada adik kembarnya itu.
Gea menghela napas. Ia akan mempersiapkan kesabaran untuk meghadapi 4 anak batita itu.
"Cavin ... Apa benar kamu merusak mainan Nino?" tanya Gea. Ia menatap Cavin lembut. Ia tidak ingin mengintimidasi anak sekecil Cavin.
"Enggak, Tante. Cavin tidak sengaja saja," ujar Cavin dengan dengan penuturan cedel khas anak batita yang belum lancar bicara.
"Ta-tapi kamu tetap merusakan mainanku. Ibun .... Nino ingin mainan yang sama. Cavin merusakkan mainanku," tuduh Nino dengan tangis yang semakin menjadi.
"Enggak kok. Nino bohong!"
__ADS_1
Cavin tidak terima disalahkan. Cavin memang tidak sepenuhnya salah. Memang benar ia menginjak mainan Nino, namun Nino juga salah karena meletakkan mainannya sembarangan.
Gea tersenyum singkat lantas mengalihkan pandangannya ke arah Niel yang menjadi kunci kejadian di dalam rumah. Tatapan Niel masih sama. Datar dan cuek dengan keadaan sekitar. Sebenarnya ia peduli hanya saja ekspresinya tidak muncul.
"Niel?"
"Seperti biasa, kesalahpahaman."
Gea semakin tidks mengerti. Gea memijat singkat pelipisnya. Pusing sekali harus meng-handle 4 anak sekaligus. Banyak kejadian yang tak terduga yang bisa saja terjadi kapan saja.
"Aduh, Kak... Kapan kalian pulang sih? Sudah 2 hari kalian menitipkan anak kalian," gumam Gea.
"Niel... Jelaskan secara rinci ya. Tante benar benar tidak mengerti." Gea menuntut penjelasan.
Niel menjelaskan dari awal mereka bermain. Mulai kekompakan Nino dan Cavin. Sampai pada akhirnya mereka berpisah untuk mencari kesenangan sendiri-sendiri dan Nino meletakkan mainannya sembarang. Tidak sengaja mainan itu terinjak Cavin yang berlari-larian.
Gea menghela nalas sambil menatap seluruh anak-anak.
"Ayo kalian saling minta maaf," titah Gea tak terbantahkan. Dari sudut pandang manapun mereka sama sama salah.
Cukup lama Nino dan Cavin saling melempar tatapan permusuhan. Saat ini mereka seperti prajurit yang tidak boleh kehilangan jati diri. Mereka menatap mata di depan mereka dan menoleh ke arah Gea secara bergantian, meminta untuk membatalkan keinginan Gea.
Nino dan Cavin mengerucutkan bibirnya dan menautkan dahi mereka. Mereka saling mengulurkan tangan dengan kepala yang menghadap ke samping. Mereka masih menyimpan amarah satu sama lain.
"Sini-sini"
Nino dan Cavin berjalan mendekat walau dengan berat hati.
"Lakukan. Jika ada perbuatan salah maka kalian harus meminta maaf." Gea menckba memberikan pengertian.
"Kita itu saudara. Sampai kapanpun kalian tetap saudara."
Tak lama setelah kejadian itu, mereka kembali akur dan bermain bersama. Masih menjadi misteri, kenapa anak secepat itu untuk kembali bermain setelah terjadi kejadian yang membuat hubungan mereka tegang
π
"Pokoknya aku tidak mau anak lagi. Pusing banget mengurus mereka berempat selkaligus," ungkap Gea di kamar. Punggung Briel yang masih basah, membelakangi tubuh Gea.
__ADS_1
Briel tertawa kecil ia tidak bisa membayangkan betapa rempongnya Gea kala menjaga 4 anak sekaligus.
"Kok malah ketawa sih. Mereka menyebalkan parah, malah kamunya juga menyebalkan," sungut Gea.
Briel meredam tawanya. "Namanya juga anak-anak, Bun.."
"Wajar sih wajar. Tapi ini keterlaluan asli. Belum lagi anakmu yang satu itu makin besar makin dramatis. Pokoknya anak kita 2 aja. Gak usah nambah"
Briel tertawa mendengar setiap penuturan Gea. Ia paham apa yang Dela rasakan. Ia tidak akan menuntut Gea untuk melahirkan anak perempuan.
"Yah ... Gak jadi bikin team basket dong!" Goda Briel.
"Apaan sih?! Kalau mau punya anak hamil aja sendiri." Gea mengomel.
Disela kesibukannya, Briel meluangkan waktu hanya untuk mengobrol dengan Gea. Lebih tepatnya mendengarkan Gea yang mengomel dengan kehidupan sehari-hari. Namun di lubuk hati Gea, ia paham jika ia tidak akan bisa mengulang peristiwa yang sama pada orang yang sama. Mereka akan menjadi dewasa dan ia akan menikmati kehidupannya walau dengan banyaknya keluhan yang ia obral.
"Ngeluh teruss"
"Biarin. Itu fungsinya punya suami. Biar serbaguna sekalian. Punya suami harus dimanfaatkan," ujar Gea tengil.
Briel tersenyum. Ia mendekat kearah Gea. Ia merentangkan tangan dan mendekap Gea. Dalam hati ia mengucap syukur kepada Tuhan. Ia berdoa agar hubungan mereka awet sampai selamanya.
Dor dor dor dor...
Tiba-tiba pintu kamar digedor dari luar.
"Ibun ... Ayah... Nino pup di celana!"
Belum lama mereka bermesraan, suara Rio menghebohkan dua insan berbagi kasih sayang itu. Wajah lelah Gea kini ia tunjukkan kembali.
"Nah kan ada aja. Baru saja digosipkan."
Briel tertawa. "Sabar," ujarnya sembari melepaskan dekapannya.
Plak
Gea menampar lengan atas Briel yang membuat Briel mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Rasakan!!" ujar Gea dengan tatapan tajamnya. ia keluar kamar dan mencari keberadaan Nino.
π»π»π»