Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Berakhir?


__ADS_3

“Satu langkah menuju kalah!”


Senyum smirk terukir begitu jelas di wajah bergaris tegas itu. Ia memutar pistolnya itu dengan jari jemarinya. Ia menghampiri Dela yang memegang betisnya yang terluka karena terserempet timah panas yang meleset yang seharusnya timah panas itu melesat ke kepalanya.


Suara tembakan itu memicu pertumpahan darah kembali. Anak buah Clara yang tidak terima jika junjungan mereka terluka pun menyerang. Aneh? Iya mungkin aneh jika tidak ada yang menyadari kehadiran tamu yang masuk ke dalam rumah. Namun para penjaga di luar ruangan mampu dilumpuhkan dalam waktu yang cukup singkat, sedangkan di ruangan merupakan ruangan tersembunyi yang bisa dibilang cukup jauh dari jangkuan luar. Mereka tidak menyangka jika target mereka mampu menembus perthanan itu.


Suara teriakan perlawanan dan jeritan kesakitan menjadi satu di ruangan itu. Gea yang menggendong Rio berusaha keras untuk keluar dari ruangan itu.


“Awas, Gey!!”


Teriak Briel dari belakang untuk memperingtkan Gea. Secepat mungkin Briel berlari menghampiri Gea untuk menghadang sang pelaku yang ingin memukulkan benda tumpul ke kepala belakang Gea. Briel menggunakan sebuah kayu untuk menahan benda keras itu agar tak mengenai tubuh Gea sedikitpun. Gea yang tak siap pun hanya berindung di balik tubuh Briel. Posisiya saat ini juga cukup sulit untuk melawan. Ia tidak mau buah hatinya terluka karena tindakannya.


“Sialan!!”


Briel mengejar sang pelaku yang kini mundur beberapa langkah. Briel merebut tongkat besi yang ada genggaman sang pelaku. Senyum devil terukir di sudut bibirmya. Matanya melirik tajam. Briel memukulkan tongkat besi itu berkali-kali. Ia benar-benar membabi buta. Suara teriakan dan rintihan sang pelaku sudah tidak ia gubris lagi. Amarahnya sudah berada di ujung. Orang boleh menyakitinya, tapi janganlah menyakiti orang-orang tersayangnya terlebih di depan matanya, atau orang itu akan habis di tangannya.


Tak ada rasa iba di hati Briel. Selama ini ia sudah cukup bersabar menghadapi ulah-ulah mereka yang ternyata semakin lama dibiarkan malah semakin menjadi.


“Bagaimana? Enak kan dipukul? Mungkin seperti dipijat. Atau... kamu mau lagi?” ujar Briel sarkas.


Orang itu tidak menjawab ucapan Briel. Kesakitan itu telah mengambil alih. Ia hanya menunggu malaikat pencabut nyawa datang untuk menjemput nyawanya atau membiarkan untuk hidup kembali.


“Makasih, Bayang...” ucap Gea. Ia masih shock dengan kejadian itu.


Briel mengangguk singkat. “Pergilah. Bawa Rio pergi dari sini, sebelum Rio sadar.”


Gea setuju. Ia berlari ke luar ruangan itu. Briel dan yang lainnya berusaha mencarikan celah agar Gea bisa keluar dengan mudah dan selamat.


“Nathan...! Pastikan istriku selamat. Dan kamu Adam, ikut dengan Nathan. Aku percayakan istriku pada kalian,” titah Briel di tengah kegaduhan yang ada.


Tanpa basa basi, mereka menuruti kemauan Briel, terlebih mereka telah menganggap Gea sebagai orang yang berharga untuk mereka, bukan lagi hanya sebagai istri atasan.


//

__ADS_1


Di sisi lain, Gaza menunjukan kepedulian secara gamblang saat sudah berada di depan Del.


“Maaf, karena kamu harus terluka,” ucap Gaza penuh iba. Ia sungguh-sungguh menyesal lantaran Dela harus menunggu lebih lama hingga harus terluka seperti itu.


“Gaza?” gumam Dela dengan tatapan yang sedikit kosong. Ia tertegun akan perlakuan Gaza yang begitu manis kepadanya. Gaza yang ia kenal tidak seperti itu. Gaza yang ia kenal adalah spesial manusia yang menyebalkan. Bahkan belum lama ini Gaza terlihat lebih menyeramkan dibandingkan dengan biasanya.


“Kesambet setan apa dia?” batin Dela dalam hati yang masih menatap Gaza lekat-lekat.


“Apakah ini sakit?” Gaza meneliti luka di betis Dela. “Ini pasti sangat sakit ya,” ujar Gaza sembari meniti betis Dela.


Sejenak ia melakukan hal itu, kemudian ia menegakkan badannya. Ia melirik ke arah Clara. Kebencian tersorot penuh dari lirikan tajam itu. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Clara.


“Madam L... Mrs L ... dan Clara.” Gaza menjeda ucapannya.


“Orang sama. Iblis wanita ini rupanya mulai gila. Anak sendiri bisa-bisanya dikorbankan juga demi kepentigan pribadi.” Gaza berdiri di hadapan Clara yang terduduk memegangi betisnya yang bersimbah darah.


Dendam membara memenuhi hati Clara. Namun posisinya sekarang tidak menguntungkan baginya. Untuk berdiri saja kakinya terasa begitu sakit. Bagaimana dia bisa mengambil senjatanya yang sudah terlempar 2 meter dari posisinya saat ini.


Clara tertawa konyol. “Kau tidak akan bisa membunuhku. Lihat saja seberapan banyak yang setia kepadaku,” ujar Clara yang masih tidak terima dengan pernyataan Gaza.


Gaza melihat ke sekeliling, lantas terkekeh.


“Clara... Clara. jangan tutup mata! Lihatlah! Mereka cukup kewalahan dengan kehadiran kami. Lihat! Lihat!” ucap Gaza sembari menunjuk satu persatu anak buah Clara yang berjatuhan.


“Dan sebentar lagi, dirimu yang akan terjatuh. Polisi sudah menuju ke tempat ini. Akan kupastikan kamu mendapat hukuman yang setimpal untuk menebus kesalahanmu di masa lalu, atas ketidakadilanmu padaku, penipuan, dan tindakan kriminalmu saat ini. Bukankah pasalmmu berlapis? Oh iya. Masih sepertinya masih banyak lagi. Kasus prostitusi? Iya kan? Iya dong. Masak bukan.”


Gaza menyebutkan fakta demi fakta yang berhasil ia ungkap saat ini tentang Clara. Awalnya ia hanya tau jika Clara hanya bermasalah padanya. Mengenal Dela beberapa waktu, mampu membukakan jalan baginya untuk mengetahui kebusukan kebusukan yang Clara lakukan. Clara mengeratkan kepalan tangannya hingga buku–buku tangannya memutih.


Gaza menautkan wajahnya. Gaza di kagetkan dengan suara tembakan yang membuat wanita di depannya itu tumbang seketika. Sebuah timah panas menembus dada Clara beberapa kali yang membuat Clara hilang nyawa begitu saja. Gaza menyapu segala penjuru ruangan itu. Pandangannya terhenti tepatnya 5 meter, sejajar lurus tepat di belakangnya. Ada seorang wanita dengan pakaian lusuh dan luka lebam di mana-mana. Wanita itu berdiri dengan pistol yang masih dia genggam dengan kedua tangannya. Pistol itu masih engga untuk diturunkan.


Dela menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Maminya kehilangan nyawa tepat di depan matanya.


Wanita itu tertawa lega.

__ADS_1


Gaza menatap penuh tanya, begitupun juga dengan Dela. Mereka tidak tahu siapa wanita itu. Hingga suara Briel terdengar menyebutkan sebuah nama.


“Dini,” seru Briel di tengah pertarungan yang masih berlangsung itu.


Tak sempat Briel menghampiri Dini, suara sirene telah terdengar. Beberapa aparat kepolisian telah menyemprotkan gas air mata untuk meringkus mereka.


"Sudah selesai," gumam Dini.


Pistol yang Dini genggam telah terjatuh. Kedua tangannya diborgol, namun senyum lega itu masih tidak lepas dari sudut bibirnya yang lebam itu.


Satu langkah menuju tamat 😙


🍂


Happy reading gaes


moga dalan lindungan Tuhan.


🌻🌻


🍂


//


Oh iya. bagi yang mau mampir ke karya Asa yang baru, ada cerita baru yang kubuat. Judulnya Hutang Pernikahan. Novel yang satu ini aku buat untuk cerita Adam dan Runi. Bagi yg berkenan bisa mampir ya. Seneng sebenernya kalau kalian beneran mampir, terus baca terus klik fav 😭❤️



dah dah


baik baik buat kalian semua.


love you all 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2