
"Cegah dia!" perintahnya pada orang suruhannya. Briel menggunakan gedget kecil berukuran nano yang ia selipkan di lubang telinganya untuk berkomunikasi dengan orang suruhannya.
Briel berusaha mengejar Gea yang masih berlari. Ia tak bisa meremehkan kecepatan Gea dalam berlari.
"Kumohon berhenti, Gey …" gumam Briel lirih. Ia masih berlari dan terus berlari. Sekuat tenaga ia pun berusaha mengejar Gea.
Cukup jauh jarak Gea dengan Briel. Gea sudah terlatih berlari sejak kecil. Tidak aneh lagi jika Gea sering dijuluki sang macan kumbang tatkala ia masih bersekolah, karena kemampuan berlarinya yang teramat cepat. Bahkan Briel pun kewalahan untuk mengejar Gea.
Gea telah sampai di halaman rumah. Di sana ia dihadang oleh bodyguard yang merupakan kaki tangan Briel. Gea terhenti. Bahkan ia agak mundur beberapa langkah karena keget melihat mereka langsung menghadang di depannya.
Gea berusaha untuk mengatur napasnya yang sesak dan terengah–engah. Tangannya ia masukkan ke dalam saku hoodie yang ia pakai. Tidak tanggung–tanggung, bodyguard itu terdiri dari 5 orang. Badan mereka tinggi besar, dengan aura yang elit namun bisa membuat nyali menciut.
"Berhentilah Nona. Dengarkan Bos Briel, atau dengan cara apapun kami akan membawamu. Bahkan dengan cara kasar sekalipun!" ancam salah satu dari mereka. Mereka telah mendapat perintah langsung dari Briel, agar mereka bisa membawa Gea kembali dengan cara apapun. Namun untuk cara kasar, mereka hanya menggertak Gea agar nyali Gea menciut. Briel tak akan mungkin membiarkan wanita pujaan hatinya terluka.
Bukannya takut, Gea hanya tersenyum miring. Ia meremehkan semua bodyguard Briel. Gestur tubuh Gea terlihat sangat santai. Dari sorot mata Gea saja sudah terlihat begitu jelas.
"Waktunya untuk menujukkan keahlianku," gumam Gea lirih. Ia mula mengibaskan pergelangan tangannya, lalu menggerak–gerakkan kepalanya, bersiap untuk melawan bodyguard itu. Lalu Gea kembali memasukkan tangannya ke dalam saku hoodienya.
Tiba–tiba sebuah mobil datang menghampiri mereka dengan kecepatan tinggi. Kelima bodyguard itu mau tidak mau harus menyingkir. Jika tidak, mereka hanya akan mati sia–sia tanpa hasil.
Orang suruhan Bima telah berasil melumpuhkan penjagaan dengan menembakkan jarum suntik obat tidur kepada para penjaga di depan rumah.
Suasana cukup lengah. Dengan sigap, Gea bergegas menuju ke mobil itu, memanfaatkan kelengahan mereka semua. Tangan Gea yang ada di dalam hoodie nya ia keluarkan. Gea menyemprotkan gas air mata yang selalu ia bawa bersamaan dengan hoodie ataupun jaket yang ia bawa. Dan ternyata memang berguna kai ini.
Seketika penglihatan mereka terganggu. Mereka mencoba menghalau gas yang tersisa degan kedua tangan mereka agar tak masuk lebih banyak ke mata mereka. Mata mereka terasa perih, penglihatan mereka kabur. Gea tersenyum miring. Rencananya berhasil.
"Ini dia keahlianku ...!" ucap Gea. Ia juga geli dengan apa yang ia katakan. Keahlian yang ia maksud kali ini adalah keahlian untuk kabur dari genggaman musuh dengan berlari dan menyemprotkan gas air mata ini.
Gea segera masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju dengan kencang. Untuk sementara, rasa lega telah merasuk dalam diri Gea. Ia lega bisa lolos dari cengkeraman Briel, walau ia tak rela harus pergi meninggalkan Briel.
🍂
Sementara itu, Briel hanya bisa menatap kepergian Gea. Kakinya begitu lemas, hingga tak mampu menyangga tubuhnya. Tubuhnya limbung. Ia terjatuh ke tanah.
"Aarrgghh ….!" Briel berteriak kencang. Ingin ia ikut mengejar, namun sudah dipastikan ia ketinggalan jauh. Namun ia juga sudah menyuruh sebagian anak buahnya untuk mengejar mobil yang Gea naiki. Bahkan Adam pun ia perintah untuk mengejar Gea.
Cukup lama ia berdiam diri pada posisi itu. Hingga salah mobil yang mengejar mobil Gea menghampirinya. Dua anak buah Briel turun dari mobil. Ia membungkuk hormat.
"Bagaimana?"
Kedua pria itu hanya menggelengkan kepala mereka lemah.
Briel sudah tahu jawabannya. Gea telah menghilang. Harapannya tinggal ada pada udaha Adam saat ini. Ia mengusap kasar wajahnya. Lalu ia berdiri kembali. Dengan amarah yang menggebu, Briel kembali ke dalam rumah, ingin menghampiri kedua orang tuanya lagi.
__ADS_1
🍂
Di dalam kamar, Frans masih duduk dengan posisi awalnya yang bersender pada punggung ranjang, sedangkan Tere duduk di pinggir ranjang. Tatapan mata Tere kosong. Kilasan balik tatkala ia berbicara kasar pada anaknya muncul kembali. Ia juga mengamati tangannya yang dengan kasar menampar anaknya.
Bayangan–bayangan itu berdatangan silih berganti, berputar–putar, menggerogoti hatinya dengan rasa bersalah. Setetes air mata telah mulai jatuh. Tetesan berikutnya mengikuti tetesan awal itu. Ia menghadap ke arah lain agar Frans tak menyadari bahwa Tere menangis. Frans juga terlalu larut dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan di dapur, Eli bingung dengan apa yang terjadi. Ia tak mengerti, kenapa ada keributan di rumah ini. Ia juga melihat wajah briel yang terlihat teramat kusut. Bahkan ia melihat mata Briel yang memerah.
"Ada apa ini Tuhan? Siapa gerangan wanita yang Den Briel kejar? Kenapa Den Briel matanya sembab?" gumam Eli dalam hati. Pasalnya ia juga melihat ada seorang wanita muda yang berlari tergesa keluar rumah dengan deraian air mata. Ia menatap Briel yang terus berjalan menaiki tangga satu persatu itu.
"Semoga Den Briel baik–baik saja." Lantunan doa Eli ucapkan dalam hatinya, untuk kedamaian hati Briel. Ia tak ingin melihat putra dari tuannya ini bersedih hati.
🍂
"Puaskah kalian dengan apa yang kalian lakukan?" ucap Briel sengan nada yang melemah.
Briel telah berdiri di pintu kamar kedua orang tuanya. Frans dan Tere hanya bergeming. Mereka hanya menatap Briel dengan tatapan datar. Mereka membiarkan Briel mengeluarkan uneg–unegnya.
"Puaskah kalian, telah membuat orang yang telah menjadi separuh hidupku pergi meninggalkanku?"
"Apakah kalian tidak memikirkan bagaimana sakitnya hatiku?"
Perlahan, air mata Briel mulai meluruh. Ia sudah tak kuasa menahan tangisnya. Ia mengusap air matamya dengan kasar. Ia tak peduli dengan harga dirinya yang pantang menangis di depan orang tua.
"Kenapa Ayah dan Bunda bungkam?"
"Atau …. Kalian saat ini memang senang melihat putramu ini menderita?"
"Jawab Briel, Yah, Bun!"
Frans dan Tere masih bergeming. Mereka masih membiarkan Briel untuk berbicara sesuka hatinya.
"Apakah sesakit ini ditinggalkan oleh orang yang Briel cintai?"
Briel memukul dadanya sendiri bertubi–tubi. Ia berharap, dengan apa yang ia lakukan mampu mengurangi rasa sakit dan sesaknya. Namun nihil. Rasa itu tak berkurang sedikitpun.
"Kenapa kalian bungkam?!"
"Aaarghh!"
Briel memukul tembok di dekatnya dengan keras. Bunyi dentuman itu adalah buktinya. Bahkan buku–buku tangan Briel terluka. Namun rasa sakit di tangannya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Frans masih menatap Briel dengan wajah yang datar. Sedangkan Tere tak kuasa untuk menatap sang buah hati yang telah beranjak dewasa itu. Ia takut pertahanannya hancur. Ia menahan air matanya yang sudah bersiap untuk meleleh.
__ADS_1
Kaki Briel yang sudah melemas tak mampu untuk menahan badannya lagi untuk berdiri tegak. Ia berlutut di sana. Tangannya ia gunakan untuk mengelus kedua lutut Briel. Ia benar–benar menangis. Cukup lama Briel terdiam. Ia mengusap kasar air mata yang tersisa.
Tak lama setelah itu, Adam datang dengan muka yang juga kusut. Ia tak tega menyampaikan apa yang ia dapatkan pada Briel. Namun ia harus melakukannya.
"Bos, Nona Bos tidak biaa saya temukan."
Ucapan Adam membuatnya mendesah frustasi. Ia kecewa dengan keadaan yang ia alami saat ini. Briel menghela napas kasar.
"Sampai kapanpun Briel akan tetap mencarinya dan membawa istriku kembali, walau kalian menentangnya!" tekad Briel. Wajahnya telah berubah dingin dan datar. Ia menatap lurus, memandangi kedua orang tuanya bergantian.
"Briel tak akan pernah menikah dengan Ayu. Kalaupun aku menikah dengannya, aku hanya akan membuat dirinya menderita karena aku tidak akan pernah berbaikhati padanya, apalagi mencintainya. Karena cintaku hanya untuk Gea Agatha seorang!" janji Briel di depan ke dua orang tuanya. Ia menundukkan kepalanya lagi.
"Seminggu!" ucap Frans setelah menghela napas dalam. Ia tersenyum simpul nan samar. Tak ada seorangpun yang mampu melihat senyum itu.
Briel mendongak. Ia menatap Frans dengan berbagai macam pertanyaannya.
"Apa maksud Ayah?" tanyanya dalam hati, namun ternyata masih terucap jelas dari sorot matanya.
"Waktumu seminggu. Jika dalam waktu itu kamu tak bisa menemukannya, mau tidak mau kamu harus tetap menikah dengan wanita pilihan kami!"
Seminggu adalah waktu undangan itu akan disebarkan. Frans memberi waktu sampai undangan akan disebarkan.
Secercah senyuman tersungging jelas dari bibir Briel. Ia menatap Frans dan Tere bergantian. Sebuah harapan tumbuh di dalam dirinya untuk menemukan sang pujaan hati lebih besar. Suatu tenggang waktu yang diberikan Frans adalah jalan besar untuknya. Karena ia tahu sifat Frans yang akan selalu menghalangi apa yang dilakukan Briel dengan mudah jika Frans tak mengizinkannya.
Tanpa mengatakan apapun, Briel pergi dari sana. Ia berlari keluar. Ia akan berusaha keras untuk mambawa Gea ke dalam dekapannya lagi.
"Aku akan membawamu kembali, Gey!" tekad Briel di dalam hatinya.
"Dam … kerahkan seluruh tenaga dan anak buah kita untuk mencari keberadaan Gea!" perintah Briel pada Adam.
🍂
//
"Menangis adalah hal yang biasa dilakukan oleh kaum wanita, namun ketahuilah bahwa pria pun bisa saja menangis karena kerapuhan hidupnya. Karena pria bukanlah robot yang bisa diatur sesuka hati pemiliknya. Pria juga manusia, yang memiliki hati untuk merasa"
.
Asa Bt. 🌹
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕