Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Dela Bertingkah, Bayang–Bayang


__ADS_3

"Ck arrghhh! Kenapa semuanya tak berjalan sesuai apa yang kuinginkan sih? Suami miskin, semuanya terbongkar, Mami Papi cerai!! Arrghh! Sial!" Dela menyesap koktail itu sedikit demi sedikit. Ia duduk di bar depan bartender yang ada di sebuah club malam yang sering ia kunjungi sembari memegang kepalanya dengan sebelah tangannya.


Banyak pasang mata keranjang menatap ke arahnya. Namun ia tak peduli. Lagi pula bukankah hal yang wajar jika ia mengenakan dress terbuka ke dunia malam seperti itu? Menjadi pusat perhatian sudah menjadi hal yang biasa baginya.


"Ehemm ... Cantik, boleh gabung?" tanya seorang pria yang datang menghampirinya.


"Terserah," jawabnya ketus tanpa melihat sedikitpun ke arah lelaki itu. Dela tak berniat untuk menanggapinya.


Suatu deritan kursi yang ditarik terdengar. Pria itu duduk di sana sembari memandangi tubuh dan paras indah milik Dela. Sebuah senyum nakal terukir di wajah itu.


"Kamu kenapa cantik?"


Suaranya terdengar lembut namun tetap saja terdengar menyebalkan di telinga Dela. Kesal. Ingin sekali ia mencerca pria di depannya itu.


"KAMU BISA DIAM TI–dak sih?" Suaranya melemah kala ia menatap wajah menarik pria itu. Bahkan ia terlihat salah tingkah dengan menyelipkan rambutnya ke telinga.


"Aawww kenapa pria ini setampan itu sihh ..." batinnya sembari merutuki kebodohan yang ia lakukan.


"Oke–oke maaf." Pria itu mengangkat dan mengarahkan kedua tangannya ke depan, mencoba berhenti untuk tak mencampuri urusan Dela.


Tiba–tiba saja suara isakan tangis mulai terdengar. Dela menunduk dengan tangan yang menutupi wajahnya. Ia menangis di balik telapak tangannya. Pria itupun menatapnya iba. Ada rasa kasihan terbesit dalam benaknya.


"Kamu kenapa?" tanyanya lembut. Tangannya menyentuh pelan pundak Dela.


Dela masih terlarut dalam isaknya. Dalam hati berharap lebih pada sosok pria di sampingnya itu. "Boleh juga pria ini. Ayolah!!!" ungkapnya dalam hati.


"Hei ..." panggilnya lagi. Dela lantas menegakan kepalanya, lantas menatap wajah pria itu dalam cahaya remang, namun ia masih dapat melihat wajah pria itu. Tatapan matanya sendu dengan sisa air mata di pelupuk matanya.


"Mau cerita?" tanya pria itu dengan menyodorkan segelas wine di depan Dela. Senyum manis pun terukir di wajah itu. Dela pun menceritakan apa yang terjadi padanya dengan bumbu penyedap agar rasanya lebih enak.


"Dududududu"


Di tengah ramainya suasana ada seorang yang bersiul. Cukup lama ia mengamati pergerakan seseorang di sana. Senyum miring menghiasi wajahnya.


🍂


Hari demi hari telah terlewati. Kini Edi hidup sendirian lantaran Dela juga tak pulang ke rumah itu. Dela masih tinggal di apartemen Davin.


"Bi Roinah, bantu pindahkan barang yang ada di gudang ke ruangan ini!" titah Edi pada asisten rumah tangganya. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang kosong itu.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap Roinah mengiyakan.


"Oh iya. Ajak Mang Arman sekalian untuk membantumu."


Setelah mendengar titah dari sang tuan, Roinah keluar dari ruangan itu lantas memanggil Arman untuk membantunya memindahkan barang. Barang yang Edi maksud adalah barang milik mendiang istrinya, Annaya. Sungguh, ia sangat merindukan sosok mendiang istrinya itu. Kepergian Anna menyisakan ruangan kosong di hatinya yang tak mampu orang lain singgahi, bahkan Clara sekalipun.


Clara.


Mungkin jika kejadian hari itu tidak terjadi, Edi masih akan setia dengan Annaya sampai akhir hayatnya. Namun takdir berkata lain. Tanpa ia sengaja, ia menghamili Clara di awal pernikahannya. Ia tak menyangka jika dari hasil itu semua, ia mempunyai anak yaitu Dela.


Ingin ia meninggalkan Annaya setelah kandungan Clara membesar bahkan melahirkan. Namun tanpa ia duga, dalam perut Anna terdapat benih mungil, membuatnya tak tega memberitahukan apa yang terjadi. Selama itu, ia berusaha keras menutupi semuanya. Bahkan ia sampai mengancam Clara yang malah masuk dalam kehidupannya dan malah berteman baik dengan Anna. Anaknya pun sering ia bawa saat bertemu dengan Anna membuat Anna begitu menyayangi anak Clara. Yang Annaya ketahui, Clara adalah single mother.


Terbesit rasa khawatir dalam benaknya, melihat istri sahnya dan selingkuhannya akrab. Seusaha itu Edi menepis kekhawatirannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik–baik saja.


Hingga sesuatu hal terjadi pada Annaya, yang membuat Annaya harus melahirkan sang buah hati lebih awal. Namun takdir berkata lain. Annaya meninggal beberapa saat kemudian kala sang buah hati telah lahir di dunia. Dalam sakratul mautnya, ia meminta Clara untuk mengurus anaknya sama seperti anak Clara sendiri. Ia juga menginginkan Clara agar menikah dengan suaminya.


"Aku tidak mau!" ucap Edi, keberatan dengan permintaan Clara. "Aku bisa mengurus semuanya sendirian!" ucapnya bersikukuh dengan apa yang ia yakini. Sedangkan Clara menatap Annaya dan Edi dengan wajah yang berderai air mata.


Annaya menatap Clara sejenak. "Mbak, aku mohon tinggalkan kami berdua sebentar." Clara mengangguk lantas menuruti apa yang Anna mau.


"Mas ... " ucap Annaya kala pintu itu telah tertutup rapat kembali. "Aku mohon. Kamu mungkin bisa. Namun tidak dengan anak kita. Gea akan kehilangan sosok ibu dalam hidupnya." Rasa sakit yang Annaya rasakan membuat suaranya begitu lirih terdengar.


"Aku tak mau Annaya!" ucap Edi tanpa menatap Annaya.


"Mas... Aku mohon. Aku tak bisa menemani kalian sampai akhir. Lakukanlah. Jika kamu tak mau, aku mohon lakukanlah demi aku, demi anak kita."


Tak ada pergerakan yang Edi lakukan. Hingga tarikan lembut pada tangan Edi terasa, cukup menarik perhatian Edi. Edi menatap wajah istrinya itu.


"Waktuku tidak banyak, Mas." Senyum manis itu terukir kelu di wajah pucat itu. Buliran air mata tak mampu tertahankan lagi.


"Baiklah. Aku akan melakukannya demi kamu dan demi anak kita." Tak tega dan tak memiliki pilihan lagi, Edi mengiyakan permintaan Anna.


Anna tersenyum tulus. "Terima kasih." Lantas mata itu perlahan menutup. Genggaman tangannya pun mengendur.


Tiiiiittttttt


Semua telah usai. Edi menangis dalam diam. Istri yang ia cintai telah pergi. Permintaan itu menjadi permintaan terakhir sang istri untuknya.


"Tuan ... Tuan"

__ADS_1


"Eh ..."


Edi pun tersadar dari lamunannya. Ternyata sepasang mata itu telah berkaca–kaca mengingat apa yang telah ia lalui. Kenangan pahit sekaligus manis terakhir. Panggilan Roinah membuyarkan dunia pikirannya.


"Maaf Tuan. Ini barangnya ditaruh di mana ya?" tanya Roinah hati–hati. Ia merutuki kesalahannya yang mengganggu lamunan Edi.


"Taruh di situ aja Bi. Selebihnya biar saya sendiri yang menatanya."


"Baik Tuan."


Selepas barang–barang itu telah ia bawa ke ruangan itu, Roinah kembali ke aktivitasnya.


"Paman ..."


"Bima! Sejak kapan kamu ke sini?


"Baru saja Paman. Ini untukmu Paman."


Bima mengerahkan sebuah flashdisk ke tangan Edi. Edi menatap Bima penuh tanya.


"Apa ini?"


"Lihatlah sendiri Paman. Aku pamit dulu Paman. Masih banyak hal yang harus kulakukan."


"Ya ..." Edi memutar–mutar flashdisk itu dengan jari jemarinya. "Terima kasih. Sering–seringlah main ke sini," ucap Edi dengan senyum tulus yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Dengan senang hati Paman," ucapnya sembari berlalu meninggalkan Edi di ruangan itu sendirian.


Edi mengambil laptopnya lantas memutar video yang ada di file itu. Betapa terkejutnya ia kala melihat apa isi video itu. Gurat kemarahan di wajahnya menjelaskan betapa marahnya dia.


"Kurang ajar!!"


🍂


//


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2