Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
124. Dedek Utun


__ADS_3

Gea berjalan dengan semangatnya keluar dari ruangan itu. Ia bahkan tak menunggu Briel. Tingkah laku Gea sukses membuat Briel melongo. Briel menepuk dahinya sendiri.


"Astaga …. Ada–ada saja kelakuan ibu hamil."


Briel mengambil kunci mobilnya dan berjalan menyusul Gea.


🍂


"Selamat Tuan, usia bayi telah menginjak 5 minggu," ucap dokter kandungan itu.


Gea dan Briel saling melempar senyuman.


"Usia 5 minggu itu bayi kami seperti apa ya Dok?" tanya Briel. Ia penasaran karena ia tak pernah tahu bagaimana itu.


"Belum jadi bayi, Tuan. Perkembangan janin 5 minggu ini umumnya berukuran sebesar biji wijen. Pada fase ini, organ-organ tubuh lainnya juga sudah mulai disempurnakan. Mulai dari struktur dasar otak hingga sistem saraf, ditandai dengan perkembangan pada tabung saraf, medula spinalis (sumsum tulang belakang), serta jaringan tulang belakang."


Briel dan Gea menyimak penjelasan dokter kandungan itu. Sesekali mengangguk ringan.


"Lebih lanjut, pada janin usia 5 minggu, organ jantung janin juga mulai membentuk serambi dan sekat sehingga bisa memompa darahnya sendiri dalam waktu dekat ini. Di sisi lain, organ pencernaan si kecil, seperti usus, juga mulai berkembang di kehamilan 5 minggu ini, dengan posisi janin 5 minggu berada di rahim."


Dokter itu tersenyum ramah. Ia menjelaskan semuanya dengan sabar.


"Lalu saya harus bagaimana Dok?" tanya Briel. Di kehamilan pertama istrinya ini, membuatnya cukup khawatir karena takut tak bisa menjaga istrinya. Ia ingin menjadi suami siaga untuk Gea.


Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran yang terlihat jelas dari raut wajah Briel. Ia mengerti apa yang Briel rasakan. Hal itu cukup umum yang dialami oleh sebagian calon ayah.


"Tak usah khawatir, Tuan …."


Dokter itu menjelaskan apa saja yang harus Briel dan Gea lakukan.


"Apakah masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya dokter itu.


"Ibu hamil boleh makan durian apa tidak Dok?" tanya Briel. Ia teringat permintaan Gea. Gea menunggu jawaban dokter penuh harap. Bahkan dokter sampaia tersenyum melihat Gea.


"Boleh, asalkan jangan banyak–banyak. Sedikit saja. Dalam durian ada kandungan yang juga dibutuhkan oleh ibu hamil."


"Akhirnya diperbolehkan juga." Gea berteriak di dalam hati. Akan sangat malu bila ia sampai keceplosan.

__ADS_1


Gea membayangkan betapa enaknya durian saat daging lembut itu masuk ke dalam mulutnya. "Aahhh aku tidak sabar."


Mereka pun berterimakasih dan berpamitan. Mereka tak henti–hentinya tersenyum atas kabar bahagia yang baru pertama kali mereka dengar.


"Silahkan masuk Nyonya," ucap Briel yang tengah membukakan pintu mobil untuk Gea. Gea tertawa kecil.


"Wahh suamiku .... tumben sekali suamiku ini romantis," canda Gea. Pasalnya, cukup jarang Briel membukakan pintu mobil untuk Gea. Gea masuk ke dalam mobil.


Briel menutup pintu mobil itu. Ia berlari ke sisi yang lain lalu masuk ke dalam mobil.


"Belajar dari mana?" tanya Gea sungguh–sungguh.


Briel tersenyum sembari memakai sabuk pengaman. "Belajar dari ahlinya."


Gea mengerutkan dahinya. "Ahlinya? Memangnya ada ya ahli seperti itu?" tanya Gea polos.


Alih–alih menjawab, Briel terkekeh. Ia tak pernah belajar sama siapapun. Namun percayalah. Tanpa belajar saja, seorang pria bisa melakukan hal demikian. Hanya saja pria itu mau melakukannya atau tidak.


Gea menepuk lengan atas Briel. Ia ikut tertawa karena tertular gelak tawa Briel.


"Aku tanya beneran, Bang. Memangnya ada?" tanyanya lagi.


"Jangan lupa beli durian dulu!" ucap Gea mulai sewot.


"Iya bumil," ucap Briel sambil terus menatap fokus jalanan. Ia mencari penjual buah yang menjual durian.


"Nah ketemu," gumam Briel tatkala melihat penjual buah di pinggir jalan yang menjual durian.


Briel membeli durian itu. Ia hanya membeli satu buah saja. Ia tak mau Gea khilaf memakan durian itu sampai tak ingat porsi yang boleh ia makan.


"Makasih ya Kang," ucap Briel kemudian berlalu, kembali masuk ke dalam mobil.


Briel mengangkat durian itu ke hadapan Gea. Tanpa sadar Gea bertepuk tangan kecil. Senyum mengembang, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.


Sesampainya di apartemen, Gea meminta Briel untuk membelah durian itu. Briel mengambil alat yang bisa ia gunakan untuk mempermudahnya membelah durian itu.


"Waahh …" gumam Gea. Harum wangi khas durian semerbak memenuhi ruangan itu, menggelitik hidung Gea yang sedari tadi sudah tak sabar ingin menyantap daging buah durian itu.

__ADS_1


Ia mengambil satu biji lalu memakannya lahap. Gea begitu menikmati durian itu.


"Mau, Bang?" tawar Gea.


"Aak …." Briel membuka mulutnya.


Gea mengambil sebiji durian. Dia mengarahkannya ke mulut Briel.


"Emm …"


Lagi–lagi Gea usil. Bukannya masuk ke dalam mulut Briel, Gea melahap durian itu sendiri. Ia tersenyum usil. Briel menggelengkan kepalanya.


"Wah istriku sudah mulai nakal ya …."


Gea tergelak. Mereka melanjutkan aktivitas mereka memakan durian itu.


"Dedek Utun .... cepet gedhe ya di dalam sana," ucap Briel. Ia mengelus lembut perut Gea yang masih rata itu. Lalu ia mengecup perut Gea.


"Dedek Utun?"


"Iya Dedek Utun. Kenapa?"


"Astaga Bayang ... ada–ada saja kamu ini. Masak iya calon anak kita dipanggil dedek utun?" Gea merasa aneh saja dengan panggilan itu.


"Ya tidak apa–apa kan? Kan dia masih calon anak kita yang kecil dan pasti unyu," ucap Briel mengutarakan pembelaannya.


Gea tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Dasar Abang."


"Dedek Utun sehat–sehat di sana ya ... jangan rewel. Jangan buat mommymu kewalahan ya ..." Briel berbicara seolah–olah calon anaknya dapat mendengarkan ucapannya.


"Iya Daddy .... Dedek Utun tidak akan nakal," ucap Gea menirukan anak kecil.


Gelak tawa terdengar di antara mereka. Kebahagiaan menyelimuti calon keluarga kecil yang utuh itu.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaesss


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2