Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Rayuan Kadaluarsa


__ADS_3

"Sayang sudah belum?" tanya Briel yang saat ini sudah berada di kamar duo kembar. Ia menunggu Gea bersiap. Hari ini juga mereka memutuskan untuk menginap di rumah Edi dalam dua hari ke depan. Briel mengambil waktu cuti setelah beberapa hari tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan rutinnya.


"Sebentar lagi, Bayang."


Sebelumnya mereka sudah siap dan tinggal berangkat saja. Namun tidak terduga. Rio pipis di celana. Cairan pesing itu mengenai baju Gea. Niat hati ingin mencoba tidak memakaikan pempres untuk si duo kembar, tapi ternyata malah bocor sebelum berangkat. Alhasil Gea mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia meminta pada Minah dan Dini untuk memakaikan popok pada duo kembar.


"Sudah, Bayang," ujar Gea. Kali ini ia hanya menggunakan celana pendek di bawah lutut dengan kaos oblong sederhana. Ia berpikir, dengan berpakaian seperti itu akan lebih nyaman dan ruang geraknya lebih bebas.


Briel menatap istrinya itu. Sudah ibu–ibu beranak dua namun masih terlihat seperti remaja belasan tahun dengan pipi yang sedikit lebih cubby. Hal itu membuat Briel merajuk pula.


Briel menatap pakaiannya sendiri. "Tunggu 5 menit lagi. Sepertinya aku juga harus mengganti pakaianku," ujar Briel dengan tertawa kecil. Gea mengerutkan dahinya, mencoba memahami apa yang Briel maksud.


"Kenapa? Bayang tadi dipipisi Nino?"


Briel tergelak. Ternyata istrinya terkadang lambat berpikirnya.


"Tidak ... Nino tidak pipis. Tapi lihatlah dirimu. Kamu seperti anak remaja belasan tahun. Sedangkan aku? Aihh ... Aku terlihat begitu tua jika berjalan denganmu; seperti om–om. Yang ada aku bisa dikroyok banyak orang sebab menjadikan anak remaja belasan tahun sebagai sugar baby."


"Pfft ... Hahaha"


Gea berusaha menahan tawanya namun ternyata pecah juga. Suaminya terlalu berpikir jauh perihal itu.


"Atau kalau tidak, aku seperti jalan sama anak sendiri. Lebih tepatnya seperti jalan dengan 3 anaknya," gurau Briel. Gurauan itu sukses membuat Gea tergelak.


"Astaga Bayang ... Mana ada seperti itu, astaga ... Lagi pula kita juga hanya akan ke rumah Papa. Siapa juga sih yang bakal melihat kita? Paling cuma Papa, Bayang," ucap Gea di sela tawanya.


"Ya kan ada Minah, Dini, dan mereka semua..." ujar Briel mencontohkan.


"Sama saja Bayang. Mereka sudah tau kita."


"Ya tetap saja, aku tidak pede saja. Tunggu sebentar, aku mau ganti dulu," ujar Briel yang kekeuh dengan pikirannya sendiri.


Briel mengganti pakaiannya dengan style yang lebih casual ala–ala anak muda. Keluarnya dari ruang ganti, Gea terpana dibuatnya. Ternyata kekuatan gaya berpakaian sangatlah berpengaruh. Kali ini Briel terlihat lebih muda dengan style yang lebih simpel. Celana jins bermotif robek yang dipadukan dengan kaos polos lengan panjang berwarna krem yang digulung sampai siku.


"Wow wow wow ... Aduh ... Pacar siapa ini, Mas? Mau tidak jadi pacar saya?" goda Gea, mengagumi ketampanan Briel.


"Aduh, Mbak ..."


Briel menyentuh dagunya dengan telunjuk dan jempolnya. Ia menatap tubuh Gea dari atas sampai bawah tanpa terlewat sedikitpun. Sedangkan Gea menunggu kalimat lanjutan yang akan terlontar dari mulut Briel. Gea bersidekap dengan mengangguk–anggukan kepalanya pelan, alisnya terangkat sebelah.


"Mbak ini ... cantik. Tapi maaf mbak, saya sudah punya istri. Istri saya sama cantiknya sama Mbak. Dan kami sudah mempunyai dua anak, kembar dan lucu pula. Tampannya seperti ayahnya. Lebih menguntungkan kan?" Briel menaik–turunkan kedua alisnya. Ia tersenyum jumawa.

__ADS_1


"Hmm ... Tapi ... Saya ibu anak dua loh. Kalau Anda mau sama saya, ada bonusnya. Dua bayi mungil yang tampan." Tidak ingin kalah, Gea memberikan tawaran seolah–olah dia adalah wanita asing.


"Dan Anda juga tidak perlu capek ikut membuat bonusnya itu. Anda tinggal turut merawat mereka. Berdiskon bukan?"


Mereka saling pandang. Cukup lama dua pasang mata itu saling bertaut. Pada akhirnya mereka tertawa bersama. Gelak tawa mereka memenuhi kamar itu. Renyah sekali. Bahkan Minah yang tanpa sengaja mencuri dengar pun mampu tersenyum sendiri, tersipu malu. Awalnya ia ingin melaporkan jika mereka sudah selesai memakaikan popok dan ingin turun ke bawah lebih dulu.


"Ah romantisnya pasangan majikanku ... Padahal sudah berbuntut dua. Langgeng–langgeng untuk Tuan dan Nyonya."


Tanpa menunggu lebih lama, ia pergi dari sana. Kadar gulanya tinggi. Takutnya dia terserang penyakit diabetes. Apa lagi dia belum bersuami meski usianya sudah 27 tahun. Kalau di desanya umur segitu sudah dijuluki sebagai perawan tua. Mau minta pertanggungjawaban dengan siapa jika ia baper dengan sepasang suami istri itu.


"Mereka di mana?" tanya Briel menanyakan keberadaan duo kembar.


"Sudah di bawah dengan Mbak Minah dan Mbak Dini," jawab Gea. Kedua baby sitter nya itu turut pindah bersama dengan mereka untuk membantu mereka menjaga duo kembar.


"Wah ... Nama panggilan mereka ganti?"


Gea mengangguk. "Iya, Bayang. Umur mereka tidak jauh dariku. Kalau aku panggil 'Bi', panggilan itu terlalu tua untuk mereka yang usianya baru 20 an."


"Okelah, senyamanmu saja," ujar Briel.


"Sudah, ayo berangkat," ajak Briel kemudian. Sudah cukup adu rayu mereka.


Gea mengangguk mengiyakan. Briel merangkul pinggang Gea dari samping. Mereka berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara.


"Bi ... Tolong ya persiapkan semuanya untuk mereka. Berikan yang terbaik."


"Iya Tuan," ujar sang asisten rumah tangga.


Berulang kali Edi memastikan kinerja Roinah. Ia tidak ingin anaknya tidak nyaman saat sampai di rumah itu. Kebahagiaannya terlalu berlebih hingga mampu membuatnya khawatir akan hal kecil.


"Bagus ... Astaga kok mereka belum sampai juga ya. Padahal kan harusnya mereka sudah sampai dari lima belas menit yang lalu," ujar Edi harap–harap cemas.


"Mungkin saja terjebak macet Tuan," sahut Roinah.


Edi mengangguk mengiyakan, menyingkirkan prasangka buruk di pikirannya.


"Hmm ... Mungkin."


Setelah Roinah pamit untuk mengecek kamar dan terlebih bahan makanan untuk beberapa hari ke depan.


"Sudah beres."

__ADS_1


Roinah menghela napas kasar, ia lelah. Aktivitasnya hari ini bertambah lantaran Gea sekeluarga yang menginap di rumah Edi.


Roinah berjalan ke luar untuk membuang sampah ke TPA agar nanti diangkut oleh tukang sampah. Ada sedikit gerutu yang terlontar dari batinnya yang lelah fisik. Yeah ... Meskipun ia sendiri cukup antusias untuk menyambut Gea. Tidak bisa dipungkiri, ia juga rindu dengan putri majikan yang lemah lembut itu.


"Kamu kenapa, Nah. Dari tadi aku perhatikan, kamu berbicara sendiri," tegur Arman menyapa kala Roinah berjalan di depannya.


Roinah berhenti sejenak. "Eh?? Kedengaran dari sini?"


"Bukan kedengaran, tapi kelihatan. Bibirmu itu seperti mengucapkan mantra, komat–kamit."


Roinah menghela napas. Ia bercerita kenapa Roinah melakukan hal itu. Arman mendengarkan Roinah bercerita dengan saksama.


"Oo ya sudah kalau gitu. Itu juga tugasmu."


"Iya makanya itu." Roinah membenarkan ucapan Arman.


"Lagi pula aku juga tidak sabar melihat anak Non Gea yang katanya kembar itu," ucap Roinah kemudian. Roinah membayangkan bagaimana lucu dan tampannya anak Gea.


"Kalau itu sudah jelas jangan diragukan. Non Gea aja cantik, suaminya juga gagah tinggi, sudah pasti perpaduan syurga ..." ujar Arman.


"Ah sudah ah, aku mau masuk lagi. Bye! Jangan ketiduran terus. Nanti Non Gea datang kamu tidak tahu bahaya," ucap Roinah mengingatkan.


Arman memperlihatkan deretan giginya. Ia tahu seberapa sering ia ketiduran. Untung saja majikan mereka bukan majikan yang salah sedikit pecat.


"Ya buatin kopi kalau gitu," pinta Arman memanfaatkan kesempatan. Roinah memutar bola matanya malas.


"Hadehh ... Ujung–ujungnya."


"Ya kan itu penunjang, Nah. Buatin napa," pinta Arman sekali lagi.


"Hmm iyaa ..."


Arman tersenyum cerah. Akhirnya ia tidak perlu membuat kopi sendiri seperti biasanya.


"Jangan manis–manis!" teriak Arman pada Roinah yang berjalan menjauh.


"Iyaaa ... Isshh merepotkan. Tahu begitu aku tadi pergi saja dari sana," ucap Roinah yang berujung mengeluh menyesali perbuatannya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2