Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
110. Melarikan Diri


__ADS_3

Tekad Gea sudah bulat. Ia tak ingin berakhir di tempat itu. Tak rela dirinya berakhir pada kegelapan yang membelenggunya seumur hidupnya.


Gea mengingat sesuatu. Sebelum ia pulang, Briel memakaikan sebuah gelang di tangannya. Dalam ingatannya, ia melihat gelang itu cukup aneh, walau tampilannya terlihat wajar. Dengan tangan yang masih terikat, jari jemarinya mencoba meraba gelang itu. Dan benar saja. Ia merasakan ada tombol kecil di gelang itu. Tanpa berpikir panjang, Gea menekan tombol itu. Ia yakin kalau tombol itu memiliki kegunaan, misalnya saja mengirimkan di mana lokasi dia sekarang.


🍂


"Bos, Nona Gea dalam bahaya!" ujar Nichol, anak buah Briel di tengah meeting Briel yang sedang berlangsung.


Briel mengangkat tangannya agar anak buahnya diam sejenak.


"Mohon maaf, meeting cukup sampai di sini. Meeting selanjutnya akan saya informasikan lebih lanjut."


Tanpa menunggu lama, mereka memberesi peralatan mereka dan pergi meninggalkan Briel di sana bersama dengan Adam dan anak buahnya.


"Jelaskan!"


"Kami tidak menemukan keberadaan Nona Gea di jalan manapun," jelasnya. "Terakhir kali, kami melihat Nona Gea berada di sebuah jalan. Namun Nona Gea tak sadarkan diri karena dibekap oleh seorang pria kemudian Nona Gea di bawa masuk ke dalam mobil, saat kami mengecek di mana keberadaan Nona Gea. Selepas itu kami sudah mencoba mencarinya tapi tak kunjung kami temukan."


Briel menghela napas kasar. "Kenapa bisa terjadi?" ucapnya datar.


"Rupanya musuh telah mengetahui bagaimana cara kerja kita, Bos. Mereka berhasil mengelabuhi kita semua. Dan saat itu, mereka berhasil membawa Nona Gea pergi," jelas Nichol lagi.


"Arrgghh …." teriak Briel.


Sungguh, ia menyesal membiarkan Gea pulang sendiri tanpa dirinya. Jika kejadiannya akan begitu, lebih baik dia mengantar Gea pulang terlebih dahulu sebelum ia meeting.


"Gelang ... gelang iya gelang!"


Briel mengingat gelang yang ia pakaikan di tangan Gea. Di sana ia memasang gps dan juga tombol untuk memberikan sinyal merah di waktu genting jika tombol itu dinyalakan. Briel sudah menghubungkan semuanya itu ke gawai miliknya. Ia mulai mengecek di mana keberadaan Gea.


Briel mengerutkan dahinya. Posisi Gea saat ini ternyata tidak jauh darinya. Tapi posisi Gea saat ini tak terdeteksi di peta.


"Ada yang tidak beres!"


"Kerahkan semua anak buah kita!" perintah Briel pada Nichol. Nichol pun mengangguk. Satu persatu anak buah Briel menuju ke tempat di mana Gea berada.


Briel pun segera bangkit dan melangkah tergesa untuk menyusul Gea. Namun ia dicegah oleh Adam.


Briel berdecak kesal. "Minggir!"


Adam tak menghiraukan ucapan Briel. Ia tetap menghadang langkah Briel. Hal itu membuat amarah Briel semakin memuncak.


"MINGGIR!"


Tapi bukan Adam namanya jika Adam langsung minggir begitu saja. Ia masih saja menghadang Briel.


"Tenang Bri! Dengerin aku sebentar!"

__ADS_1


Adam berusaha untuk membuat Briel mendengarkannya.


Briel tertawa sarkas dengan kedua tangan di pinggangnya. "KUBILANG MINGGIR!!!!"


Adam masih bergeming. Briel berdecak kesal. Bahkan tangannya telah melayang ingin memukul Adam. Adam hanya diam, tak berniat untuk pergi dari sana. Namun tatkala tangan itu hampir mengenai wajah Adam, Briel menghentikan gerakkannya. Ia menghempaskan tangannya sendiri ke sembarang arah.


"Arrgghh!!!"


Briel meluapkan emosinya. Kesal, marah, geram, dan menyesal menjadi satu. Adam masih diam memandangi Briel.


"Apa?! Apa?!" ketus Briel.


"Haihh …. Sudah belum? Sudah belum emosinya? Kemana Briel yang dulu? Kemana Briel yang selalu tenang? Emosi tak akan pernah menyelesaikan masalah!"


Adam berhenti sejenak. Ia menatap ke sembarang arah sembari menghela napas kasar.


"Dengarkan saya, Gabriel Abraham Yohandrian!" ucap Adam penuh penekanan. Mau tak mau Briel mengalah. dia tak mau membuang waktunya lebih lama.


Adam mulai mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan. Briel mendengarkan dengan saksama. Detail demi detail ia dengarkan saran dari Adam.


"Bagaimana?" tanya Adam. Ia menatap lekat wajah Briel. Dia menunggu jawaban Briel.


Briel memutar matanya malas. "Jangan menatap aku seperti itu. Nanti kalau kau suka diriku bahaya!"


"Hilih … Najis! Mendengarnya saja membuatku geli. Dasar gila!"


"Bagaimana?" tanya Adam lagi.


Briel membuang napas kasar. "Baiklah, persiapkan semuanya. Aku akan mengambil bagianku!"


Adam tersenyum. Akhirnya Briel menyetujui apa yang ia utarakan. Mereka saling melempar senyum. Lalu mereka pergi beriringan menuju ke mobil mereka.


🍂


Sementara itu Gea tengah berjuang untuk melepaskan tali yang ada mengikat tangannya. Ia berusaha merogoh saku belakang celananya.


"Emghh ... emghh ... Haihh kenapa susah sekali sih?" keluh Gea. "Perasaan aku tadi menyimpan pisau lipatku di sana." Gea masih berusaha merogoh saku celananya.


Akhirnya setelah sekian lama, ia berhasil menemukan pisau lipat yang ia simpan di sakunya. Ia tersenyum lega. Kemudian ia memotong tali pengikat itu dengan pisaunya. Pisau itu cukup tajam untuk memotong seutas tali.


Tak lupa juga Gea melepaskan simpul tali yang mengikat kakinya seusai tali di tangannya terlepas.


"Selesai." Gea tersenyum miring. Gea menepukkan ringan kedua telapak tangannga.


"Aku harus keluar dari sini!"


Gea bangkit berdiri. Dia berjalan dengan langkah hati–hati. Ia berjalan mengendap–endap agar derap langkahnya tak terdengar.

__ADS_1


Gea mulai membuka sedikit celah pintu itu, untuk melihat aman tidaknya kondisi di luar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian.


"Cukup aman," gumamnya lirih.


Gea berjalan ke luar. Namun secepat kilat ia kembali ke dalam. Ternyata ada dua orang anak buah Davin yang berjaga di depan ruangan itu. Gea memikirkan cara bagaimana ia bisa mengelabuhi kedua pria itu.


Sebuah ide terlintas di pikiran Gea.


"Oke ... mari kita lakukan!"


Gea mengambil sedikit awalan. Gea menendang pintu ruangan itu untuk memancing kehadiran kedua anak buah itu agar masuk ke dalam ruangan.


Dan benar saja. Mereka terpancing untuk melihat apa yang terjadi. Mereka berjalan ke dalam ruangan itu.


Seketika kedua anak buah itu jatuh tak sadarkan diri. Gea menggunakan jurus ilmu totokan untuk melumpuhkan syaraf agar mereka tak bisa bergerak. Gea tersenyum penuh kemenangan.


Setelah itu Gea berlari keluar dari sana.


🍂


Di dalam sebuah ruangan, Davin tengah berkumpul dengan yang lainnya untuk mempersiapkan pernikahan dadakan itu. Namun tiba–tiba datanglah seorang anak buah Davin dengan langkah tergesa.


"Tuan, Nona Gea melarikan diri," lapornya hati–hati.


Seketika Davin menatap tajam anak buahnya itu. Tatapannya seakan ingin menguliti lawan biacaranya.


"Kabur?!" ucap Davin lirih dengan tekanan.


"Iya, Tuan."


"Dasar bodoh! Tidak becus! Jaga seorang perempuan saja kalian tidak bisa!"


"Temukan dia! CEPAT!!!"


Davin yakin bahwa pasti Gea masih belum jauh dari sana. Semua anak buahnya segera berpencar mencari keberadaan Gea. Mereka berusaha untuk menemukan Gea kembali.


"Arrrgghh!!!!"


Amarah Davin sudah sampai di ubun–ubun. Ia harus membawa Gea kembali sebelum semua rencananya hancur. Sementara itu Gea masih berusaha untuk keluar dari tempat itu.


🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2