Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
158. Kabar Buruk (Kemal Meninggal, Davin Bebas)


__ADS_3

"Kak ... mana daging untukku," ucap Gea menagih permintaannya yang telah dijanjikan oleh Hendri. Sedangkan kini Hendri tengah memanggang daging yang akan ia berikan untuk Gea.


"Sebentar Gey." Hendri masih sibuk membalik daging itu agar tingkat kematangannya merata.


Gea menautkan jari telunjuk dan jempolnya sebagai simbol persetujuan. Senyum cerah mengembang di wajah cantiknya itu. Bahkan wajah cantik itu terlihat semakin manis kala sinar rembulan terpancar penuh di malam itu.


Gea berbaring di tikar yang ia bentangkan di samping kolam renang. Ia menatap rembulan cantik dengan bintang–bintang yang bertaburan menemani sang dewi malam di langit yang begitu cerah. Runi menghampiri Gea dengan membawa 2 kaleng minuman dingin.


"Ini Gey." Runi menyodorkan sekaleng minuman dingin itu.


"Makasih Run," ucap Gea tulus. Sejenak ia menatap minuman milik Runi. Minuman bersoda itu terlihat begitu segar dan nikmat sedangkan di tangannya kini sekaleng susu.


Cesss


Runi membuka kaleng itu. Bunyi terbukanya kaleng semakin membuat dirinya juga ingin. Namun ia tak mungkin minum minuman bersoda, demi menjaga kesehatan kandungannya.


"Jangan lihat Gey, fokus saja dengan minumanmu sendiri," tegur Runi. Ia tahu jika sahabatnya itu sangat mengingini minuman miliknya.


"Hadap sana," titah Runi dengan wajah sok serius. Mereka berdua saling pandang, lalu mereka tertawa bersamaan.


Mereka berdua mengangkat kaleng di tangan masing–masing. Mereka minum layaknya orang yang berpesta minuman beralkohol.


"Sudah siap Princess."


Hendri meletakkan daging itu di depan Gea. Mata Gea berbinar kala Gea mengunyah daging pada suapan pertama. Sungguh rasanya luar biasa, tak ada yang bisa menandingi.


"Emmm enak sekali kak," puji Gea dengan mulut yang masih mengunyah daging. Ia menyantap daging panggang itu dengan lahap.


"Run cobalah."


Gea menyodorkan sepotong daging kepada Runi. Runi menerimanya dengan sennag hati. Respon yang tak beda jauh pun Runi tunjukkan. Runi mengambil kembali beberapa potong dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.

__ADS_1


Hendri tertawa melihat dua wanita di depannya itu begitu menikmati masakan hasil karyanya.


"Masakan siapa dulu dong," Hendri menyombong, membanggakan dirinya sendiri. Sedang mereka berdua hanya mengangguk angguk tanpa memberikan jawaban dari bibir mereka yang sibuk mengunyah daging.


Sedangkan di sisi lain Briel, Bima, dan Adam tengah bermain kartu. Mainan suka–suka itu menjadi pilihan mereka untuk memeriahkan acara barbeque. Namun tiba–tiba saja gawai Bima berbunyi. Bima berhenti sejenak. Begitupun juga yang lain. Bima mengangkat terlebih dahulu panggilan masuk itu.


Hendri yang semula bergabung dengan Gea dan Runi, ia pun segera menghampiri Briel dan yang lainnya.


"Hemss baiklah. Tetap awasi perkembangannya," ucap Bima kemudian mengakhiri panggilannya. Keseriusan Bima menjadi pusat perhatian Briel, Adam, dan Hendri. Meraka menunggu Bima membuka suara.


"Dia meninggal di tempat." Bima meletakkan gawainya di atas meja. Ia menatap mereka secara bergantian. Mereka semua terlihat begitu kaget.


"Dan Davin lolos dari penjara dengan jaminan," lanjut Bima.


"Kurang ajar! Dasar licik!" ucap Briel menahan marah. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk.


"Bagaimana mungkin ia bisa keluar dari penjara?" tanya Briel. Ia tak menyangka akan semudah itu bagi Davin untuk keluar dari sana.


"Kita harus berhati–hati. Pasalnya sekarang Davin berada di tempat persembunyiannya yang kita semua tak tahu di mana dia. Kita juga tidak bisa main jebloskan dia ke sel tahanan lagi dengan kasus kemarin," ucap Bima lagi. Mereka semua masih mendengarkan kalimat yang terlontar dari mulut Bima.


Pembicaraan serius mereka mengundang tanya Gea dan Runi. Mereka saling tatap, saling bertanya tentang apa yang dibicarakan yang lainnya. Karena penasaran mereka berdua memutuskan menghampiri mereka, turut bergabung.


Briel mengusap kasar wajah. Bebasnya Davin artinya nyawa Gea dan anaknya yang terancam.


"Kita hanya bisa memperketat penjagaan untuk Gea. Jangan lupa dengan Runi. Karena bisa saja dia juga menjadi incaran Davin lantaran Runi adalah sahabat dekat Gea," sahut Frans yang datang menghampiri mereka bersama dengan Tere.


Mereka semua menyetujui ucapan Frans.


"Sudahlah. Sudah malam juga. Ayo kita istirahat. Semua kamar telah disiapkan untuk kalian semua," ucap Tere.


Dan malam itu, pesta barbeque di akhiri. Mereka memutuskan untuk beristirahat sesuai saran Tere.

__ADS_1


🍂


Sedangkan di sisi lain, di tempat persembunyiannya Davin berlatih bela diri dengan amarah yang memuncak. Ia memukul samsak boxing dengan kekuatan penuh.


"AAAARRRGGHH!!!!"


Sungguh, ia benci sangat benci dengan Briel. Karenanya keluarganya hancur. Ayu hilang, daddynya meninggal dan mommynya gila karena tak mau menerima kenyataan.


"Ku bersumpah demi mereka, tunggu pembalasan dariku Briel!!!"


"AAAARRRRGH!!!"


Davin memukul kembali samsak itu berulang kali. Anak buahnya tak ada yang berani mendekat padanya.


🍂


//


Sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya asa dengan kakak online asa (Para author kodok aer 😂😭) 🤗🤗 baca dari eps awal ya 😉 Kalau bisa bacanya urut fulll dari eps 1😃🤭



Terimakasih 🤗🤗🤗❣️


Semoga kalian semua selalu dilimpahi kesehatan oleh Yang Maha Kuasa dan selalu dalam lindungan–Nya ❣️🙏


🍂


//


Happy reading gaes

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2