Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Kehidupan Baru


__ADS_3

Halo semuanya ...


Bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian di yang baca ini baik–baik.


Sebelumnya terimakasih sudah membaca sampai detik ini ya. Daaan .... maaf karena yang tamat bukan novelnya namun cerita musim pertama.


Jadi cerita ini masih akan berlanjut ke musim ke dua (M2). Kali ini akan menceritakan kehidupan setelah Gea melahirkan yang pastinya masih akan ada hal yang belum terselesaikan di musim pertama. Kuharap cerita ini cocok untuk kalian dan kalian tidak bosan 😭


Sudah sekian biar tidak kepanjangan


S E L A M A T M E M B A C A 🍂


🍂


🍂


Hati demi hari, minggu demi minggu telah berganti. Kesehatan Gea mulai membaik bahkan sudah hampir pulih. Kedua buah hati tumbuh layaknya bayi pada umumnya. Organ–organ dalam yang sebelumnya masih belum sempurna, kini telah berfungsi sebagaimana mestinya. Berat badan mereka pun telah sesuai dengan batas minimal bayi normal yang mampu di bawa keluar dari NICU.


Mobil berwarna hitam mengkilat memasuki pintu gerbang utama. Pintu itu terbuka lebar, dibukakan oleh seorang satpam yang selama ini menjaga rumah itu. Perlahan mobil itu pun berhenti, hingga mesinnya dimatikan.


Bagh


Pintu mobil itu terbuka. Penumpang mobil itu pun melangkahkan kaki, turun dari sana satu persatu. Sepasang netra itu menatap ke sekeliling, menjelajah area itu. Kerinduan akan rumah itu begitu dalam. Banyak hal yang membuat dia ingin segera masuk.


"Geyang ... Hati–hati!" Suara berat namun menenangkan itu mengingatkannya. Suaranya keras namun lembut, membuat siapapun mampu meleleh tatkala mendengar suara itu.


"Iya, Bayang."


Gea mengangguk mengerti sembari tersenyum. Baginya apa yang Briel lakukan adalah hal yang istimewa sekalipun itu hanya masalah mengingatkan akan hal kecil. Tidak banyak pria yang mampu bersikap layaknya seorang suami, memperlakukan seorang istri layaknya seorang ratu di sepanjang hidupnya. Kelihatannya begitu mudah namun sebenarnya itu adalah suatu hal sulit yang menjadikan suami itu spesial di hidup seorang istri.


Dalam gendongannya, ada seorang bayi tertidur nyenyak dan nyaman bahkan tidak terusik sedikitpun. Gea menggunakan baby wrap untuk memudahkannya menggendong sang buah hati. Tangannya yang tertembak belum sepenuhnya pulih. Kini tangannya masih terbalut kasa steril yang sewaktu–waktu masih harus ia ganti, masih membutuhkan perawatan dan kehati–hatian dalam bergerak. Ruang geraknya terbatas, tidak sebebas tangan yang tidak cidera.


Gea menghirup udara di tempat yang sudah cukup lama ia tinggalkan, di kediaman keluarga Yohandrian. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah itu setelah mereka dibingungkan antara di rumah Edi ataupun rumah Frans. Pulang ke apartemen jelas tidak memungkinkan untuk saat ini. Banyak pertimbangan yang mereka bandingkan. Lantaran Gea masih belum sanggup untuk merawat dan menjaga kedua buah hati mereka sendirian, mereka memilih untuk ke rumah Frans.

__ADS_1


Peran dan kehadiran Tere sangat dibutuhkan. Mungkin sesekali ia akan berkunjung ke rumah Edi, namun hal itu masih lama untuk dilaksanakan. Akan lebih mudah jika Edi yang mengunjungi mereka untuk saat ini.


"Ayo."


Tiba–tiba saja Briel sudah berada di sampingnya. Briel mengajaknya untuk masuk ke dalam. Dalam dekapannya juga ada seorang bayi yang tertidur pulas tanpa terganggu aktivitas mereka.


Gea mengangguk. Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah besar itu.


"Gege, sudah capek belum? Apa mau bunda gantikan menggendong Rio?"


Suara yang terbilang cempreng milik ibunda mertua tercinta itu menginterupsinya untuk berhenti sejenak. Gea membalikkan badannya, ke arah Tere yang kini berada di depannya.


"Tidak usah Bun, Gea masih bisa kok," ucap Gea dengan senyuman hangat.


"Kamu yakin Ge?" Tere menyentuh lembut lengan Gea yang tidak terluka.


Gea mengangguk. "Iya Bunda Sayang. Nanti kalau Gea sudah capek, butuh bantuan Bunda, Gea bilang."


Gea memberikan pengertian pada sang bunda dengan lembut. Salah kata keluar dari mulutnya bisa saja menyakiti hati lembut ibu mertuanya.


"Siap, Bunda. Nanti Gea bilang," ucap Gea meyakinkan. Menenangkan hati Tere harus ia lakukan saat ini.


"Baiklah, bunda percaya," putus Tere pada akhirnya. "Tapi sekali saja kamu melanggar lalu kenapa–napa, jangan salahkan Bunda bakalan ada di sampingmu 24x7 jam," ancam Tere. Ia tidak mau hal buruk terjadi pada menantunya.


Briel tersedak ludahnya sendiri. "Bunda ..." Keberadaan Tere setiap saat hingga setiap waktu seperti itu terlalu mengganggu baginya. Ingin apapun dari Gea, Briel pasti akan kesulitan.


"Apa?! Mau apa?!" Tere menantang Briel. Sekilas Tere tersenyum jahil. Menghanggu anaknya adalah hal terbaik di hidupnya.


Briel berdecak kesal. "Tidak!" Briel merajuk.


"Bunda ... Jangan keseringan menggoda anakmu. Lihat itu! Bibirnya manyun seperti panci gosong."


Frans menyusul mereka dengan tawa kecil yang terdengar di telinga mereka. Ia merangkul mesra tubuh istrinya.

__ADS_1


"Nah Ayah pun tau! Bunda saja yang tidak pengertian!" Briel masih merajuk.


"Heeiih ...Tidak pengertian, tidak pengertian! Kalau bunda tidak pengertian, kamu tidak akan sebesar sekarang!" ucap Tere.


Pembelaan diri di depan anaknya yang terkadang menyebalkan itu sangatlah penting baginya. Jangan sampai anaknya itu mampu menandinginya dalam berdebat.


Dan untaian kata itu mampu membuat Briel diam seribu bahasa. Karena pada nyatanya semua yang dikatakan Tere memanglah yang sesungguhnya ia rasakan.


Gelak tawa Frans mengglegar, merasuk dalam telinga mereka. "Briel Briel ... Jangan berharap bisa menang jika lawan berdebatmu itu Bunda. Sampai kapanpun tidak akan pernah ada kesempatan itu untukmu," ungkap Frans.


Mendengar perkataan Frans, Tere memelototkan matanya. Tatapan tajam itu bahkan mampu membuat Frans menyerah.


Frans berusaha keras menghentikan tawanya. "Haha ... Iya Bunda ... Iya ... Hahaha ..."


"Haihh ... Huftt..." Frans menahan tawanya agar tidak tertawa terlalu lama.


Gea yang mendengar perdebatan satu keluarga itu hanya tersenyum. Kehangatan itu mampu ia rasakan dalam sanubarinya. Menyimak pembicaraan mereka masih menjadi hal yang menyenangkan, sayang untuk terlewatkan. Pemandangan itu akan sulit ia temukan di lain tempat.


"Sudahlah ... Ayo kita masuk Geyang. Bisa stres sendiri lama–lama bergaul dengan mereka kaum orang tua," ajak Briel sembari menyindir kedua orang tuanya. Ia tersenyum jahil.


"Astaga ... Dasar anak kurang ajar ya ..." ujar Tere dengan candaan.


"Dadah Bunda..." ucap Briel dengan tangan yang ia angkat, melambai.


Frans menggeleng melihat anak dan istrinya yang bahkan sampai sekarang terlihat kekanak–kanakan jika sudah bercanda.


"Ayo Bun, istirahat."


Perjalanan yang cukup jauh membut tubuh yang mulai renta itu cepat merasakan kelelahan. Butuh istirahat cukup seusai perjalanan jauh.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2