
Hari semakin larut, semua orang semakin terlelap pula dalam dunia yang hanya dianggap sebagai bunga. Namun tidak bagi Gea.
Perlahan mata itu mengerjap. Ia terjaga. Cacing dalam perutnya meronta, meminta asupan makanan. Mau tak mau ia harus bangun. Ia sadar kali ini bukan hanya ia saja, namun masih ada nyawa di dalam perutnya yang masih harus ia perhatikan juga.
"Bang, Abang ...." paggil Gea. Tak tinggal diam, tangannya menggerak–gerakkan lengan Briel agar Briel lekas terbangun.
"Emmmgh ..." erang Briel, suaranya khas seperti orang yang tengah bangun dari tidurnya.
Briel mulai mengerjab–ngerjabkan matanya. Matanya menyipit memandang wajah Gea yang cukup dekat dengan wajahnya.
Briel mulai mengangkat tubuhnya sendiri. Sebelah siku lengannya menjadi tumpuannya.
"Apa hem?"
"Lapar." Gea mulai bermanja, menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi itu. Briel tersenyum hangat.
"Makan Sayang makan," ucap Briel.
"Gak mau."
"Hah?" Briel terperangah. Sangat aneh menurutnya. Orang lapar kenapa tak mau makan, begitulah pikirnya.
"Kenapa tak mau makan? Katanya kan lapar?"
Tanpa menjawab apapun, Gea hanya mengembangkan senyumnya yang begitu manis di mata Briel di sudut bibirnya dengan mata yang berbinar, puppy eyes.
"Mau apa hem?" tanya Briel. Ia mulai mengerti gelagat wanita hamil di depannya itu. Benar–benar suami siaga.
"Martabak. Aku mau martabak telur spesial," pinta Gea. Matanya masih berbinar, mendamba martabak itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler.
"Astaga Geyang, mana ada tukang jualan martabak yang masih buka sampai jam sekarang," keluh Briel setelah ia meliha ke arah jam dinding. Jarum pendek itu telah menunjuk ke angka 1 dengan jarum yang lebih panjang ke angka 5.
__ADS_1
"Ck ah!" Gea memalingkan wajahnya. Entahlah. Semenjak hamil, sering kali ia bersikap layaknya anak–anak. Mudah sekali untuk merajuk.
"Adoh salah lagi," keluh Briel dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Hey Geyang ... Minta yang lain aja ya. Atau makan makanan yang disiapkan Bunda?"
Gea diam tak menjawab penawaran Briel. Ia masih duduk membelakangi Briel. Bahkan hanya sekadar gelengan atau anggukan pun tak ada. Briel menepuk dahinya sendiri.
"Alamat kalau bini dah ngambek begini," keluhnya lagi dalam hati.
"Oke oke. Abang cariin," putus Briel kemudian.
"Yeyy ... Makasih Bayang." Gea langsung memeluk Briel. Matanya berbinar dengan senyum cerah yang mengembang sempurna. Secepat itulah perubahan sikap Gea.
Tanpa berlama–lama lagi, Briel mengambil kunci yang masih ia simpan. Ia memilih menggunakan motor agar lajunya lebih cepat. Sedangkan Gea yang semula mau ikut pun memilih untuk tinggal di rumah, atas larangan Briel.
********
Gea menghidupkan ponselnya. Ia menatap layar utama itu. Terdapat angka 02:30, artinya Briel sudah pergi selama satu jam. Gea menghembuskan napas panjang.
"Kemana sih Bayang?" Gea mulai gusar. Perutnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Rasa khawatir pun mulai terselip dalam benaknya, tak ingin Briel mengalami hal buruk selama perjalanan. Sesekali ia menatap ke arah pintu, berharap Briel segera datang.
Gea mulai menautkan jari jemarinya. Rasa khawatir muncul semakin besar karena sudah 15 menit lagi ia menunggu, namun tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
"Eh Gege? Kenapa dini hari seperti ini kamu di sini? Mana Briel?" Tere bertanya pada sang menantu yang terlihat gusar duduk sendirian di dapur. Kebetulan ia ingin mengambil segelas air putih untuk ia minum.
"Gea lapar Bun. Kalau Bang Briel beli martabak pesanan Gea. Tapi sampai sekarang dia tak kunjung pulang juga," jelas Gea. Tere tersenyum melihat menantunya yang begitu mengkhawatirkan anaknya.
"Tenang saja Gea. Sebentar lagi juga pasti suamimu akan pulang." Tere berusaha menenangkan Gea.
"Eh Bunda?" sapa Briel dengan dua kotak martabak.
__ADS_1
"Nah itu dia. Sudah ya, Bunda duluan," pamit Tere yang meninggalkan mereka berdua dan melanjutkan niatnya yang tertunda.
Sementara itu, Gea mulai menikmati martabak itu. Lahap sekali ia menyantapnya, sampai–sampai Briel tersenyum melihat Gea makan. Ia puas karena usahanya tak sia–sia. Bahkan ia sampai meminta mas–mas penjual martabak agar membuatkannya martabak terlebih dahulu dengan senjata istrinya hamil muda. Susah sekali ia mencari penjual martabak yang masih buka sampai menjelang pagi seperti itu.
"Terimakasih Bayang," ucap Gea kemudian menyantap lagi potongan–potongan martabak itu.
"Iya"
"Aaa" Gea memberikan suapan itu ke dalam mulut Briel. Dengan senang hati, Briel melahap potongan martabak itu. Sungguh rasanya sangat istimewa. Bukan perihal martabak, namun dengan siapa ia bersama.
Tanpa sadar, mereka menciptakan kebahagiaan kecil yang tercipta dari hal–hal yang begitu sederhana.
🍂
//
Sembari Asa up, kakak kakak bisa mampir dulu ke karya kolabosari asa dengan kakak online asa dengan judul
Terpaksa Turun Ranjang
yang publish di akun Desy Puspita
Terimakasih 🤗
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1