Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Gelap Mata


__ADS_3

"Bodoh," gumam Xavier kala ia melihat Briel uang pergi begitu saja lantaran amarah yang menguasai dirinya.


"Bodoh dipelihara," gumam Xavier. Ia beranjak berdiri mengikuti ke mana Briel pergi. Ia tidak habis pikir, kenapa kepanikan membawa seseorang pergi tanpa berpikir panjang. Untuk kali ini ia merasa beruntung menjadi seseorang yang terjun di dunia gelap. Setidaknya untuk melakukan hal genting seperti ini, ia terlatih dan masih memikirkan apa saja yang diperlukan untuk menghadapi musuhnya.


Sementara itu Briel berlari mengambil kunci mobil lantas segera memasuki mobilnya.


Ceklek


Blamm!!


"Shitt!! Menyingkirlah Vier!!!" Briel menatap Xavier nyalang, lantaran Xavier menghalanginya masuk ke mobil. Xavier sengaja menahan pintu mobil agar tetap tertutup. Xavier menatap sahabatnya itu datar. Bahkan pandangannya terkesan dingin namun tetap peduli.


Mereka saling tatap satu sama lain, tidak ada yang ingin mengalah. Mereka saling mempertahankan posisi mereka, Briel yang ingin membuka pintu mobil dan Xavier yang tetap mempertahankan pintu mobil itu agar tidak terbuka.


Briel memalingkan wajahnya lantas menghembuskan napasnya kasar. Ia menatap kembali wajah Xavier dengan amarah yang tidak bisa dibendung lagi.


"MENYINGKIRLAH BANGSATT!!! bentaknya.


Xavier tak gentar hanya dengan sebuah bentakan. Bukannya menyingkir, Xavier malah tertawa kecil, miris, menertawakan kebodohan Briel.


"Stupid you! Kau tidak akan bisa mengemudikan mobil ini dengan keadaanmu sekarang. Biar aku saja yang mengemudikannya untukmu!"


"Ck tidak perlu. Aku bisa sendiri!" ucap Briel angkuh.


"Kau bisa mati konyol bodoh!" ucap Xavier geram.


"Tidak akan. Aku ahli dalam hal mengemudi. Aku tidak sebodoh itu!" jawab Briel kekeuh.

__ADS_1


Xavier hanya menaikkan kedua alisnya tanpa menimpali ucapan Briel.


"Aakkh ... Shiit!!!"


Briel memegang perutnya yang cukup sakit karena pukulan dadakan dari Xavier. Tanpa Briel sadari, Xavier tengah mengepalkan tangannya erat, sengaja memukul perut Briel agar Briel menyingkir dari posisinya.


"Upss ... Sorry brother, itu demi kebaikanmu."


Xavier naik ke kursi kemudi. Caranya untuk membuat Briel mengalah berhasil, walau harus dengan sedikit kekerasan. Tapi cukup untuk melemahkan sifat Briel yang keras saat itu. Mau tak mau Briel duduk di kursi penumpang, sebelah kursi kemudi.


"Permainan dimulai, Dude." Suara itu terdengar rendah namun begitu mengerikan saat terdengar di telinga. Senyum dewa kematian pun tersungging jelas, aura kematian menguar begitu saja. Xavier mengemudikan mobil itu di atas batas rata–rata kecepatan.


"Gila!"


"Yeah, it's like what's on your mind," jawab Xavier dengan santainya.


🍂


Davin berjalan mengelilingi kursi yang Gea duduki. Gea diikat di sebuah kursi. Tubuhnya yang berbadan dua membuatnya kesulitan untuk melawan Davin. Ia masih memikirkan bagaimana dengan keselamatan bayinya nanti. Gea menatap Davin dengan tatapan tajam.


"Wow wow wow aku takut," ucap Davin dengan nada mengejek.


"Lepaskan aku, Badjingan!" ucap Gea sembari menggerakkan tubuhnya.


"Tidak semudah itu Beby."


Gea tertawa sumbang. "Apa untungnya sih buat kamu?"

__ADS_1


Davin tertawa kecil. "Untung? Untung kamu bilang?" Davin memalingkan wajahnya sejenak, berlagak layak orang yang tengah berpikir. Lantas secepat kilat, ia mencengkeram dagu Gea dengan tangannya.


"Oooo jelas banyak! Keluargaku hancur karena ulah suamimu. Daddy meninggal, Ayu meninggal bahkan jasadnya saja tidak ditemukan, sedangkan ..." Davin menjeda ucapannya. "...Mommy gila karena tidak bisa menerima kenyataan ini." Davin menghempaskan wajah Gea kasar.


"Dan kamu lebih gila!!" teriak Gea semabari meludahi wajah Davin. Sungguh ia muak dengan sikap Davin yang tidak mau menerima segala kenyataan yang ada, yang pada dasarnya semua masalah bermula dari dirinya sendiri.


"YA AKU GILA!!" akunya sembari membentak Gea. Lantas Davin tertawa gila. "Yeah aku gila! Dan aku gila karena kalian!"


"Mungkin bermain–main denganmu, bisa membuat Briel sedikit merasakan bagaimana sakitnya kehilangan, terutama calon manusia yang ada di rahimmu," ucap Davin dengan senyum devil.


Gea menggeleng cepat. Wajahnya begitu pucat. Di tangan Davin telah tergenggam botol yang ia yakini itu adalah obat penggugur kandungan.


"Aaa ..." ucapnya lirih. Seketika ide kecil terlintas di otaknya. "Atau mungkin sebelum itu aku harus menarik pelatuk ini ke kakimu agar kau tidak bisa melarikan diri dengan segera." Davin membayangkan betapa menyenangkannya melihat penderitaan Gea dan Briel. Gea menggeleng–geleng cepat. Bibirnya bergumam "jangan" namun Davin tidak mengindahkannya. Ketakutan Gea adalah pertunjukan kecil baginya.


"Menarik! Ututututu ... Pasti sangatlah menyenangkan bukan?"


Sungguh, hati Davin telah dikuasai kebencian dan dendam. Tidak ada belas kasihan di dalam hatinya. Yang ada hanyalah, bagaimana rasa sakitnya itu terbayar lunas. Perlahan, jari tangannya itu menarik pelatuk pistol itu. Senyum mengerikan itu terlihat jelas di wajah Davin yang membuat Gea bergerak gelisah ingin melepaskan diri.


"Dor!!!"


"AAAaaakkh"


Sebuah peluru melesat menembus kulit kaki. Erangan keras memenuhi ruangan itu lantaran peluru panas itu menembus dan bersarang di kaki itu. Darah mulai menetes lantas mengucur perlahan, membuat sang empunya menahan sakit di kaki sebelah.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2