
"Jangan … jangan … hiks … hiks …."
Suara isakan tangis itu samar–samar terdengar di telinga Briel. Kenapa baru jam segini sudah terdengar suara isakan wanita menangis? Apa ternyata Mbak Kun sudah tidak ingat waktu?
Begitulah pemikiran absurd seorang Briel. Dia masih saja percaya akan hal magis walaupun sudah cukup lama dia tinggal di luar negeri. Oleh karena itu, ia heran, kenapa di waktu hari masih petang, suara isakan tangis sudah terdengar.
"Ahh ada–ada saja Mbak Kun, jam segini sudah muncul saja. Di apartemen mewah seperti ini lagi? Benar–benar pintar memilih tempat!" Briel bermonolog. Ia masih mengira itu adalah suara Mbak Kun.
Tak lama setelah itu, Briel masih saja mendengar suara isakan tangis itu. Ia berdecak sebal.
"Mbak Kun, jangan menangis di apartemenku!" ucap Briel yang memejamkan mata sembari berbaring di kursi panjang.
Tiba–tiba matanya terbuka. "Astaga!!! Wanita itu!!"
Briel terperanjat. Ia berlari ke dalam kamarnya. Di sana ia melihat Gea tertidur dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Briel mendekat. Ia berusaha membangunkan Gea agar tidak larut di dalam mimpi yang membelenggunya.
"Hei … hei … bangunlah! Hei …."
Berulang kali Briel menepuk–nepuk pelan pipi Gea. Namun, usahanya belum berhasil. Gea menggeleng-geleng gelisah. Keringat dingin semakin banyak membanjiri tubuhnya.
"Hei ...!"
Gea langsung duduk dengan kedua kaki yang ia tekuk. Ia membenamkan wajahnya di lututnya. Ia menangis lagi. Kenyataan yang terjadi hari ini masih belum bisa ia terima. Suara isakan tangis pilu semakin kerap terdengar di telinga Briel.
Kilasan–kilasan mimpi itu bermunculan dalam benak Gea. Ketika ia dicampakan keluarganya dan kekasihnya yang kini telah menjadi kenangan pahit. Ia tak kuasa menahan rasa sakit itu. Tidak ada orang yang bisa Gea jadikan sandaran saat ini. Ketiga orang terdekatnya tidak ada di sisinya; Bima, Hendri bahkan Runi. Mereka tidak hadir juga atas izin Gea. Bahkan kali ini, ia harus menjalani pernikahan yang tak seharusnya.
Tiba–tiba tubuh Gea tertarik. Ia jatuh dalam dekapan seorang pria asing yang kini telah resmi menjadi suaminya. Ia menumpahkan cairan bening itu, hingga cairan itu membasahi kemeja yang dipakai oleh pria itu. Briel membiarkan Gea melakukan itu semua. Walaupun, yang ia tahu hanyalah karena Gea belum bisa menerima kenyataan dinikahi olehnya. Briel memberikan sentuhan–sentuhan kecil untuk menenangkan Gea.
"Kenapa ini terjadi padaku? Bisakah aku meminta keringanan? Beban ini terlalu berat untukku … hiks …."
__ADS_1
Suara Gea terdengar pilu. Hatinya seakan ikut teriris mendengar semua itu.
"Apakah aku telah memberi luka dalam untuknya sampai–sampai ia berbicara seperti itu? " batin Briel. Rasa bersalahnya karena memaksa Gea masuk ke dalam hidupnya, semakin besar menelusup di dalam hatinya.
"Maaf …."
Lagi–lagi hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu lagi kata apa yang bisa ia ucapkan. Sungguh bertolak belakang dengan gelar ia sandang sebagai pemimpin. Kali ini, di hadapan Gea, kemampuannya sebagai pemimpin telah sirna.
"Jika menikah denganku adalah suatu beban bagimu, katakanlah, maka saya akan melepasmu! Saat ini juga!"
Tiba–tiba kalimat itu terlontar dari bibirnya, kalimat yang semula hanya mampu ia ucapkan dalam benaknya.
"Jangan lepaskan aku …! Hiks … bantu aku, bantu aku! Hiks … aku tidak mau menjadi janda dengan menikah dalam waktu 12 jam. Memangnya diriku wanita seperti apa?!" ketus Gea sambil memukul dada bidang Briel. Prinsip hidup Gea adalah menikah sekali seumur hidupnya. Maka dari itu ia berusaha untuk menerima pernikahannya.
Briel terkekeh geli mendengar penuturan Gea. "Dasar wanita!" gumamnya lirih.
Briel tak mengerti jalan pikir wanita di depannya ini. Masih sempat–sempatnya berpikir seperti itu di tengah ketidakberdayaannya.
Gea mendongakan kepalanya lalu melepas dekapan Briel. Ia tak terima Briel menertawakannya.
"Memang apa yang salah dengan ucapanku?! Wanita kalau sudah jadi janda pasti kena black list, walaupun masih tersegel. Sedangkan kau, para pria, jadi duda saja pasti banyak yang mau apalagi kalau tampan dan kaya!"
Briel tertawa sejadi-jadinya. Ia tak habis pikir dengan pemikiran wanita di hadapannya. Menurutnya pemikiran Gea sudah melayang–layang. Bibir Gea semakin mengerucut. Tangannya mengusap kasar air matanya yang masih menetes deras.
Dengan sigap, Briel menarik Gea kembali ke dalam dekapannya. Ia tak tahan melihat lelehan bening dari mata seorang wanita yang memiliki hubungan dengannya.
"Baiklah! Jika kamu memilih untuk bertahan, maka jangan salahkan saya! Saya akan tetap menahanmu dan mempertahankanmu untuk tetap di sisiku, sekalipun suatu hari nanti kamu sendirilah yang memintaku untuk melepaskanmu! Bahkan jika kamu menangis darahpun saya tetap tidak akan goyah!"
Keputusan Briel sudah bulat. Jika ia sudah mengambil keputusan, tak seorangpun mampu menggoyahkan keputusannya. Bahkan kalaupun suatu hari nanti akan ada penyesalan, Briel tidak peduli. Ia akan menanggungnya sendiri.
__ADS_1
"Dan lagi! Jika kamu ingin melarikan diri, berlarilah! Berlarilah sekuat tenagamu …!" Briel sengaja menjeda ucapannya. Gea yang penasaran pun mendongakkan kepalanya. Ia menatap manik mata Briel yang menatapnya lembut.
"Kenapa dia plin plan sekali? Tadi katanya mau dipertahankan. Sekarang apa? Dasar semua cowok memang buaya!" cibir Gea dalam hati.
"… karena sekuat apapun kamu berlari, saya akan tetap meraihmu, bahkan sekalipun dengan cara menyeretmu!"
Deg
Kata–kata Briel yang tegas itu cukup membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana jika Gea menyesali keputusannya untuk bertahan? Gea mengenyahkan segala pikiran negatif yang menyinggahinya. Tak bisa di pungkiri, ia juga bahagia mendengar semua penuturan Briel. Siapa sih wanita yang tidak bahagia ketika seorang pria ingin mempertahankannya?
Gea mengangguk tanpa sadar. Seulas senyum terbit di bibir Briel.
🍂
//
Hai hai semua makasih ya udah setia membaca karya dari penulis amatiran ini 😁 terimakasih atas dukungan–dukungan kalian semua 🤗
Oh iya ini ada karya dari kakak–kakak online Asa. Sambil menunggu kisah Gea up, kalian bisa baca dulu cerita cerita mereka yang seruu banget🤗🤗
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys
jangan lupa bahagia 💕💕