Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
81. Pupus


__ADS_3

"Hemg …. Hemg …."


Seorang pria yang tengah tertidur tiba–tiba saja bangun. Ia menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Ia berusaha berjalan menuju ke kamar mandi dengan kepala yang terasa berat dan pening. Ia berjalan cepat agar segera sampai di sana.


Sesampainya di kamar mandi, ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Rasanya sangatlah menyiksa. Rasa mual bercampur sakit kepala ia rasakan.


Setelah itu ia keluar dari kamar mandi. Ia menyingkap gorden jendela.


"Emmghh …"


Ia menghalau sinar matahari yang menyilaukan netranya itu dengan tangannya. Sinarnya itu membuat matanya menyipit. Rupanya matanya belum terbiasa menerima cahaya silau setelah ia hangover.


Tak lama dari itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia menoleh ke arah sumber suara, kemudian berjalan ke sana untuk membuka pintu. Ia penasaran siapa yang telah menghampirinya.


"Pagi, Bos," sapa seseorang yang tak lain adalah Adam. Ia berdiri di depan pintu bersama seorang anggota yang membawa makanan di atas nampan.


"Kami membawakan sarapan untukmu, Bos."


Briek mengangguk. Ia melihat satu set menu sarapan dengan semangkuk sup. Terlihat begitu menggugah seleranya. Sup hangat terbukti ampuh untuk meredakan hangover yang ia rasakan.


Briel mempersilahkan mereka masuk. Nampan itu diletakkan di atas nakas. Ia segera kembali ke tempatnya setelah berpamitan dengan Briel.


"Apakah masih terasa hangover–nya, Bos?"


Briel hanya mengangguk. "Iya." jawabnya singkat.


Adam memaklumi hal itu. Tadi malam ia yang membawa Briel ke kamar itu. Dengan susah payah Adam menopang tubuh Briel yang tinggi besar itu. Dan akhirnya ia berhasil membawa Briel.


Malam itu, Briel terlalu banyak minum, sampai mabuk berat, hingga tak sadarkan diri. Bibirnya menggumamkan satu nama secara terus menerus. Nama Gea selalu disebut dalam setiap gumaman lirih yang tidak begitu jelas itu.


"Lebih baik Bos jangan berangkat kerja terlebih dahulu. Biarkan kondisi Bos membaik seperti sediakala dahulu," ucap Adam tatkala Briel berjalan menuju ranjangnya untuk sekadar duduk. Hangover sangat mengganggu aktivitas bagi orang yang mengalaminya.


Briel terhenti. Ia bergeming. Ia beralih menatap Adam setelah mendengar perkataan yang dilontarkan dari mulut Adam.


"Tidak. Aku akan tetap berangkat kerja!" kekeuh Briel. Ia ingin melihat, apakah Gea masih berangkat kerja atau tidak. Jika iya maka ada suatu keajaiban untuknya. Ia bisa membawa Gea kembali padanya.


Adam menghela napas kasar. Dia mengerti yang Briel rasakan. Briel pasti ingin memastikan keberadaan Gea, siapa tahu, Gea bekerja di hari itu.


Briel menghabiskan sarapannya. Ia bersiap–siap untuk pergi ke kantor.

__ADS_1


🍂


Sementara itu di rumah Bima, Gea bangun malas–malasan. Ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan Briel. Ia tak mau bertemu dengan Briel dan menimbun luka baru. Ia bahkan tak mengabari sahabatnya, Runi, karena hal itu bisa membuat keberadaannya akan segera diketahui Briel.


"Kak …" sapa Gea pada Bima yang telah rapi mengenakan stelan jas nya. Bima menoleh.


"Dah mau berangkat kerja?"


"Iya Gey."


Bima sibuk membenarkan dasinya. Gea berjalan menghampiri Bima lalu membantu Bima untuk memasang dasi.


"Makanya sana cari istri!" gurau Gea sambil terus membantu Bima memasang dasi.


Bima terkekeh. "Nanti. Kenalin dong sama temanmu yang cantik?"


"Yeahh … lihat lah nanti."


Gea belum berniat mengenalkan Bima pada temannya. Karena sahabatnya hanya Runi. Tapi setelah mendengar perkataan Bima, nanti jika keadaan sudah membaik, ia ingin mengenalkan Runi juga kepada Bima.


"Selesai."


"Makasih, Gey."


🍂


"Ck kebiasaan deh Gea. Kemana sih dia jam segini belum juga datang?"


Runi berdecak kesal. Ia celingukan ke sana ke mari, untuk mencari keberadaan Gea. Namun nihil. Gea tak ditemukan di mana pun.


Dari kejauhaan, Briel dan Adam mengamati Runi yang tengah berada di sana. Briel berharap sang istri segera hadir, berdiri di samping Runi. Cukup lama Briel mengamati apa yang Runi lakukan sampai Runi telah melakukan pekerjaannya.


Briel hanya menghela napas dalam kemudian pergi menuju ruang kerjanya. Sudah tak ada harapan. Hari ini Gea benar–benar sudah mulai berhenti bekerja di sana. Pupus sudah harapannya hari ini.


Adam mengikuti Briel pergi meninggalkan tempat itu.


🍂


Beberapa jam telah berlalu. Kini waktunya Runi membereskan peralatan yang ia pakai untuk bekerja. Rasa capek bercampur kesal ia rasakan. Seharian ia capek bekerja karena tugas Gea juga harus ia kerjakan sendirian. Hal itu menambah beban kerja Runi.

__ADS_1


"Dasar Gea! Gegara dia aku harus bekerja double hari ini." Runi ngedumel kesal. Wajahnya tertekuk sempurna.


Sebenarnya bukan masalah ini yang membuatnya kesal. Namun masalah Gea yang lagi–lagi tak memberinya kabar, bahwa Gea tidak masuk kerja. Lagi–lagi Gea tidak masuk bekerja tanpa keterangan yang jelas. Bahkan pesan singkat pun tidak ada. Hal itu membuat Runi menjadi penasaran dengan siapa Gea.


Tiba–tiba saja, kain pel yang Runi bawa jatuh. Naasnya, kain itu mengenai sepatu Briel yang kebetulan tengah lewat di sana. Runi melihat sepatu itu. Dan hanya melihatnya saja ia tahu siapa pemilik sepatu mahal itu.


Runi memejamkan matanya. "Aduh …. Tamat riwayatku," gumam Runi dalam hati. Ia mendongakan kepalanya. Dan benar saja. Itu sepatu milik Briel.


Runi menegang, matanya membulat. Ia menelan salivanya dengan tenggorokan yang terasa mengering. Jari–jemari tangannya meremas ujung bajunya.


"Ma–maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Runi tergagap dengan suara yang gemetar ketakutan.


Tak lupa ia juga langsung menundukkan kepalanya. Ia takut dipecat karena melakukan kesalahan. Pekerjaan ini sangat ia butuhkan. Ia masih ingin menghidupi keluarganya. Mencari pekerjaan yang pas baginya pada saat ini sangatlah sulit baginya.


Briel hanya mengangguk, tanpa senyum di wajahnya. Ia membenarkan jasnya kemudian pergi meninggalkan Runi di sana. Rasa lega menelusup masuk ke dalam hati Runi.


"Aman …" Runi mengelus dadanya pelan. Ia beruntung Briel tak marah dengan kelalaiannya. Ia segera melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


Runi mengembalikan peralatan ke gudang. Tak lupa ia mengunci pintu gudang itu lalu menyerahkannya kepada satpam yang berjaga.


"Mari, Pak," ucap Runi pada satpam yang ada di sana.


🍂


"Akhirnya sampai juga …." ucap Runi lega.


Ia melempar tasnya ke atas ranjang. Ia mengambil handuk dan perlengkapan mandinya untuk ia bawa ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya yang terasa lengket.


Baru saja Runi masuk ke dalam kamar mandi, ada suara ketukan pintu dari depan. Runi yang baru masuk kamar mandi itu segera keluar untuk melihat siapa yang datang di jam–jam seperti ini.


"Sebentar ..."


Teriak Runi, karena berulangkali pintu itu diketuk.


Runi membulatkan matanya. Betapa terkejutnya ia melihat siapa orang yang datang ke rumah kontrakan Gea yang ia tempati itu.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2