
Hari ini, Gea sudah mulai masuk kerja lagi setelah seharian kemarin ia izin tidak masuk kerja. Ia masih berangkat terpisah dari Briel. Ia selalu berangkat menggunakan angkutan umum.
"Hai Run …" Gea menyapa Runi yang tengah lewat di sebelahnya. Ia mendahului Gea tanpa menjawab sapaan Gea. Sikap Runi dingin padanya. Runi hanya melengoskan wajahnya.
"Aku marah sama kamu!" gumam Runi dalam hatinya.
"Kamu kenapa Run?"
Runi masih berjalan, tanpa menghiraukan Gea yang memanggilnya berulang kali.
"Kenapa dia? Kenapa tiba–tiba dia dingin padaku?" gumam Gea lirih, sembari mengingat kesalahan apa yang ia lakukan. Namun ia tak kunjung inga kesalahan apa yang ia lakukan. Gea mengedikkan bahunya.
"Nanti sajalah kalau berjumpa lagi aku tanyakan." Gea memutuskan untuk tak mengejar Runi lebih jauh lagi. Ia memutuskan untuk segera bersiap, karena waktu kerja sudah akan dimulai.
🍂
Di ruang kerjanya, Briel tengah menunggu Bima datang untuk meeting bersama yang terkait dengan kerjasama yang mereka bicarakan tempo hari. Setelah Adam ditugaskan untuk membantu Briel, tugas Mark berkurang. Tugas yang berhubungan dengan Briel sudah ditangani oleh Adam.
"Sudah datang, Kak?"
Seketika tatapan Bima menajam. Ia tak mau di panggil dengan sebutan 'kak' oleh Briel karena umur mereka yang tidak beda jauh.
Bukannya menciut, Briel terkekeh melihat tatapan Bima yang menajam.
"Silahkan duduk, Tuan."
Adam mempersilahkan Bima untuk duduk di sofa yang tersedia di sana. Tanpa menunggu lagi, ia duduk di sana.
"Astaga .... Yang minta kerjasama siapa yang disuruh datang siapa. Dasar bos gak punya akhlak," sindir Bima.
Briel terkekeh mendengar jawaban Bima. Ia mengakui bahwa seharusnya dialah yang harus menghampiri Bima. Namun karena ada suatu keperluan yang harus Briel selesaikan, Briel membuat Bima datang ke Mega Raya Group untuk meeting di siang ini.
"Tapi kan kau mau saja!" skak Briel dengan santai.
Semenjak bertemu di pagi itu, Briel dan Bima sudah mulai akrab, bahkan seperti orang yang sudah lama kenal.
Bima memutar bola matanya malas. "Kalau kamu bukan suami adik sepupu kesayanganku, aku juga ogah Bri! Mungkin jika orang lain, aku akan menolak mentah–mentah itu kerjasama yang ia ajukan!"
"Gea aku berhutang budi padamu …" ucap Briel yang dibuat sedramatis mungkin." Kelakuan Briel mengundang tawa Bima dan Adam.
"Dasar gila!"
__ADS_1
"Bos Briel memang gila, Tuan."
Lagi–lagi Adam keceplosan. Hal itu membuat Briel menajamkan matanya. Dengan polosnya Adam menampilkan deretan giginya yang putih rapi itu. Briel masih menatap Adam kesal. Sedangkan Bima tersenyum senang, bisa mendapatkan teman yang mendukungnya untuk membully Briel.
"Wahh .... asistennya saja bisa bicara demikian," ledek Bima semakin menjadi. "Dam jangan panggil aku 'tuan'. Panggil aku Bima saja." Bima tak nyaman dengan paggilan Tuan. Walaupun Adam adalah seorang bawahan Briel, namun Bima tahu bahwa Adam adalah sahabat Briel. Briel menatap malas mereka berdua.
"Siyap Bos!" Adam memanggil Bima dengan sebutan Bos. Karena ia tak enak hati jika memanggil Bima dengan nama langsung. Bima juga merasa lebih nyaman ketimbang dipanggil dengan embel–embel 'tuan'.
Briel mengangguk kecil. "Baiklah berarti aku tak perlu menambah lagi nilai nol di rekeningmu ya Dam?" Briel mengusap–usap dagunya dengan sebelah tangannya.
"Kok bisa begitu, Bos?" Adam menautkan kedua alisnya. Ia tak mengerti apa yang Briel maksudkan.
"Ya bisa dong. Kan bosmu sekarang dia. Jadi tak perlu meminta gaji padaku." tunjuk Briel pada Bima.
"Tidak ada! Aku tak membuka lowongan bagi pekerja bekas!" gurau Bima.
"Kejamnya kalian, Bos!" ucap Adam melas. Akan sangat susah dirinya, jika bulan ini tak mendapatkan bayaran. Hal itu mengundang tawa Briel dan Bima.
Briek berjalan menghampiri Adam dan Bima. Ia duduk di sofa kosong yang ada di sana.
"Bagaimana Bim …. Apakah sudah dipersiapkan?" tanya Briel langsung. Kerjasama mereka memang sudah berjalan walau masih belum resmi. Hari ini adalah pembahasan lebih lanjut sekaligus penandatanganan kontrak kerjasama.
Briel mengangguk. "Saya mohon, pastikan software itu bisa mendeteksi kejanggalan–kejanggalan yang terjadi, menjaga data rahasia perusahaan dan juga bisa merecovery data."
"Baiklah! Akan saya usahakan semampu saya!"
Seulas senyum terbit diantara mereka bertiga. Bima dan Briel telah menandatangani perjanjian kerjasama. Dalam batinnya Briel tersenyum.
"The game is about to start!" gumam Briel dalam hati.
🍂
Saat ini, Gea berdiri di pinggir jalan. Ia tengah menunggu angkutan umum yang lewat. Hari sudah semakin sore, namun belum ada angkutan umum yang lewat.
Kenapa dia tidak pulang bersama dengan Briel? Atau kenapa Briel tak menggunakan jasa sopir untuk mengantar jemput Gea?
Yeahh begitulah Gea. Ia masih belum siap membuka identitasnya. Ia memerlukan waktu untuk mengungkap semuanya. Akan sangat rawan jika ia menaiki kendaraan pribadi.
Gawainya berdering. Gea segera membuka sling bag nya untuk melihat siapa yang tegah menelponnya. Nama Bima terlihat jelas di layar benda pipih canggih yang Gea pegang. Gea segera mengangkat telepon itu.
"Gey!"
__ADS_1
"Iya Kak?"
"Ada seseorang yang menyamar tengah membuntutimu. Masuklah ke mini market di depan sana. Kakak akan membantumu lepas darinya."
Gea mulai mengamati situasi. Gea berpura–pura merenggangkan otot–ototnya, menengok ke kanan dan ke kiri, memutar punggungnya untuk melihat di mana orang itu tanpa diketahui sang pengintai. Dan benar saja. Ada seorang pria mencurigakan di sekitar sana.
"Baiklah Kak. Aku akan ke sana."
Gea menutup sambungan telepon itu. Ia segera menuju ke sana. Ia berusaha bersikap setenang mungkin agar pengintai tak curiga dengannya.
Gea mulai berjalan berkeliling dari rak ke rak yang ada di sana, mencoba mengecoh sang pengitai, berpura–pura memilih barang yang akan dibeli.
Bruak …
Ada sesuatu yang terjatuh. Seorang wanita dewasa menabrak pengintai itu. Minuman yang dibawa oleh wanita itu tumpah mengenai baju pria itu. Dengan cepat, Gea meninggalkan mini market itu dengan memanfaatkan kesempatan yang ada lalu masuk ke dalam mobil Bima. Bima melajukan mobilnya dengan kencang, agar pengintai itu tak melihat mereka berdua.
"Sialan! Pakai matamu kalau berjalan!" umpatnya pada wanita yang menabraknya. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. Terlihat jelas, amarah tengah ditahan oleh sang perasa. Ia sudah tidak melihat Gea ada di dalam jangkauan pandangannya. Dia kehilangan jejak Gea lagi.
"Ma–maaf, Tuan," jawab wanita itu tergagap sembari menunduk dan berusaha menghilangkan sisa minuman yang menempel di baju pria itu.
Pria itu menepis tangan wanita itu. Lalu dengan cepat ia meninggalkan tempat itu untuk mengejar Gea. Namun sayangnya ia telah kehilangan jejak lagi. Ia menggeram marah. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di dalam mini market, wanita itu tersenyum bahagia. Rencananya telah berhasil. Ia memang diperintah secara khusus oleh Bima sewaktu ia ingin memasuki mini market itu. Ia diberi sejumlah uang sebagai bayarannya
🍂
//
Hai semuaa ... terimakasih bagi yang telah membaca maupun menanti cerita Gea. Terimakasih atas dukungan kalian 🤗🤗
Maaf kalau cerita ini kadang telat up 🙏 Asa mempunyai RL yang juga harus diselesaikan. Jika menulis cerita secepat membuat mie instan, mungkin Asa bisa saja triple up 🤭
Semoga kalian semua tidak bosan dan tidak kecewa dengan apa yang Asa buat 🤗🤗
🍂
//
Selamat membaca, dan ...
jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1