Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
69. Masih Tersembunyi


__ADS_3

Bima melajukan mobilnya menembus jalanan yang masih padat. Hanya keheningan yang menyapa di antara mereka. Bima fokus dengan aktivitasnya di belakang kemudi, sedangkan Gea sendiri sibuk dengan pikirannya.


"Apa yang ia mau dariku? Apa dia tidak puas dengan apa yang ia lakukan terhadapku? Kenapa dia masih saja penasaran denganku?"


Berulang kali pertanyaan–pertanyaan itu berputar–putar di kepalanya. Hanya Davin orang yang pertama kali ia pikirkan di dalam benaknya. Hanya dia yang berpotensi untuk mengintainya sampai sejauh ini. Hanya dia yang berinteraksi dengannya sampai detik ini.


Bima mengantar Gea langsung ke apartemen milik Briel.


Sesampainya di parkiran, Bima menahan Gea tatkala Gea ingin membuka pintu. Ia menatap Gea dengan pandangan yang serius. Gea menatap Bima heran.


"Kenapa kak?"


"Hati–hati. Ada yang mulai mengintaimu lebih intens. Selalu waspada, dan jangan lupa beri tahu kakak kalau ada sesuatu yang mengganggumu." Bima khawatir dengan Gea. Ia tak mau hal yang tidak diinginkan terjadi menimpa Gea.


Gea mengangguk. "Oke Kak."


Bima mengangguk dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya. Ia lega telah menyampaikan apa yang ia ketahui. Ia mempunyai firasat yang tidaj mengenakan mengenai Gea. Namun ia tak tahu apa itu. Ia sendiri pun masih bertanya pada dirinya sendiri.


"Yaudah sana masuk!"


"Makasih ya, Kak," ucap Gea sembari membuka pintu.


Setelah keluar, ia membungkukkan badannya agar bisa melihat Bima yang ada di dalam mobil. "Gak masuk dulu kak?"


"Tidak usahlah. Kakak ada urusan yang harus kakak selesaikan."


Gea mengangguk mengerti. "Baiklah Kak... Bye Kak." Gea melambaikan tangannya lalu menutup pintu mobil itu.


Setelah punggung Gea menghilang, Bima melajukan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen itu. Setidaknya saat ini ia lega karena bisa memastikan Gea selamat sampai tujuannya.


🍂

__ADS_1


"Siapa Gea sebenarnya? Kenapa dia sering sekali diawasi oleh orang? Apakah ada fakta tersembunyi selain ia anak Tuan Edi Wiyarta yang terbuang?"


Briel duduk sambil mengelus dagunya. Ia memikirkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya setelah mendengarkan laporan yang Adam sampaikan. Anak buah yang ia kerahkan untuk menjaga Gea dari jarak yang cukup jauh, seringkali menghadang pengintai yang tengah mengintai. Tidak hanya sekali dua kali, namun sudah berkali–kali. Bahkan ia yakin bahwa orang dibalik pengintai–pengintai itu tidak hanya berasal dari satu orang.


Mereka melakukan tugas mereka dengan cara yang natural, sehingga sang pengintai tak menyadari apa yang Briel lakukan. Di sana Adam masih setia duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari Briel. Mereka saling terdiam dalam keheningan yang melanda di antara mereka berdua.


Briel masih penasaran tentang apa yang masih Gea sembunyikan. Namun ia tak bisa berbuat apa–apa. Akses informasinya sungguh buntu, hanya terhenti pada kenyataan bahwa Gea adalah anak Edi Wiyarta yang terbuang. Adam tak berhasil menemukan fakta–fakta yang masih belum ia temukan.


"Hanya ada dua cara yang bisa kita lakukan."


Adam bersuara membelah keheningan. Briel menatap Adam seketika. Ia penasaran dengan apa yang diucapkan Adam. Ia menanti perkataan Adam selanjutnya. Ia menautkan kedua alisnya.


"Katakan!"


"Pertama, dengan menanyai Nona Gea sendiri." Adam menghentikan ucapannya lalu menatap Briel untuk memastikan apakah hal itu sudah dilakukan Briel atau belum.


"Sudah kulakukan dan hasilnya, Gea hanya menjawab sampai pada batas keluarganya saja."


"Hanya sebutan 'saya' saja jadi masalah!" gumam Adam lirih. Gumaman itu masih terdengar di telinga Briel.


"Hei ini bukan jam bekerja dan tidak membahas hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Saat ini posisiku bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai sahabatku. Jadi jangan bicara formal padaku. Dasar dungu!"


Berulang kali Briel mengingatkan Adam tentang penggunaan kata 'saya', namun berulang kali juga Adam kebablasan masih menggunakan kata 'saya' saat di luar urusan pekerjaan.


"Astaga … iya–iya!" ucapnya malas. Briel tersenyum cerah. Bagaimanapun ia lebih nyaman menggunakan bahasa non formal tatkala berbicara dengan Adam di luar pekerjaan.


Dalam benaknya, Adam bersyukur memiliki sahabat yang tak lupa dengan dirinya, walaupun jabatan mereka berbeda. Briel tetap menganggapnya sebagai sahabat, bukan memandangnya sebagai orang suruhan pada umumnya. Namun untuk sebutan memanggil Briel, Adam hanya berucap sesuka hatinya. Dan Briel tak mempermasalahkan itu.


"Aku sangat yakin, Bos Bimalah orang di balik sulitnya mengungkap identitas Nona Gea." Adam mengatakannya dengan yakin. Ia menduga demikian, karena setelah ia mengetahui siapa Bima, bukan hal yang tidak mungkin untuk bisa menjaga kerahasiaan orang yang dilindunginya dengan rapat.


Pemikiran Briel sama dengan Adam. Namun Briel tidak yakin, jika ia bertanya langsung pada Bima, Bima akan mengungkap semua hal yang masih tersembunyi itu. Sudah dipastikan, Bima akan lebih berpihak pada Gea, ketimbang dengan dirinya.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah menghubungi Larz?"


"Sudah. Tapi dia sibuk, jadi dia tak mungkin bisa membantu kita karena ada misi rahasia yang sedang ia selesaikan."


Briel mengangguk. Tak dapat ia pungkiri, Larz sering ditugaskan dalam misi rahasia yang tidak banyak orang mengetahuinya. Bahkan dirinya pun tidak begitu mengetahui bagaimana pekerjaan Larz yang sesungguhnya.


"Baiklah, kita pikirkan lagi nanti. Ayo pulang. Aku tidak mau istriku menungguku terlalu lama karena aku tak kunjung pulang."


Briel tersenyum tengil. Ia berusaha untuk memanasi Adam agar Adam segera menyusulnya.


"Heleh .... Katanya istri tapi sampai sekarang belum dikenalkan sama Ayah dan Bunda," ledek Adam, perkataan yang menohok tepat di relung hati Briel. Seketika suasana hatinya memburuk. Bukan maksud ia tidak mau jujur, namun keadaan yang memaksanya agar tak gegabah untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan.


Briel menghela napas kasar. "Yeah …. Belum waktunya saja. Tunggu saat itu, dan terimalah giliran di saat dirimulah yang akan diledek Bunda!"


Briel menaik turunkan kedua alisnya. Seulas senyum mengembang di bibirnya. Sedangkan, senyum miris nan samar Adam sunggingkan. Senyuman itu tak terlihat oleh Briel. Dalam hatinya ia bertekat akan menyelesaikan urusannya setelah masalah Briel usai.


Secepat kilat, Adam mengubah suasana hatinya. Ia memutar bola matanya malas. "Ya ya ya terserahlah! Aku mau pulang. Bye!"


Adam beranjak dengan tangan yang menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Ia pulang mendahului Briel. Briel terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.


🍂


Sementara itu di sisi lain, masih ada beberapa pihak yang ingin mengetahui identitas maupun keberadaan Gea dengan berbagai tujuan mereka masing–masing. Masing–masing dari mereka memerintahkan kepada anak buah mereka untuk terus mencari dan mencari sampai tujuan mereka tercapai.


🍂


//


Happy New Year semuaa🎉🎉


Semoga harapan baru tumbuh di hati kita semua dan jangan lupa untuk selalu bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2