
Ayu mengaca di depan cermin. Ia mengamati tubuhnya sendiri dari atas ke bawah dari samping kanan ke samping kiri. Bahkan ia sampai memutar badannya sendiri.
"Perfect."
Ayu menyunggingkan senyum manisnya. Ia berusaha berdandan secantik mungkin. Memberikan kesan adalah tujuannya. Iingin pergi ke rumah orang yang masih ia kira calon mertua. Parasnya yang cantik manis, dengan pakaiannya yang juga cantik, membuat Ayu semakin mempesona.
Ia berjalan turun dengan raut wajah yang sumringah. Sampai ia melihat kedua orang tuanya. Mereka terlihat tengah meributkan sesuatu. Niat hati ingin menyapa, ia urungkan. Ia berjalan hati–hati menghampiri mereka.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat membicarakan hal yang serius?" Ayu bermonolog lirih.
Ayu menghampiri mereka perlahan, dengan hatj–hati agar tak terdengar oleh mereka.
"Dad terus bagaimana ini, Dad? Teman mommy tanyain bagaimana kelangsungan pernikahan itu Dad! Ini beneran Dad?" ucap Selly. Sewaktu arisan, teman–temannya bertanya tentang hal itu.
"Yaudah tinggal bilang saja dibatalin! Gitu aja repot, Mom!"
"Tapi malu Dad, mommy!"
"Ya sama, Mom. Aku juga malu."
Tak bisa dipungkiri, Kemal juga malu. Banyak rekan bisnisnya yang telah mengetahui rencana pernikahan itu. Namun saat ini semuanya telah dibatalkan. Baginya pembatalan pernikahan itu adalah suatu penghinaan untuknya.
"Terus ini saja Ayu belum tahu. Bagaimana kalau Ayu tahu?" ucap Selly khawatir.
Selly tahu bahwa hati anak perempuannya itu masih polos di antara mereka sekeluarga. Dia bagaikan berlian di Keluarga Angkara yang harus di jaga. Mereka bertiga berusaha untuk menjaga hati Ayu agar tak tersakiti. Padahal sebenarnya mereka sendirilah yang menyakiti Ayu.
Ayu tertegun mendengar penuturan kedua orang tuanya yang tak sengaja ia curi dengar.
"Apakah ini benar? Apakah aku tidak salah dengar? Tapi kenapa?"
Pertanyaan itu muncul bergantian di kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan mendekat dengan derap langkah yang cukup terdengar.
"Mom, Dad …"
Bak seperti tersambar petir di siang bolong yang panas, Selly dan Kemal menoleh ke arah sumber suara. Betapa kagetnya mereka melihat Ayu datang menghampiri mereka. Mereka melihat sorot mata Ayu yang penuh dengan tatapan kekecewaan.
Selly menatap Kemal. Tatapannya itu seakan berbicara, "apakah dia mendengar semua?"
Selly tak tahu akan begini jadinya. Mereka ribut di ruang keluarga karena Selly tahu kebiasaan Ayu yang tak akan pernah keluar kamar kalau tidak ada perlu.
__ADS_1
Kemal hanya menghela napas kasar. Ia tahu, lambat laun Ayu akan tahu.
"Apakah itu semua benar?" tanya Ayu dengan mata nanar.
Selly dan Kemal mengangguk. Mata Ayu mulai berkaca–kaca. Kepalanya menggeleng tak percaya.
Lalu ...
"Aaaaaaaaa!!!!" teriak Ayu. Ia tak menyangka, ternyata pernikahan yang ia impikan batal seketika. Ia tak bisa menerima kenyataan itu. Ia memecahkan beberapa barang keramik yang ada di sana dengan tangis yang telah pecah pula.
Selly berusaha untuk menenangkan Ayu. Begitupun juga dengan Kemal. Mereka semakin terkejut ketika melihat Ayu mengambil sebuah pecahan keramik, yang berniat untuk melukai dirinya sendiri. Dengan cepat Kemal menahan Ayu. Ia menepis tangan Ayu. Seketika keramik itu terlepas dari padanya. Kemal berusaha memeluk putrinya itu agar tak melakukan hal bodoh.
Ayu menangis sesenggukkan. "Aaaaa!!! Aku mau dia Dad! Hiks … hiks …"
Hati Kemal tersayat, begitupun juga dengan Selly. Hal itu semakin membuat Kemal membenci keluarga Briel.
"Aku mau dia Dad!" ucap Ayu di sela tangisnya lagi.
"Iya, Sayang, iya." Kemal berucap sembari mengelus rambut Ayu dengan lembut, untuk menenangkan Ayu yang masih sesenggukkan.
"Tunggu pembalasanku, Frans!" batin Kemal geram. Ia benar–benar gak rela melihat anaknya tersakiti. Rasa bencinya sudah mendarah daging di hatinya.
🍂
//
"Jadi shopping sama mommy?"
"Jadi dong. Kan tujuanku ke sana karena mommy mengajakku shopping hari ini," jawab Dela antusias.
Davin hanya tersenyum simpul.
"Apa yang terjadi?" tanya Dela pada Davin tatkala melihat keributan di sana. Ia melihat banyak pecahan kramik yang berceceran. Mommy yang menangis dan Ayu yang menangis dalam dekapan Kemal membuatnya semakin bertanya–tanya. Davin yang tak tahu apapun, tak menjawab.
"Ada apa Dad?" tanya Davin tatkala ia sudah berada di depan mereka semua.
Kemal mengalihkan tatapannya ke arah Davin. Ia juga menatap Dela.
"Bawa Ayu ke kamarnya!" ucapnya pada Dela lirih, namun terdengar tegas.
__ADS_1
Dela pun mengangguk. Ia mengajak Ayu kembali ke kamar. Selly juga mengikuti mereka.
"Vin, ikut Daddy ke ruang kerja."
"Baik, Dad."
Mereka berjalan ke sana bersama.
"Ada apa, Dad?" tanya Davin saat mereka telah sampai di ruang kerja.
"Adikmu gagal nikah!" jawab Kemal menahan amarah.
"Serius, Dad?"
"Iya."
Davin tertegun. Ternyata nasib adiknya berbanding terbalik dengan nasibnya. Ia meninggalkan, namun Ayu ditinggalkan. Dan anehnya dia murka mendengarkan kabar itu.
"Sialan!" umpat Davin.
"Vin, cari siapa istri Briel. Dia membatalkan pernikahannya ini karena ia telah menikah dengan orang lain."
"Iya, Dad. Aku akan mencari tahunya."
"Apa rencana Daddy?"
"Ada Vin. Aku akan membalaskan dendamku pada mereka. Enak saja mereka mengusik keluarga kita! 😏 Nanti akan daddy beri tahu apa itu."
Davin mengangkat bahu dan kedua alisnya.
Yeahh begitulah mereka. Mereka tak akan pernah sadar dengan apa yang mereka alami. Mereka tidak akan pernah sadar akan kesalahan mereka. Mereka akan mencari orang lain sebagai objek yang mereka salahkan sekalipun orang itu tidak bersalah.
🍂
//
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1