Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
76. Kejujuran 4 (Briel)


__ADS_3

Setelah kepulangan Kemal sekeluarga, Adam membantu Frans untuk beristirahat di kamar. Tak perlu menaiki tangga. Rumah ini telah dilengkapi dengan lift sebagai akses untuk menuju lantai atas. Mereka menyiapkan lift untuk mengantisipasi jika keadaan tak memungkinkan penghuni rumah untuk naik turun tangga, seperti saat ini, Frans yang tidak bisa naik turun tangga.


Mereka berdua menaiki lift itu. Tere tengah berada di dapur untuk mengambil air putih.


"Kamu kapan Dam mau menikah?" tanya Frans tiba–tiba. Ia tak ingin orang yang sudah ia anggap sebagai anaknya ini tak memiliki masa depan. Ia ingin agar Adam juga mempunyai rumah kecil sebagai tempat tujuannya untuk pulang. Rumah kecil yang merupakan hidup Adam, rumah kecil yang menjadi prioritas di dalam hidup Adam.


Adam terdiam. Dia menerawang jauh kehidupannya di masa mendatang. Seulas senyum tipis ia sunggingkan di bibirnya.


"Nanti, Yah, setelah Briel."


"Kenapa harus menunggu Briel? Bukankah kamu sudah memiliki kekasih?"


Adam hanya tersenyum kecut. Ia sudah bertekad tak akan memikirkan lagi apa yang telah terjadi.


"Dam?"


"Biarlah Briel dulu, Yah. Nanti setelah Briel bisa membangun rumahnya dengan kokoh, Adam akan menyusul, Yah," jawab Adam tegas.


Frans tersenyum, antara bahagia dan sedih. Ia bahagia karena anaknya, Briel, memiliki tangan kanan yang setia. Bahkan Adam mementingkan kebahagiaan anaknya. Rasa tenang telah merasuk jiwanya. Namun di satu sisi, Frans juga ingin Adam bahagia dan memikirkan kehidupan Adam sendiri selanjutnya.


Frans tidak berucap lagi. Mereka berdua tenggelam di dalam keheningan.


Sesampainya di kamar, Adam membantu membaringkan Frans berbaring di ranjang. Di tengah aktivitasnya, gawai Adam berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk untuknya. Ia mengambil gawainya lalu membaca isi pesan itu.


"Yah … Adam turun sebentar, Yah."


Frans mengangguk. Adam bergegas keluar dari kamar Frans.


"Mau kemana, Dam?" tanya Tere ketika mereka berpapasan.


"Mau ke bawah, Bun."


Tere mengangguk. Ia mempersilahkan Adam.


🍂


Briel hanya mengulas senyum. Dan senyum itu terasa sekali kegusarannya, meskipun ia berusaha menyembunyikan kegusarannya. Mungkin orang biasa tak akan bisa membaca raut wajah Briel. Namun pengecualian bagi Gea. Ia sudah terlatih untuk membaca air muka lawan bicaranya.


Cukup lama mereka berdiam, hingga ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil Briel.


Briel membuka kaca mobil itu.


"Sudah sampai, Bos?"

__ADS_1


"Belum"


"Lah."


"Sudah tahu masih bertanya!" jawab Briel. Ia memutar bola matanya malas. Pertanyaan yang sangat klise untuk di dengar. Gea hanya mendengarkan percakapan kedua orang yang ada di depannya ini.


Yeahh … dia Adam. Beberapa waktu sebelumnya Adam mendapat notifikasi pesan dari Briel agar ia segera menemui Briel di depan rumah.


"Dam … dimana Ayah sama Bunda?"


"Ada di dalam kamar. Ayah dan Bunda baru saja beristirahat setelah mereka pulang. Baru saja mereka pulang."


"Oh … " Briel mengangguk. "Pantas saja aku tadi melihat mobil keluar dari rumah ini," gumam Briel lirih.


Saat mobil Briel berada di jalan depan rumah, Briel melihat ada sebuah mobil yang keluar dari kediaman Keluarga Yohandrian. Ketika mereka keluar, Briel masuk ke dalam rumah.


"Selamat petang Nona Bos," sapa Adam ketika ia melihat ke dalam mobil. Gea menyunggingkan senyumnya.


Briel menutup kebali kaca mobilnya. Adam menjauhkan dirinya dari sisi mobil itu. Briel menatap Gea.


"Jangan ke mana–mana. Aku akan segera kembali."


Gea mengangguk, meski ada banyak pertanyaan di benaknya. Briel ke luar dari mobil.


Adam mengangguk. Briel melepas jas yang ia pakai. Jas itu ia sampirkan di sebelah tangannya. Kain di lengannya ia singsingkan. Ia menegakkan badannya. Ia menghirup udara lebih dalam. Lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya.


"Ayo Briel, mari kita lakukan!" gumamnya lirih untuk menyemangati dirinya sendiri.


Langkah demi langkah ia menggerakkan kakinya menuju ke dalam rumah.


"Den Briel sudah pulang?" ucap Eli tatkala berpapasan dengan Briel yang masuk ke dalam rumah.


"Iya, Bi Eli. Bagaimana kabarmu?"


"Sehat, Den."


"Kemana Ayah sama Bunda, Bi?"


"Ada di kamar, Den."


"Baik, Bi. Makasih ya …"


Briel tersenyum ramah. Ia juga pamit pada Eli untuk pergi ke kamar orang tuanya. Tangga demi tangga ia naiki, hingga sampailah ia di depan kamar orang tuanya.

__ADS_1


Briel kembali menghela napas kasar. Ia menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Dengan perlahan, ia mulai mengetuk pintu kamar itu. Lalu memegang handle pintu untuk membuka pintu itu. Dari sana ia melihat Frans tengah bersender di punggung ranjang dan Tere tengah menyisir rambutnga di depan cermin rias.


Mereka memusatkan perhatiannya pada Briel.


"Ada apa, Briel?" tanya Frans.


"Briel ingin bicara sama kalian." Briel menatap Frans dan Tere bergantian.


Tere dan Frans saling melempar tatapan. Sangat jarang Briel meminta pada mereka untuk berbicara hal yang serius. Sikap Briel cukup aneh saat ini.


"Astaga … rasanya sangat mematikan. Lebih baik aku menaklukan hati clients 100 kali lipat dari pada harus berbicara pada mereka saat ini," batin Briel. Rasa gugup dan gelisah bercampur menjadi satu. Ketakutan juga turut menghantuinya. Bahkan sepatah kata pun terasa berat untuk ia ucapkan.


Tere dan Frans menatap Briel dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya. Mereka juga bingung kenapa sikap anaknya ini menjadi aneh. Sudah lama sekali ia tak melihat kegugupan dalam diri Briel. Terakhir kali ia melihat Briel gugup ketika Briel berusia belasan tahun, saat Briel membantu Frans pada meeting penting untuk pertama kalinya. Itu pun Briel mampu membawa dirinya agar kegugupannya itu tak terlihat oleh orang lain. Berbeda dengan kali ini. Mereka dapat melihat dengan jelas kegugupan itu. Bahkan kegelisahan nampak begitu jelas. Mereka menunggu Briel mengutarakan apa yang ingin Briel utarakan.


Briel berdeham ringan untuk menetralisir kegugupan yang melandanya. Ia menarik napas dalam dan …


"Batalkan penikahanku dengan Ayu, Missella Ayu Angkara!" ucap Briel dengan tegas.


🍂


Sementara itu, di luar, Gea menunggu Briel di dalam mobil, ditemani oleh Adam. Hanya keheningan yang menyapa mereka. Banyak pertanyaan yang ada dalam benak Gea.


"Apakah aku akan dikenalkan pada ibu dan ayah mertua? Jika iya, apakah aku akan diterima? Atau ada apa sebenarnya?" batin Gea. Pertanyaan itu selalu berputar–putar.


"Ah tanya sajalah pada Adam. Dari pada aku penasaran kan?" Gea bermonolog.


"Dam …" panggil Gea ragu.


"Iya Nona Bos?" Adam menatap Gea.


"Em .... Ada apa ini, Dam? Kenapa Bang Briel membawaku ke sini? Apakah aku akan dikenalkan pada mertua?" tanya Gea bertubi–tubi. Pertanyaannya membuat Adam kesulitan untuk menjawab.


"Tunggu saja, Nona Bos. Saya belum bisa memastikan. Biarlah Bos Briel sendiri yang mengatakannya pada Nona Bos."


Adam tak memiliki keberanian untuk mengucapkan hal yang trlah terjadi. Dia tak memiliki wewenang untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Gea. Hanya Briel yang memiliki wewenang itu.


Gea terdiam seribu kata. Ia hanya kembali menyenderkan tubuhkan pada punggung jok dengan mata yang memandang ke luar lewat kaca samping.


🍂


//


Happy reading guys,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia💕💕


__ADS_2